Kalau Ingin Pengasuhan di Era Gadget Berantakan, Lakukan Saja Kebiasaan Ini

Menjadi orang tua di era gadget memang tidak mudah. Namun, ada satu hal yang sering luput disadari: banyak masalah digital dalam keluarga bukan muncul tiba-tiba, melainkan tumbuh dari kebiasaan kecil yang dibiarkan terus-menerus. Karena itu, kadang cara paling jernih untuk memahami pengasuhan yang sehat justru dengan melihat kebalikannya. Kalau ingin rumah makin penuh konflik soal gadget, hubungan dengan anak makin jauh, dan teknologi lebih banyak membawa masalah daripada manfaat, ada beberapa pola yang sangat efektif untuk dipelihara. Sayangnya, pola-pola ini juga sangat umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari (Moreno et al., 2024; Tan et al., 2025).

1. Jadikan gadget sebagai pengasuh utama

Kalau ingin anak makin bergantung pada layar, cara paling cepat adalah menjadikan gadget sebagai penenang utama setiap kali anak bosan, rewel, sedih, atau diam sebentar saja. Dengan begitu, anak tidak sempat belajar menunggu, menenangkan diri, mengelola frustrasi, atau mencari cara lain untuk merasa nyaman. Lama-kelamaan, layar bukan lagi alat, tetapi tempat pelarian utama. Literatur terbaru menunjukkan bahwa penggunaan media dalam keluarga selalu berkaitan dengan rutinitas, regulasi emosi, dan fungsi keluarga secara keseluruhan. Saat media mulai mengambil alih fungsi pengasuhan dasar, keluarga kehilangan kesempatan untuk membangun kelekatan dan pembiasaan yang sehat (Moreno et al., 2024).

2. Jangan punya aturan yang jelas, atau ubah terus sesuka hati

Tidak ada yang lebih membingungkan bagi anak selain aturan yang berubah-ubah. Hari ini boleh main gawai dua jam, besok dimarahi karena satu jam, lusa dibiarkan semalaman karena orang tua sedang lelah. Kalau ingin anak sulit belajar batas, lakukan saja ini terus-menerus. Anak akan tumbuh tanpa struktur yang jelas, lalu orang tua pun akan merasa bahwa anak “susah diatur,” padahal rumah tidak pernah memberi pola yang konsisten. Pedoman Family Media Plan justru menekankan bahwa penggunaan media perlu diikat oleh ritme keluarga yang jelas agar tidak menggeser tidur, aktivitas fisik, belajar, dan waktu bersama (Moreno et al., 2024; World Health Organization, 2019).

3. Larang anak main HP, tapi orang tua sendiri terus menatap layar

Ini salah satu cara paling efektif untuk merusak kredibilitas orang tua. Mintalah anak berhenti bermain gadget, tetapi saat makan terus cek ponsel, saat anak bicara tetap scroll, dan saat waktu keluarga lebih sibuk dengan notifikasi daripada percakapan. Anak belajar jauh lebih cepat dari contoh daripada nasihat. Penelitian menunjukkan bahwa negative digital role modeling dan digital negligence berkaitan dengan hubungan orang tua-anak yang lebih lemah. Meta-analisis lain juga menemukan bahwa parental technoference berhubungan dengan problematic media use pada anak. Jadi, kalau ingin hubungan dengan anak makin renggang, mulailah dari layar di tangan sendiri (Toran et al., 2024; Zhang et al., 2025).

4. Ukur semuanya hanya dari durasi, dan jangan pernah peduli pada isi atau konteks

Kalau ingin pengasuhan digital terasa dangkal, fokuslah hanya pada satu pertanyaan: “Berapa jam anak main?” Lalu abaikan sama sekali apa yang anak lihat, dengan siapa ia berinteraksi, apakah ia menonton sendirian, apakah kontennya sesuai usia, dan bagaimana perasaannya setelah menggunakan media. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa konteks penggunaan layar sangat menentukan. Paparan konten yang tidak sesuai usia, televisi latar, dan penggunaan layar orang tua di tengah rutinitas anak berkaitan dengan hasil psikososial yang lebih buruk, sedangkan penggunaan bersama orang tua dapat berkaitan positif dengan hasil kognitif. Jadi, kalau ingin salah sasaran, cukup hitung jamnya dan berhenti di situ (Mallawaarachchi et al., 2024).

5. Jangan pernah ngobrol tentang dunia digital anak

Kalau ingin anak menyimpan semua masalah onlinenya sendiri, buatlah rumah terasa tidak aman untuk bercerita. Saat anak bicara tentang video yang ia tonton, game yang ia mainkan, atau interaksi yang membuatnya bingung, tanggapi dengan meremehkan, memotong, atau langsung menghakimi. Anak akan belajar bahwa dunia digital adalah wilayah yang tidak perlu dibagikan kepada orang tua. Padahal, pendampingan yang paling terkait dengan positive digital wellbeing adalah positive mediation, yakni saat orang tua aktif berdialog, menjelaskan, dan menemani anak memahami pengalaman digitalnya. Ketika percakapan hilang, yang tersisa hanya jarak dan tebakan (Tan et al., 2025).

6. Anggap semua anak sama, berapa pun usianya

Kalau ingin pendekatan di rumah terasa kaku dan tidak efektif, perlakukan saja anak usia 6 tahun, 11 tahun, dan 15 tahun dengan cara yang sama. Gunakan aturan seragam, tanpa melihat tahap perkembangan, kebutuhan emosi, dan kapasitas berpikir mereka. Padahal, dampak media digital pada anak dan remaja sangat dipengaruhi oleh usia, karakter psikologis, konteks sosial, dan jenis platform yang digunakan. Pada awal masa remaja, anak umumnya masih membutuhkan pemantauan aktif, percakapan yang teratur, dan latihan tanggung jawab secara bertahap. Ketika pendekatan tidak disesuaikan dengan usia, pengasuhan jadi terasa tidak nyambung: terlalu longgar untuk yang kecil, terlalu kaku untuk yang lebih besar (American Psychological Association, 2023).

7. Biarkan layar menggeser tidur, gerak, dan kehidupan nyata

Kalau ingin kesehatan anak perlahan terganggu tanpa terasa, biarkan gawai masuk ke semua sudut hari: dipakai sampai larut malam, terus menyala di kamar, dibawa saat makan, saat belajar, bahkan saat tubuh sebenarnya butuh bergerak dan istirahat. WHO menegaskan bahwa screen-based sedentary time tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan tidur dan aktivitas fisik, terutama pada anak usia dini. Ketika layar mulai menggusur kebutuhan dasar ini, masalahnya bukan lagi sekadar “kebanyakan gadget,” tetapi terganggunya fondasi perkembangan itu sendiri. Jadi, kalau ingin anak makin mudah lelah, sulit fokus, dan kurang seimbang, biarkan saja layar mengambil alih ritme hidupnya (World Health Organization, 2019).

8. Jangan ajarkan privasi dan keamanan digital

Kalau ingin anak rentan membagikan terlalu banyak hal tentang dirinya, jangan pernah ajari soal privasi. Biarkan ia mengunggah lokasi, foto, nama sekolah, rutinitas harian, dan berbicara dengan siapa saja tanpa bekal yang cukup. Anggap saja keamanan digital adalah urusan yang terlalu teknis untuk dibicarakan. Padahal, UNICEF menekankan bahwa pengasuhan digital juga mencakup perlindungan data, pengaturan privasi, dan kebiasaan aman saat online. Anak perlu dibimbing untuk tahu bahwa tidak semua hal layak dibagikan, tidak semua orang online bisa dipercaya, dan tidak semua aplikasi bekerja demi kepentingannya. Kalau ini diabaikan, risiko digital akan datang saat anak belum punya alat untuk mengenalinya (UNICEF, n.d.-a; UNICEF, n.d.-b).

9. Setiap kali anak bercerita soal masalah online, langsung marahi atau sita gawainya

Ini cara yang sangat ampuh agar anak tidak pernah jujur lagi. Begitu anak mengaku pernah melihat konten yang mengganggu, dihubungi orang asing, atau terlibat masalah di media sosial, langsung saja beri reaksi keras. Dengan begitu, ia belajar bahwa kejujuran akan dibalas hukuman, bukan perlindungan. Dalam jangka panjang, anak akan lebih memilih diam daripada meminta bantuan. Padahal, pengasuhan digital yang sehat justru membutuhkan ruang aman agar anak bisa datang lebih dulu kepada orang tuanya saat ada hal yang membingungkan atau menakutkan di dunia online (UNICEF, n.d.-a; American Psychological Association, 2023).

10. Anggap kelelahan orang tua bukan masalah, dan teruskan pengasuhan digital tanpa refleksi

Kalau ingin rumah makin mudah meledak karena urusan layar, jangan pernah evaluasi diri. Jangan tanya apakah orang tua sendiri sudah terlalu terdistraksi, terlalu lelah, atau terlalu reaktif. Jangan lihat apakah konflik tentang gadget sebenarnya dipicu oleh kurangnya ritme keluarga, kurangnya kehadiran emosional, atau aturan yang tidak realistis. Media dalam keluarga sangat terkait dengan stres, dukungan sosial, dan fungsi rumah tangga. Karena itu, pengasuhan digital yang buruk sering bukan cuma soal anak, tetapi juga soal rumah yang kehilangan arah dan orang tua yang kehabisan tenaga tanpa sempat menata ulang kebiasaannya (Moreno et al., 2024).

Jadi, apa yang sebenarnya perlu dihindari?

Dari semua pola di atas, ada satu benang merah yang paling jelas: pengasuhan digital mulai berantakan ketika orang tua melepaskan peran pendamping, lalu menggantinya dengan dua hal yang sama-sama keliru, yaitu kontrol yang kosong atau pembiaran yang tanpa arah. Ketika orang tua tidak hadir, tidak konsisten, tidak memberi contoh, dan tidak membuka percakapan, teknologi lebih mudah berubah dari alat bantu menjadi sumber masalah. Sebaliknya, ketika orang tua hadir dengan aturan yang masuk akal, teladan yang nyata, dan keterlibatan yang hangat, peluang teknologi menjadi sesuatu yang positif akan jauh lebih besar (Tan et al., 2025; Toran et al., 2024; Zhang et al., 2025).

Penutup

Kalau saat membaca artikel ini terasa bahwa beberapa pola di atas ada di rumah kita, itu bukan alasan untuk menyalahkan diri. Justru di situlah manfaat cara pandang terbalik ini: kita jadi lebih mudah mengenali kebiasaan mana yang diam-diam merusak, lalu mulai menghentikannya satu per satu. Kadang perubahan besar dalam pengasuhan digital tidak dimulai dari aturan yang rumit, tetapi dari keberanian untuk berhenti melakukan hal-hal yang jelas-jelas membuat hubungan dengan anak makin jauh.

Rujukan inti

American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence.

Mallawaarachchi, S., Burley, J., Mavilidi, M., Howard, S. J., Straker, L., Kervin, L., Staton, S., Hayes, N., Machell, A., Torjinski, M., Brady, B., Thomas, G., Horwood, S., White, S. L. J., Zabatiero, J., Rivera, C., & Cliff, D. (2024). Early childhood screen use contexts and cognitive and psychosocial outcomes: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics.

Moreno, M. A., Radesky, J., Walsh, M. C., & Tomopoulos, S. (2024). The family media plan. Pediatrics, 154(6), e2024067417.

Tan, C. Y., Xu, N., Liang, M., & Li, L. (2025). Meta-analysis of associations between digital parenting and children's digital wellbeing. Educational Research Review, 49, 100699.

Toran, M., Kulaksız, T., & Özden, B. (2024). The parent–child relationship in the digital era: The mediator role of digital parental awareness. Children and Youth Services Review, 161, 107617.

UNICEF. (n.d.-a). Digital parenting.

UNICEF. (n.d.-b). Online privacy checklist for parents.

World Health Organization. (2019). Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age.

Zhang, J., Zhang, Q., Xiao, B., Cao, Y., Chen, Y., & Li, Y. (2025). Parental technoference and child problematic media use: Meta-analysis. Journal of Medical Internet Research, 27, e57636.

Artikel Menarik Lainnya

Banyak persepsi, teori dan defini tentang kecerdasan. Kecerdasan dapat didefinisikan sebagai...

Komunikasi adalah suatu proses ketika seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan...

Berpikir atau mempertimbangkan sesuatu matang-matang adalah hal yang wajar. Namun, ada pula saat...

Jika harus memberikan sebuah materi presentasi kepada audien yang belum dikenal, bagi sebagian...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415