KONSELING UNTUK ANAK
Anak akan terus bertumbuh sepanjang masa kehidupannya. Bermula dari kelahiran yang dilingkupi oleh keluarga, anak mulai membangun kemandirian ketika ia menginjak masa kanak-kanak dan mulai siap menjelajah dunia diluar keluarganya. pada usia sekolah (6-11 Tahun/pubertas), Erickson (1959) menyatakan bahwa anak mulai memandang dirinya sebagai apa yang dipelajarinya. Hal ini menjelaskan tugas perkembangan pada tahap ini, yaitu industry versus inferiority. Masuknya anak ke lingkungan sekolah adalah hal utama pada tahapan perkembangan ini. Disekolah, anak terpapar dengan tehknologi, buku, fasilitas belajar, kesenian, peta, mikroskop, film, komputer, dan lain sebagainya. Bagaimanapun belajar tidak hanya terjadi disekolah, tetapi juga dirumah dan ditempat temannya (Miller, 1993).

Pada tahapan ini, nak perlu menghadapi kehidupan sosial yang baru dan tuntutan akademik disekolah. Keberhasilan membangun rasa kompetensi didalam diri anak, sedangkan kegagalan akan berujung pada rasa rendah diri. Sering kali, anak mengalami ketidakberhasilan dalam kehidupan sekolahnya bukan karena rendahnya skor IQ mereka, tetapi karena adanya gangguan psikologis yang mengakibatkan terganggunya pencapaian akademis tersebut. Dua gangguan yang biasanya didiagnosis pada anak adalah Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) dan Learning Disorder (LD). Anak-anak yang menunjukan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) biasanya memiliki gejala gejala inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menyebabkan kesulitan dalam aktivitas sehari hari (Mash dan Wolfe, 2010).
Attention Devicit/Hyperactivity Disorder
ADHD atau gangguan atensi/hiperaktivitas menjelaskan anak-anak yang menunjukan gejala inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menyebabkan kesulitan dalam aktivitas sehari-hari {Mash dan Wolfe, 2010}. Gejala inatensi ditunjukan oleh kesulitan untuk fokus dan tingkah laku yang menunjukan kecerobohan, hiperaktivitas ditunjukan dengan gerakan-gerakan yang dilakukan secara konstan, sedangkan impilsivitas ditunjukan dengan bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Menurut Mash dan Wolfe, ADHD tidak memiliki gejala yang bisa dilihat melalui sinar X atau dites dilaboratorium, melainkan hanya dapat diidentifikasi melalui karakteristik perilaku yang berbeda pada setiap anak.
Berdasarkan tipe gangguannya, ADHD dapat dibedakan menjadi:
- ADHD combined type: jika kriteria A1 dan A2 dipenuhi selama 6 bulan terakhir.
- ADHD predominantly inattentive type: jiks hanya kriteria A1 yang dipenuhi selama 6 bulan terakhir.
- ADHD predominately hyperactive-impulse type: jika hanya kriteria A1 yang dipenuhi selama 6 bulan terakhir
Kriteria Diagnostik
Berikut dibawah ini adalah kriteria diagnostik ADHD menurut American Psychiatric Association (APA, 2000). Seorang anak dapat didiagnosis mengidap ADHD jika memiliki tanda dan gejala yang dijelaskan pada poin1 dan poin 2.
(1) Enam (atau lebih) gejala inatensi muncul selama setidaknya enam bulan dan bersifat maladaptif serta tidak konsisten dengan tingkat perkembangan.
A. Sering gagal memberikan perhatian terhadap detail atau sering membuat kesalahan yang bersifat ceroboh dalam pekerjaan sekolah atau pekerjaan lain.
B. Sering mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian dalam pengerjaan tugas atau permainan.
C. Sering tidak mendengarkan ketika diajak berbicara secara langsung.
D. Sering tidak mengijuti intstruksi dan gagal menyelesaikan pekerjaan (bukan karena oppositional behavior atau kesulitan dalam memahami instruksi).
E. Sering mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan tugas dan aktivitas.
F. Sering menghindari, atau tidak menyukai, atau keberatan untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan usaha yang berkepanjangan (misalnya tugas sekolah atau pekerjaan rumah).
G. Sering menghilangkan benda yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas (misalnya mainan, tugas sekolah, pensil, buku, dan peralatan).
H. Sering mudah terganggu oleh stimulus eksternal.
I. Sering pelupa dalam mengerjaka aktivitas sehari-hari.
(2) Enam (atau lebih) gejala dari hiperaktivitas-impulsivitas muncul selama setidaknya enam bulan dan bersifat maladaptif serta, tidak sesuai dengan tingkat perkembangan.
ADHD bukanlah tanda bahwa seorang anak malas, tidak cerdas, atau memiliki perilaku yang "nakal". ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang memengaruhi kemampuan anak dalam memusatkan perhatian, mengendalikan perilaku, serta mengatur aktivitasnya. Oleh karena itu, anak dengan ADHD membutuhkan pemahaman, dukungan, dan penanganan yang tepat dari lingkungan sekitarnya.
Penting bagi orang tua, guru, maupun pengasuh untuk mengenali tanda-tanda ADHD sejak dini. Deteksi dan intervensi yang dilakukan sedini mungkin dapat membantu anak mengembangkan potensi yang dimilikinya, meningkatkan kemampuan akademik, keterampilan sosial, serta kepercayaan dirinya. Penanganan ADHD umumnya melibatkan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan tenaga profesional, seperti dokter spesialis anak, dokter spesialis kesehatan jiwa, psikolog, atau terapis sesuai dengan kebutuhan anak.
Perlu diingat bahwa tidak semua anak yang aktif, sulit diam, atau kurang fokus dapat langsung dikatakan mengalami ADHD. Gejala tersebut harus muncul secara konsisten, berlangsung dalam jangka waktu tertentu, terjadi di lebih dari satu lingkungan (misalnya di rumah dan di sekolah), serta menimbulkan gangguan yang bermakna terhadap fungsi akademik, sosial, maupun kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diagnosis ADHD hanya dapat ditegakkan melalui asesmen yang komprehensif oleh tenaga profesional yang kompeten.
Konseling psikologis menjadi salah satu bentuk intervensi yang dapat membantu anak mengenali emosi, meningkatkan kemampuan mengelola perilaku, mengembangkan keterampilan sosial, serta membangun strategi belajar yang lebih efektif. Selain itu, konseling juga memberikan pendampingan kepada orang tua dalam memahami kondisi anak dan menerapkan pola pengasuhan yang sesuai, sehingga tercipta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Dengan pemahaman yang tepat, dukungan yang konsisten, dan intervensi yang sesuai, anak dengan ADHD memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, belajar, serta meraih keberhasilan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Setiap anak adalah individu yang unik; mereka tidak membutuhkan penilaian, melainkan kesempatan untuk dipahami, didampingi, dan diberdayakan agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri.
