Konseling Untuk Pasangan Pranikah

Pasangan yang akan menikah membutuhkan suatu proses yang dilalui untuk mempersiapkan pernikahannya sebelum akhirnya benar-benar memutuskan untuk memasuki jenjang pernikahan. Proses ini diperlukan karena adanya kemungkinan terjadi perselisihan dalam hubungan pernikahan nantinya. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan pernikahan adalah dengan melakukan konseling pranikah. Program konseling pranikah dirancang untuk membuat pasangan calon pengantin meningkatkan pemahaman tentang perkawinan dan hubungan antara suami dan istri sebagai suatu yang serius. 

Konseling pranikah bukan hanya upaya pencegahan terhadap kemungkinan gangguan dalam pernikahan yang akan berlangsung nantinya, namun juga untuk meningkatkan kualitas hubungan suami-istri yang baik serta memberikan kesejahteraan, rasa aman dan kebahagiaan dalam perkawinan. 

Definisi Konseling Pranikah.

Menurut Murray dan Murray Jr (2004), konseling atau pendidikan pranikah adalah intervensi pada pasangan yang bersifat terapeutik, di mana intervensi ini dilakukan pada pasangan yang memiliki rencana untuk menikah. Konseling pranikah modern melibatkan komunikasi timbal balik antara konselor dan pasangan, dimana konselor mengajarkan secara verbal kemampuan berkomunikasi dan kemampuan sosial serta menjelaskan mengenai aspek-aspek fisik dan psikologis yang berpengaruh terhadap pernikahan kepada pasangan (Farnam, Pakgohar, dan Mir-mohammadali, 2011; Murray dan Murray Jr, 2004).

Konseling pranikah merupakan program yang rata-rata memiliki empat jam waktu kontak dengan masing-masing pasangan. Adapun menurut Farnam, Pakgohar, dan Mir-mohammadali (2011), biasanya konseling pranikah menghabiskan waktu maksimal satu jam dengan pembahasan mengenai perencanaan keluarga dan kesehatan individu. Lamanya waktu konseling dan program-program khusus dalam konseling pranikah memang dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan subjek dari konseling (Farnam, Pakqohar, dan Mir-mohammad ali, 2011: Murray dan Murray Jr, 2004).

Tujuan Konseling Pranikah.

Tujuan dari konseling pranikah secara general adalah untuk  memberi informasi pada pasangan tentang kehidupan pernikahan, untuk meningkatkan kemampuan komunikasi pada pasangan, mendorong pasangan mengembangkan kemampuan dalam mengatasi konflik, dan menyediakan fasilitas bagi pasangan agar bisa membicarakan tentang topik tertentu yang spesifik, seperti seks, dan keuangan (Murray dan Murray Jr, 2004). Tujuan utama dari konseling pranikah adalah untuk meningkatkan hubungan antara pasangan dan mengarahkan hubungan ini menuju pernikahan yang stabil dan tercapainya kepuasan pernikahan (Farnam, Pakqohar, dan Mir-mohammad Ali, 2011; Murray dan Murray Jr, 2004).

Manfaat Konseling Pranikah.

Intervensi dini pada pasangan memiliki manfaat karena risiko penceraian yang paling tinggi adalah ketika awal-awal tahun pernikahan (Kreider dan Fields dalam Murray dan Murray Jr, 2004). Selama ini, masyarakat juga tidak menyediakan fasilitas bagi pasangan berupa perlatihan formal untuk pernikahan dan kehidupan berkeluara (Murray dan Murray Jr, 2004). Intervensi berupa pendidikan dan konseling akan sangat membantu untuk memfasilitasi persiapan perubahan pada pasangan ketika telah memasuki jenjang berkeluarga, terutama pada pasangan yang memiliki sedikit pengetahuan dan pengalaman yang terbatas.

Tehknik Pelaksanaan Konseling Pranikah dengan pendekatan Solution-Focused (Murray dan Murray Jr,            2004).

Kerangka berpikir Solution-focused padahal yang digunakan  untuk melakukan konseling pranikah akan dapat membantu pasangan untuk menemukan dan mengembangkan visi untuk kehidupan pernikahan yang akan datang secara bersama-sama. Ketika mengembangkan visi ini, pasangan sekaligus dapat merencanakan perubahan perubahan apa yang akan dilakukan untuk dapat mencapai visi tersebut. Konselor dapat  mengadaptasi kerangka Solution-Focused ini ketopik-topik yang berhubungan dengan konseling pranikah, misalnya komunikasi dan resolusi konflik, keuangan, parenting, serta hubungan dengan keluarga pasangan.

Konseling pranikah dengan pendekatan solution-focused bertujuan membantu pasangan untuk mengaktivasi kemampuan dan potensi yang sudah mereka miliki, sehingga mereka dapat "bergerak maju" melalui visi masa depan yang dirancang bersama. Fungsi utama konselor adalah membantu masing-masing pasangan untuk mengungkapkan visi pribadinya dan menggabungkannya selama proses konseling. Konselor harus dapat menghargai masing-masing pasangan beserta keunikan, potensi, dan kekuatan mereka. Konselor pranikah dapat memantau orientasi masa depan dan berfokus pada sasaran serta tujuan dalam persiapan pernikahan. Tehknik-tehknik yang dapat dilakukan dalam konseling pranikah dengan pendekatan solution-focused adalah couple's resource map, solution-focused question (pertanyaan yang berfokus pada solusi), dan memberikan umpan balik.

Gottman (1994, dalam Burpee dan Langer, 2005) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi tingkat kepuasan pernikahan, antara lain: interaksi, kepribadian pasangan, perilaku pasangan, persamaan minat dan kecenderungan, serta tingkat konflik yang terjadi. Sementara, menurut Fowers dan Olson (1989) terdapat beberapa faktor dalam pernikahan yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan pernikahan. Faktor-faktor tersebut antara lain.

  1. CommunicationArea ini melihat bagaimana perasaan dan sikap individu dalam berkomunikasi dengan pasangannya dan berfokus pada rasa senang yang dialami pasangan suami istri dalam berkomunikasi dimana mereka saling berbagi dan menerima informasi tentang perasaan dan pikirannya.
  2. Leisure ActivityArea ini menilai pilihan kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang yang merefleksikan aktivitas yang dilakukan secara personal ataupun dilakukan bersama. Area ini juga melihat apakah suatu kegiatan dilakukan sebagai pilihan bersama.
  3. Religous Orientation  Area ini menilai makna keyakinan beragama serta bagaimana pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang memiliki keyakinan beragama, ia akan peduli terhadap hal-hal keagamaan dan mau beribadah.
  4. Conflict ResolutionArea ini berfokus untuk menilai persepsi suami istri terhadap suatu masalah, serta bagaimana pemecahannya. diperlukan adanya keterbukaan pasangan untuk mengenal dan memecahkan masalah yang muncul serta strategi yang digunakan untuk mendapatkan solusi terbaik.
  5. Financial ManagementArea ini menila sikap dan cara pasangan mengatur keuangan, bentuk-bentuk pengeluaran, dan pembuatan keputusan tentang keuangan.
  6. Sexual OrientationArea ini Berfokus pada refleksi sikap yang berhubungan dengan masalah seksual, tingkah laku seksual, serta kesetiaan terhadap pasangan. Penyesuaian seksual dapat menjadi penyebab pertengkaran dan ketidakbahagiaan apabila tidak tercapai kesepakatan yang memuaskan.
  7. Family And FriendsArea ini dapat melihat bagaimana perasaan dan perhatian pasangan terhadap hubungan kerabat, mertua, serta teman-teman untuk merefleksikan harapan dan perasaan senang menghabiskan waktu bersama keluarga besar dan teman-teman.
  8. Children And ParentingArea ini menilai sikap dan perasaan tentang memiliki dan membesarkan anak. Fokusnya adalah bagaimana orang tua menerapkan keputusan mengenai disiplin anak, cita-cita terhadap anak, serta bagaimana pengaruh kehadiran anak terhadap hubungan dengan pasangan.
  9. Personality IssuesArea ini melihat penyesuaian diri dengan tingkah laku, kebiasaan-kebiasaan, serta kepribadian pasangan. Biasanya sebelum menikah individu berusaha menjadi pribadi yang menarik untuk mencari perhatian pasangannya, bahkan dengan berpura pura menjadi orang lain. Setelah menikah, kepribadian yang sebenarnya akan muncul.
  10. Egalitarium Role Area ini menilai perasaan dan sikap individu terhadap peran yang beragam dalam kehidupan  pernikahan. Fokusnya adalah pada pekerjaan, tugas rumah tangga, peran sesuai jenis kelamin dan peran sebagai orang tua. Suatu peran harus mendatangkan kepuasan pribadi.

Dampak

Penelitian dari Burpee dan Langer (2005) menunjukan bahwa jika rendahnya kepuasan pernikahan tidak segera ditangani pada pasangan yang telah menikah, maka kemungkinan salah satu dari mereka atau bahkan keduanya akan mengalami kecemasan, depresi (Bouchard, 1999; Kosek, 1996), emosi yang tidak stabil, lemahnya kontrol impuls, perasaan inferior (Buss, 1991; Hjemboe dan Butcher, 1991; Kelly dan Conley, 1987), dan hipersensitif pada kritikan (Lester, 1989). Oleh karena itu, rendahnya kepuasan pernikahan pada pasangan yang telah menikah perlu segera ditangan.

KONSELING UNTUK ANAK

Anak akan terus bertumbuh sepanjang masa kehidupannya. Bermula dari kelahiran yang dilingkupi oleh keluarga, anak mulai membangun kemandirian ketika ia menginjak masa kanak-kanak dan mulai siap menjelajah dunia diluar keluarganya. pada usia sekolah (6-11 Tahun/pubertas), Erickson (1959) menyatakan bahwa anak mulai memandang dirinya sebagai apa yang dipelajarinya. Hal ini menjelaskan tugas perkembangan pada tahap ini, yaitu industry versus inferiority. Masuknya anak ke lingkungan sekolah adalah hal utama pada tahapan perkembangan ini. Disekolah, anak terpapar dengan tehknologi, buku, fasilitas belajar, kesenian, peta, mikroskop, film, komputer, dan lain sebagainya. Bagaimanapun belajar tidak hanya terjadi disekolah, tetapi juga dirumah dan ditempat temannya (Miller, 1993). 

Pada tahapan ini, nak perlu menghadapi kehidupan sosial yang baru dan tuntutan akademik disekolah. Keberhasilan membangun rasa kompetensi didalam diri anak, sedangkan kegagalan akan berujung pada rasa rendah diri. Sering kali, anak mengalami ketidakberhasilan dalam kehidupan sekolahnya bukan karena rendahnya skor IQ mereka, tetapi karena adanya gangguan psikologis yang mengakibatkan terganggunya pencapaian akademis tersebut. Dua gangguan yang biasanya didiagnosis pada anak adalah Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) dan Learning Disorder (LD). Anak-anak yang menunjukan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) biasanya memiliki gejala gejala inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menyebabkan kesulitan dalam aktivitas sehari hari (Mash dan Wolfe, 2010). 

Attention Devicit/Hyperactivity Disorder

ADHD atau gangguan atensi/hiperaktivitas menjelaskan anak-anak yang menunjukan gejala inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menyebabkan kesulitan dalam aktivitas sehari-hari {Mash dan Wolfe, 2010}. Gejala inatensi ditunjukan oleh kesulitan untuk fokus dan tingkah laku yang menunjukan kecerobohan, hiperaktivitas ditunjukan dengan gerakan-gerakan yang dilakukan secara konstan, sedangkan impilsivitas ditunjukan dengan bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Menurut Mash dan Wolfe, ADHD tidak memiliki gejala yang bisa dilihat melalui sinar X atau dites dilaboratorium, melainkan hanya dapat diidentifikasi melalui karakteristik perilaku yang berbeda pada setiap anak. 

Berdasarkan tipe gangguannya, ADHD dapat dibedakan menjadi:

  1. ADHD combined type: jika kriteria A1 dan A2 dipenuhi selama 6 bulan terakhir.
  2. ADHD predominantly inattentive type: jiks hanya kriteria A1 yang dipenuhi selama 6 bulan terakhir.
  3. ADHD predominately hyperactive-impulse type: jika hanya kriteria A1 yang dipenuhi selama 6 bulan terakhir

Kriteria Diagnostik

Berikut dibawah ini adalah kriteria diagnostik ADHD menurut American Psychiatric Association (APA, 2000). Seorang anak dapat didiagnosis mengidap ADHD jika memiliki tanda dan gejala yang dijelaskan pada poin1 dan poin 2.

(1) Enam (atau lebih) gejala inatensi muncul selama setidaknya enam bulan dan bersifat maladaptif serta tidak konsisten dengan tingkat perkembangan.

A. Sering gagal memberikan perhatian terhadap detail atau sering membuat kesalahan yang bersifat ceroboh  dalam pekerjaan sekolah atau pekerjaan lain.

B. Sering mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian dalam pengerjaan tugas atau permainan.

C. Sering tidak mendengarkan ketika diajak berbicara secara langsung.

D. Sering tidak mengijuti intstruksi dan gagal menyelesaikan pekerjaan (bukan karena oppositional behavior atau kesulitan dalam memahami instruksi).

E. Sering mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan tugas dan aktivitas. 

F. Sering menghindari, atau tidak menyukai, atau keberatan untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan usaha yang berkepanjangan (misalnya tugas sekolah atau pekerjaan rumah).

G. Sering menghilangkan benda yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas (misalnya mainan, tugas sekolah, pensil, buku, dan peralatan). 

H. Sering mudah terganggu oleh stimulus eksternal.

I. Sering pelupa dalam mengerjaka aktivitas sehari-hari.

(2) Enam (atau lebih) gejala dari hiperaktivitas-impulsivitas muncul selama setidaknya enam bulan dan bersifat  maladaptif serta, tidak sesuai dengan tingkat perkembangan.

ADHD bukanlah tanda bahwa seorang anak malas, tidak cerdas, atau memiliki perilaku yang "nakal". ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang memengaruhi kemampuan anak dalam memusatkan perhatian, mengendalikan perilaku, serta mengatur aktivitasnya. Oleh karena itu, anak dengan ADHD membutuhkan pemahaman, dukungan, dan penanganan yang tepat dari lingkungan sekitarnya.

Penting bagi orang tua, guru, maupun pengasuh untuk mengenali tanda-tanda ADHD sejak dini. Deteksi dan intervensi yang dilakukan sedini mungkin dapat membantu anak mengembangkan potensi yang dimilikinya, meningkatkan kemampuan akademik, keterampilan sosial, serta kepercayaan dirinya. Penanganan ADHD umumnya melibatkan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan tenaga profesional, seperti dokter spesialis anak, dokter spesialis kesehatan jiwa, psikolog, atau terapis sesuai dengan kebutuhan anak.

Perlu diingat bahwa tidak semua anak yang aktif, sulit diam, atau kurang fokus dapat langsung dikatakan mengalami ADHD. Gejala tersebut harus muncul secara konsisten, berlangsung dalam jangka waktu tertentu, terjadi di lebih dari satu lingkungan (misalnya di rumah dan di sekolah), serta menimbulkan gangguan yang bermakna terhadap fungsi akademik, sosial, maupun kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diagnosis ADHD hanya dapat ditegakkan melalui asesmen yang komprehensif oleh tenaga profesional yang kompeten.

Konseling psikologis menjadi salah satu bentuk intervensi yang dapat membantu anak mengenali emosi, meningkatkan kemampuan mengelola perilaku, mengembangkan keterampilan sosial, serta membangun strategi belajar yang lebih efektif. Selain itu, konseling juga memberikan pendampingan kepada orang tua dalam memahami kondisi anak dan menerapkan pola pengasuhan yang sesuai, sehingga tercipta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Dengan pemahaman yang tepat, dukungan yang konsisten, dan intervensi yang sesuai, anak dengan ADHD memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, belajar, serta meraih keberhasilan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Setiap anak adalah individu yang unik; mereka tidak membutuhkan penilaian, melainkan kesempatan untuk dipahami, didampingi, dan diberdayakan agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri.

Sejarah Berkembangnya Teori Optimisme

Konsep optimisme dan juga pesimisme telah dikenal sejak lama, yaitu sejak dimulainya periode filosofi modern pada abad ke-17 [Domino & Conway, 2001]. Berlanjut ke abad 19 hingga abad ke20an, hasil tulisan Rene Decartes [1596-1650] dan penelitian psikolog-filosof, seperti William James [1842-1910] secara bertahap berpindah fokus [James, 1902, dalam Heinonen, 2004]. Selama bertahun-tahun, sejumlah besar penelitian dan teori telah memusatkan perhatian pada cara cara orang menghadapi kesulitan di dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah penelitian tersebut menunjukan bahwa optimisme mungkin memiliki implikasi bagi cara-cara orang menghadapi berbagai tekanan hidup.

Kemungkinan ini diperoleh dari pertimbangkan model teoretis mengenai behavior self-regulation. Teori ini berasumsi bahwa harapan akan hasil yang sukses menyebabkan orang memperbarui usaha mereka untuk mencapai tujuan jika dan ketika terjadi gangguan atas aktivitas yang mengarah pada tujuan. Selama tiga puluh tahun setelahnya, Scheier dan Carver [1985] menjadi pionir dalam mengembangkan penelitian mengenai ekspektasi atau pengharapan yang bersifat umum [generalized outcome expectancies] dan pengaruh penelitian Seligman [1975] mengenai learened helplessness.

Pada tahun 1985, Scheier dan Carver juga menjelasakan optimisme melalui expectancy-value model. Ada dua konsep model ini, yaitu value [ nilai ] dan expectancy [pengharapan]. expectancy-value model berakar dari pandangan bahwa tingkah laku manusia berhubungan dengan pencapaian suatu tujuan [Carver & Sheier, dalam Carver, 2007]. Tujuan yang dimaksudkan merupakan suatu tindakan atau nilai yang mungkin dilihat individu sebagai sesuatu yang diinginkan [desirable] ataupun sebagai sesuatu yang tidak diinginkan [undesirable]. Individu cenderung untuk menyesuaikan tindakannya untuk dapat mencapai apa yang diinginkan dan mencoba untuk menjauhkan diri dari apa yang tidak diingingkan. berdasarkan konsep ini, jika tidak ada tujuan yang memiliki nilai [value goal] bagi diri individu, maka tidak akan ada tindakan yang muncul, Konsep kedua dari expectancy-value model adalah pengharapan atau keyakinan [expectancy] [Carver, 2007].

Penelitian Optimisme Pada Pasien Dengan Rehabilitasi 

Diindonesia pernah dilakukan penelitian mengenai optimisme dan pasien dengan rehabilitasi medik. Penelitian tersebut penelitian tersebut dilakukan oleh Isma [2013] pada 66 partisipan orang indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan optimisme sebagai variabel 1 dan subjective well-being sebagai variabel 2. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian berdasarkan pengukuran variabel pada partisipan untuk mendapatkan skor yang biasanya nilai numerik dianalisis secara statistikal sehingga dapat memperoleh kesimpulan dan interpretasi [Gravetter & Forzano, 2009]. 

Dalam penelitian ini digunakan strategi penelitian korelasional. Strategi korelasional ini sendiri merupakan tehknik untuk menilai hubungan antara dua variabel yang ada secara alami atau natural pada setiap partisipan dimana tidak ada upaya untuk mengontrol atau memanipulasi variabel yang diteliti [Gravetter & Wallnau, 2007] Desain penelitian ini adalah field study, yakni desain penelitian non-eksperimental dimana variabel penelitian tidak dimanipulasi dan tidak dikontrol. Variabel optimisme dan subjective well-being pada subjek penelitian ini bersifat terberi, sehingga peneliti tidak dapat melakukan, manipulasi dalam penelitian ini.

Menurut Kerlinger dan Lee [2000], desain penelitian seperti ini tepat digunakan pada penelitian yang bertujuan untuk melihat hubungan dan interaksi variabel-variabel psikologis, sosiologis, dan pendidikan dalam struktur sosial. Proses pengambilan sampel dalam penelitian ini akan menggunakan tehknik nonprobability sampling,yaitu ketika peneliti tidak mengetahui dengan pasti ukuran populasi atau anggota dalam suatu populasi. Metode nonprobability sampling yang akan diaplikasikan adalah convenience sampling, Dimana kelompok subjek dinilai dapat memberikan kemudahan dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan penelitian [Kumar, 1996].

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Optimisme

 Optimisme merupakan Trait, akan tetapi terdapat beberapa penelitian yang menunjukan bahwa optimisme dapat pula dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal [Carver, Scheier, dan Segerstorm, 2010]

1. Pengalaman 

Optimisme dan pesimisme dapat dipelajari dari pengalaman diri, misalnya ketika mengalami keberhasilan ataupun kegagalan yang pernah dialami sebelumnya [Scheier dan Carver, 1993]. Penelitian yang dilakukan oleh Ek, Remes, dan Sovio secara longitudinal menemukan bahwa dalam proses pembentukannya, optimisme memiliki beberapa prediktor kuat yang memengaruhi level optimisme pada diri seseorang selama proses perkembangannya. Ditemukan bahwa kebutuhan yang diperlukan anak, status sosial ekonomi ayah, prestasi sekolah yang didapatkan, pendidikan kejuruan, dan riwayat kerja dapat memprediksi level optimisme pada individu saat dirinya berusia 31 tahun. Faktor Faktor tersebut yang berkembang seiring masa perkembangan individu, nantinya menjadi prediktor yang kuat terhadap tinggi atau rendahnya level optimisme pada diri seseorang.    

2. Genetis         

Faktor genetis merupakan saalah satu faktor yang memengaruhi tingkat optimisme pada diri seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Plomin, Scheier, Bergeman, Pedersen, Nesselroade, Mc Cleam [1992] pada 500 pasangan kembar paruh baya yang berjenis kelamin sama diswedia, ditemukan bahwa heritabilitas mampu memprediksi tingkat optimisme dan pesimisme individu sebesar 25%. Hal ini terbukti pada partisipan penelitian yang sebagian dibesarkan bersama dan sebagian lainnya dibesarkan secara terpisah sejak kecil walaupun kembar.Ditemukan bahwa pengaruh genetik menyumbang sebesar 14-20% pada setiap variabelnya yaitu optimisme, kesehatan mental, dan kesehatan diri [self-related health] [Mosing, Zeitsch, Shekar, Wright, & Martin, 2009].

3.  Status Sosial Ekonomi

Status sosial ekonomi juga memiliki peran yang penting dalam perkembangan optimisme dan pesimisme pada diri individu. Berdasarkan penelitian folow up 21 tahun, pada 694 orang dewasa yang berusia 24 dan 27 tahun dengan mengaitkan Status Sosial Ekonomi [SES] yang diukur secara bersamaan, yang sebelumnya telah dilakukan pengambilan data pada saat partisipan berusia 3 dan 6 tahun menyatakan bahwa optimisme dan pesimisme terbentuk dengan adanya pengaruh dari [SES] keluarga partisipan saat masih kecil [Heninonen et al., 2006]. 

4. Ras Atau Budaya

Individu yang berada pada kelompok ras minoritas biasanya memiliki tekanan yang lebih  besar dan cenderung negatif dalam menjalankan kehidupan sehari-hari diantara kelompok ras mayoritas. Pada suatu penelitian, diketahui bahwa hasil perhitungan internal consistensy alat ukur LOT-R tidak ditemukan pada ras african american dan hispanic [ras minoritas]  dan juga pada individu yang memiliki pendidikan yang rendah, oleh karena itu dapat disimpulkan optimisme kurang dimiliki pada kelompok ras minoritas dan pendidikan rendah [Hirsch, Britton, & Conner, 2010.

5. Sumber Daya Sosial

Optimisme dapat dipengaruhi lingkungan yang ada disekitar individu atau dapat dikategorikan sebagai faktor eksternal. Beberapa penelitian menemukan bahwa terdapat beberapa faktor eksternal yang dapat memengaruhi tingkat optimisme individu seperti orang tua [Seligman et al, 1984], Guru [Heyman et al., 1992], juga media [Peterson & Steen, 2009 dalam Forgeard & Seligman, 2012]

6. Orangtua dan pola pengasuhannya

Anak anak mungkin saja mendapatkan kecenderungan optimisme atau pesimisme dari kedua orang tuanya [Scheier & Carver, Dalam Heinonen, 2004]. Orang tua dapat memberikan pengaruh terhadapap anaknya untuk menjadi optimis atau pesimis baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara tidak langsung misalnya saja dengan memberi model atau contoh kepada anak mengenai cara menghadapi keadaan yang sulit. Orang tua juga mungkin saja memberikan pengaruh optimisme secara langsung pada anak dengan cara memberitahu anak bagaimana cara menyelesaikan masalah. Orangtua yang secara langsung mengajarkan keterampilan dalam menghadapi masalah pada anak akan menghasikan anak yang memiliki kemampuan penyelesaian masalah lebih baik dibandingkan yang tidak diajarkan orang tuanya. Selain itu, pola pengasuhan juga memberikan pengaruh terhadap tingkat optimisme anak [Scheier & Carver, Dalam Heinonen, 2004].

Dan masih banyak lagi faktor faktor yang memengaruhi optimisme juga pesimisme seseorang seperti yang ada dibeberapa poin diatas, baca lebih lengkap tentang poin selanjutnya dalam buku [Optimisme:Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia]. berikut poin lanjutan yang ada dalam buku itu>Self-Esteem, Self-Efficacy, Tempramen, Media, Dukungan Sosial, Jenis Kelamin, Usia. 

                                                                                                     

Masalah Akibat Kurang Optimis (Pesimis) pada Mahasiswa

Optimisme merupakan salah satu aspek psikologis yang berperan penting dalam menunjang keberhasilan mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademik. Sebaliknya, sikap pesimis atau kurang optimis dapat menimbulkan berbagai permasalahan, baik dalam proses belajar maupun dalam pencapaian prestasi. Mahasiswa yang memiliki pandangan negatif terhadap kemampuan dirinya cenderung lebih mudah merasa takut gagal, mengalami kecemasan, dan kehilangan keyakinan untuk menghadapi berbagai tuntutan akademik. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi perilaku serta hasil belajar yang diperoleh.

Salah satu dampak dari kurangnya optimisme adalah meningkatnya kecenderungan melakukan kecurangan akademik, seperti menyontek. Penelitian yang dilakukan oleh Newstead, Franklyn-Stokes, dan Armstead terhadap 943 mahasiswa menunjukkan bahwa salah satu alasan utama mahasiswa melakukan tindakan menyontek adalah karena takut mengalami kegagalan (Newstead, Franklyn-Stokes, & Armstead, 1996). Temuan tersebut didukung oleh penelitian Michaels dan Miethe (1989), Calabrese dan Cochran (1990), serta Anderman dan Murdock (2007) yang menyatakan bahwa kecemasan terhadap kegagalan merupakan salah satu faktor yang mendorong seseorang melakukan tindakan menyontek. Kecemasan yang berlebihan menyebabkan individu tidak mampu mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya sehingga memilih jalan pintas untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Selain itu, strategi menghadapi masalah (coping strategy) yang kurang tepat dan tingkat kecemasan yang tinggi juga secara konsisten berkaitan dengan perilaku menyontek (Feller, 2009).

Kurangnya optimisme tidak hanya berdampak pada perilaku akademik, tetapi juga memengaruhi prestasi belajar mahasiswa. Feller (2009) menemukan adanya hubungan yang signifikan antara harapan (hope) dengan perilaku menyontek. Individu yang memiliki harapan dan optimisme yang lebih baik cenderung lebih jarang terlibat dalam tindakan tersebut. Dalam bidang akademik, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki harapan yang tinggi umumnya mampu menunjukkan performa akademik yang lebih baik, memperoleh skor yang lebih tinggi, memiliki tingkat drop-out yang lebih rendah, serta tingkat kelulusan yang lebih tinggi (Snyder et al., 1997; Snyder et al., 2002). Meskipun demikian, hasil wawancara peneliti menunjukkan bahwa optimisme dan keyakinan terhadap kemampuan diri belum tentu selalu menghasilkan performa yang baik karena terdapat berbagai faktor lain yang turut memengaruhi keberhasilan seseorang.

Optimisme pada dasarnya berkaitan erat dengan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mencapai tujuan. Semakin positif seseorang memandang masa depannya, semakin besar pula dorongan untuk terus berusaha meskipun menghadapi berbagai hambatan. Sebaliknya, individu yang pesimis cenderung dipenuhi keraguan sehingga lebih mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Carver dan Scheier (2005) menjelaskan bahwa optimisme dan pesimisme tidak dapat dipisahkan dari ekspektasi individu terhadap masa depannya. Melalui expectancy-value model of motivations, dijelaskan bahwa perilaku manusia diarahkan pada pencapaian tujuan (goal). Ekspektasi berupa keyakinan atau keraguan terhadap keberhasilan mencapai tujuan akan menentukan seberapa besar usaha yang dilakukan individu. Seseorang yang memiliki keyakinan kuat akan tetap berusaha menghadapi berbagai rintangan, sedangkan individu yang dipenuhi keraguan akan mengalami hambatan dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan (Carver & Scheier, 2005).

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurangnya optimisme atau sikap pesimis memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan akademik mahasiswa. Sikap pesimis meningkatkan rasa takut gagal, memicu kecemasan, serta mendorong munculnya perilaku tidak jujur seperti menyontek. Sebaliknya, optimisme membantu mahasiswa memiliki harapan yang lebih baik, mempertahankan usaha dalam menghadapi tantangan, meningkatkan prestasi akademik, serta memperbesar peluang untuk mencapai keberhasilan. Oleh karena itu, membangun optimisme dan keyakinan terhadap kemampuan diri menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung keberhasilan mahasiswa selama menempuh pendidikan.

 

 

Subcategories

Artikel Menarik Lainnya

Seorang profesional dalam bidang kesehatan jiwa atau ilmu psikologi memerlukan sebuah acuan buku...

Pengurangan Tingkat Stress Dengan Optimisme Dan Perceived Social support Pada Mahasiswa Bidikmisi...

Era digital membuat kehidupan anak hari ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Belajar,...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415