Pengurangan Tingkat Stress Dengan Optimisme Dan Perceived Social support Pada Mahasiswa Bidikmisi Di UI

Mahasiswa, dalam hal ini khususnya mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi di UI, dengan berbagai tuntutan dan masalah yang dihadapinya, dituntut untuk selalu memiliki keyakinan dalam menghadapi segal a rintangan yang sedang dihadapinya tersebut. Mereka harus tetap yakin bahwa hasil yang baik akan datang kepada mereka jika mereka tetap berusaha. Dengan kata lain, mereka harus selalu optimis. Optimisme berkaitan dengan tingkat stress, neurotis, kecemasan, dan tingkat ketidakberdayaan yang rendah. Optimisme juga dapat mencegah munculnya stress, meningkatkan well-being dan berkaitan dengan penggunaan strategi coping yang efektif [Srivastava and angelo, 2009].

Perceived social support dengan optimisme saling berkaitan, pada beberapa penelitian sebelumnya, telah terbukti bahwa optimisme berhubungan dengan perceived social support [park and folkman, dalam brisette, Scheier and Carver, 2002].

Optimisme merupakan suatu keyakinan akan munculnya hal baik secara umum, sementara perceived social support merupakan sesuatu yang lebih baik spesifik dari optimisme, yaitu keyakinan akan adanya hal baik [dalam hal ini berupa social support] didalam konteks yang lebih spesifik [hubungan dekat individu dengan lingkungan sosialnya], sehingga hal ini dapat menjelaskan mengapa optimisme dan perceived social support berhubungan. Peneliti memiliki dugaan bahwa hubungan antara optimidme dan perceived social support dikarenakan ketika individu yakin akan datangnya hal ba

ik dan memiliki pandangan positif dalam menghadapi segala kesulitan yang dihadapinya, ia juga akan merasa yakin bahwa ada orang lain yang dapat memberikan dukungan maupun bantuan keadaannya disaat ia membutuhkannya [Srivasta dan angelo, 2009]

Perceived  social support juga sudah terbukti dapat mengurangi tingkat stress yang dirasakan oleh individu [Asante, dalam Awang, Kutty and Ahmad, 2014]. Dan individu juga dapat merasakan bahwa keadaan yang sebelumnya dapat membuat stress, menjadi tidak lagi membuat stres [Sricastava dan angelo, 2009].

Berdasarkan beberapa penjabaran tentang keterikatan antara optimisme dan perceived social support tersebut, peneliti akhirnya memiliki dugaan bahwa hubungan antara optimisme dan perceived social support juga dapat ditemukan pada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi di UI.

Sebuah Tinjauan Neurobiologis, Sumbu Usus-Otak, dan Manifestasi Somatik Terhadap Tekanan Psikologis Kronis

Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana secara sadar Anda tahu bahwa Anda harus tetap tenang, namun tubuh Anda justru menunjukkan reaksi yang bertolak belakang? Anda mungkin sedang menghadapi rapat penting dengan jajaran direksi, memasuki lingkungan kerja yang dinilai toksik, atau berhadapan dengan seseorang yang memicu memori traumatis masa lalu. Pikiran logis Anda berkali-kali membisikkan kata-kata penenang, menegaskan bahwa semua akan baik-baik saja dan ini hanyalah urusan sepele yang bisa dilewati dengan mudah. Namun, dalam hitungan detik, perut Anda mulai bergejolak hebat, rasa mual menyerang tanpa ampun, dan kepala Anda dihantam oleh nyeri migrain yang berdenyut hebat. Sensasi fisik ini begitu nyata, begitu melumpuhkan, seolah-olah tubuh Anda sedang mengalami kudeta terhadap pikiran sadar Anda sendiri.

Fenomena ini sering kali membuat seseorang merasa frustrasi dan terasing dari dirinya sendiri. Ada perasaan bersalah atau anggapan bahwa mereka memiliki kelemahan mental karena tidak mampu membendung "pemberontakan" fisik tersebut. Namun, dari sudut pandang sains dan kedokteran modern, kondisi ini bukanlah tanda kelemahan karakter atau kegagalan emosional. Sebaliknya, ini adalah manifestasi nyata dari mekanisme biologis dan neurofisiologis yang sangat kompleks, yang bekerja di bawah tingkat kesadaran kita. Tubuh memiliki sistem pertahanan purba yang dirancang untuk merespons ancaman, dan dalam kondisi tertentu, sistem ini dapat berjalan secara otomatis tanpa memedulikan apakah pikiran logis kita setuju atau tidak.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa tubuh kita bisa melakukan penolakan radikal terhadap persepsi sadar kita, bagaimana sumbu usus-otak (gut-brain axis) memicu respons mual yang intens, serta bagaimana sistem saraf mengaktifkan jalur nyeri kronis seperti migrain akut saat menghadapi situasi tertentu. Melalui penelusuran berbagai literatur ilmiah dan jurnal kedokteran terkemuka, kita akan melihat bahwa apa yang kita sebut sebagai "stres pikiran" sebenarnya adalah sebuah proses sistemik yang melibatkan seluruh jaringan biologis manusia dari otak hingga ke ujung saluran pencernaan.

1. Disosiasi Kognitif-Somatik: Ketika Saraf Otonom Mengabaikan Pikiran Logis

Untuk memahami mengapa tubuh dapat bertindak di luar kendali kemauan kita, kita harus melihat bagaimana otak memproses informasi dan stimulus lingkungan. Otak manusia tidak bekerja sebagai satu kesatuan yang monolitik, melainkan terdiri dari berbagai wilayah dengan fungsi yang terkadang saling tumpang tindih atau bahkan bertentangan. Ketika kita menghadapi suatu situasi, otak memproses informasi tersebut melalui dua jalur utama: jalur atas (top-down) yang melibatkan korteks prefrontal untuk berpikir logis dan analitis, serta jalur bawah (bottom-up) yang digerakkan oleh sistem limbik, khususnya amigdala, yang bertindak sebagai detektor ancaman otomatis (Sapolsky, 2017).

Sering kali, terjadi ketidaksesuaian yang sangat tajam antara apa yang kita pikirkan dengan apa yang sistem saraf kita rasakan. Fenomena ini dalam psikologi klinis dan neurosains dikenal sebagai disosiasi kognitif-somatik. Meskipun korteks prefrontal Anda mencoba meyakinkan bahwa situasi saat ini aman, terkendali, dan tidak berbahaya, amigdala mungkin telah mendeteksi "sinyal bahaya" halus yang tidak disadari oleh pikiran logis Anda. Sinyal bahaya ini sering kali didasarkan pada pola trauma, pengkondisian masa lalu, atau asosiasi bawah sadar terhadap kegagalan dan ancaman sosial (Van der Kolk, 2014).

Ketika amigdala mengidentifikasi situasi tersebut sebagai ancaman, ia tidak menunggu izin dari pikiran sadar Anda untuk bertindak. Dengan kecepatan hitungan milidetik, amigdala langsung mengaktifkan Sistem Saraf Otonom (SSO), khususnya Sistem Saraf Simpatis, melalui sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) (Porges, 2011). Respons ini dikenal luas sebagai reaksi fight-or-flight (lawan atau lari). Dalam kondisi ini, tubuh secara instan dibanjiri oleh gelombang hormon stres, termasuk adrenalin, noradrenalin, dan kortisol, yang dilepaskan secara masif ke dalam sirkulasi darah (McEwen, 2007). Hormon-hormon inilah yang kemudian mendikte perubahan drastis pada organ-organ tubuh, mengabaikan segala bentuk instruksi penenangan yang coba dikirimkan oleh pikiran logis Anda.

2. Sumbu Usus-Otak (Gut-Brain Axis): Mengapa Stres Langsung Berujung pada Rasa Mual

Salah satu manifestasi fisik yang paling cepat, intens, dan melumpuhkan saat seseorang menghadapi situasi penuh tekanan adalah munculnya rasa mual yang hebat di ulu hati, yang dalam beberapa kasus ekstrem dapat berujung pada muntah mendadak. Mengapa tekanan yang tampaknya hanya bersifat psikologis atau berada di dalam kepala bisa berdampak begitu destruktif pada sistem pencernaan kita? Jawabannya terletak pada jaringan komunikasi dua arah yang sangat canggih yang dikenal sebagai Sumbu Usus-Otak (Gut-Brain Axis).

Saluran pencernaan manusia bukanlah sekadar organ pasif yang bertugas mencerna makanan. Usus kita sering kali dijuluki oleh para ilmuwan sebagai "otak kedua" karena memiliki sistem sarafnya sendiri yang sangat padat dan mandiri, yaitu Sistem Saraf Enterik (SSE). SSE ini terdiri dari ratusan juta neuron yang membungkus seluruh dinding saluran pencernaan dari esofagus hingga anus (Mayer, 2011). Otak di kepala dan otak di perut ini terus-menerus mengobrol satu sama lain setiap detik tanpa kita sadari. Jalur komunikasi utama yang menghubungkan keduanya adalah saraf vagus (vagus nerve), sepasang saraf kranial panjang yang bertindak bagai jalan tol informasi dua arah super cepat (Cryan & Dinan, 2012).

Ketika seseorang memasuki situasi yang memicu kecemasan, ketakutan, atau tekanan mental akut, otak pusat mengirimkan sinyal darurat berkecepatan tinggi ke bawah melalui saraf vagus menuju sistem saraf enterik di usus. Sinyal bahaya ini secara drastis mengubah motilitas atau gerakan alami lambung dan usus (Foster & Neufeld, 2013). Dalam kondisi normal, otot-otot lambung berkontraksi dengan ritme yang teratur untuk menggiling makanan. Namun, begitu sinyal stres tiba, ritme ini terganggu sepenuhnya. Lambung dapat mengalami pengosongan yang tertunda (delayed gastric emptying) atau sebaliknya, usus mengalami kejang kontraksi yang tidak teratur (Stasi dkk., 2012).

Di samping perubahan gerakan otot, aspek biokimia usus juga mengalami guncangan besar. Sangat menarik untuk mengetahui bahwa sekitar 95% dari total serotonin di dalam tubuh manusia—neurotransmiter yang selama ini dikenal luas sebagai pengatur suasana hati dan emosi—sebenarnya diproduksi dan disimpan di dalam saluran pencernaan, bukan di otak (Gershon, 2004). Ketika hormon stres seperti kortisol dan faktor pelepas korticotropin (CRF) dilepaskan akibat situasi menekan, hal ini memicu lonjakan pelepasan serotonin secara mendadak di dalam usus. Pelepasan serotonin yang berlebihan secara lokal ini berikatan dengan reseptor saraf spesifik di usus, yang secara langsung merangsang sensasi mual, kram, dan rasa tidak nyaman yang amat sangat (Taché dkk., 2001). Kondisi lambung yang berhenti mencerna secara mendadak, dipadu dengan peningkatan sensitivitas saraf viseral terhadap rasa sakit (hipersensitivitas viseral), menciptakan respons somatik mual yang begitu kuat sehingga tidak mungkin dihentikan hanya dengan kekuatan tekad kognitif.

3. Badai di Dalam Kepala: Patofisiologi Migrain Akut Akibat Tekanan Situasional

Selain penolakan radikal yang terjadi di perut, bagian lain dari pemberontakan tubuh yang tidak kalah menyiksa adalah munculnya sakit kepala ketegangan yang parah atau serangan migrain akut. Banyak orang awam keliru menganggap bahwa migrain hanyalah sakit kepala biasa yang timbul akibat kelelahan fisik atau kurang tidur. Namun, dalam dunia kedokteran, migrain diklasifikasikan sebagai gangguan neurovaskular kronis yang sangat kompleks, yang melibatkan hipersensitivitas sistem saraf pusat terhadap perubahan lingkungan dan emosional (Goadsby dkk., 2017).

Ketika Anda dipaksa menghadapi situasi yang secara emosional sangat menekan, fluktuasi hormon stres yang cepat di dalam sirkulasi darah bertindak sebagai pemicu utama bagi aktivasi Sistem Trigeminovaskular (Lipton dkk., 2014). Saraf trigeminus adalah saraf kranial terbesar di kepala manusia yang bertanggung jawab penuh atas penyampaian sensasi sensorik—termasuk rasa nyeri—dari area wajah, kulit kepala, dan selaput pembungkus otak (meninges). Dalam kondisi stres akut, ujung-ujung saraf trigeminus ini terstimulasi secara berlebihan dan mulai melepaskan berbagai neuropeptida inflamasi ke sekitarnya. Salah satu neuropeptida yang paling dominan dan memegang peran kunci dalam proses ini adalah Calcitonin Gene-Related Peptide atau CGRP (Edvinsson dkk., 2018).

Pelepasan molekul CGRP ini memicu efek berantai yang sangat merusak di dalam kepala. CGRP berikatan dengan reseptor pada pembuluh darah di selaput otak, menyebabkan pembuluh darah tersebut mengalami pelebaran yang ekstrem (vasodilitasi) disertai dengan timbulnya inflamasi neurogenik atau peradangan steril pada jaringan sekitar (Ashina dkk., 2019). Proses peradangan inilah yang kemudian mengirimkan sinyal nyeri yang luar biasa kuat kembali melalui batang otak menuju korteks serebral. Sinyal nyeri ini diterjemahkan oleh kesadaran kita sebagai sensasi sakit kepala yang berdenyut-denyut hebat, biasanya terlokalisasi di satu sisi kepala, yang merupakan tanda universal dari serangan migrain.

Selama badai neurovaskular ini berlangsung, otak penderita migrain juga mengalami fenomena menakutkan yang disebut sensitisasi sentral (Woolf, 2011). Akibat bombardir sinyal nyeri yang terus-menerus, ambang batas toleransi nyeri di dalam otak menurun drastis hingga mencapai tingkat terendah. Akibatnya, rangsangan-rangsangan normal yang biasanya tidak menyakitkan, seperti pancaran cahaya lampu ruangan, suara obrolan rekan kerja, atau bahkan sentuhan lembut pada kulit wajah, mendadak dipersepsikan oleh otak sebagai siksaan nyeri yang amat sangat. Kondisi ini disebut sebagai alodinia (allodynia) (Burstein dkk., 2000). Hal inilah yang menjelaskan mengapa ketika tubuh Anda mulai "berontak" menghadapi suatu situasi, Anda tidak hanya merasakan sakit kepala yang luar biasa, tetapi juga mendadak menjadi sangat sensitif dan tidak mampu mentoleransi lingkungan sekitar Anda sama sekali.

4. Beban Allostatik (Allostatic Load): Mengapa Tubuh Memilih untuk Sakit

Pertanyaan mendasar yang sering kali muncul di benak kita adalah: Mengapa tubuh manusia merespons situasi psikologis dengan cara yang tampaknya begitu merusak diri sendiri? Mengapa tubuh tidak membantu kita untuk menghadapi situasi sulit tersebut dengan memberikan tambahan energi atau ketenangan, melainkan justru melumpuhkan kita dengan rasa mual dan migrain yang menyiksa? Mengapa evolusi membiarkan sistem saraf kita bertindak seolah-olah berkhianat pada keinginan kita sendiri?

Untuk menjawab misteri ini, seorang pakar neuroendokrinologi terkemuka bernama Bruce McEwen memperkenalkan sebuah konsep ilmiah yang sangat penting, yaitu Beban Allostatik (Allostatic Load) (McEwen, 2000). Istilah allostasis sendiri merujuk pada kemampuan adaptif tubuh manusia untuk mempertahankan stabilitas internal atau keseimbangan (homeostasis) melalui berbagai perubahan fisiologis dan perilaku yang dinamis ketika merespons stresor dari luar. Namun, mekanisme adaptasi ini tidaklah gratis. Setiap kali tubuh mengaktifkan sistem saraf simpatis dan melepaskan hormon stres untuk membantu Anda bertahan dalam situasi sulit, ada harga biologis mahal yang harus dibayar (McEwen & Stellar, 1993).

Jika seseorang terus-menerus terpapar pada situasi yang penuh tekanan, mengalami kecemasan kronis, atau jika sistem saraf mereka telah mengalami sensitisasi ekstrem akibat trauma masa lalu yang belum terselesaikan, sistem adaptasi allostatik ini akan mengalami keausan akut. Ketika Beban Allostatik telah menumpuk hingga melampaui ambang batas maksimal yang bisa ditoleransi, tubuh tidak lagi memiliki cadangan energi atau kemampuan biologis untuk melakukan kompensasi yang sehat. Dalam kondisi allostatic overload ini, sistem saraf otonom menjadi sangat rapuh dan hiper-reaktif (McEwen, 2007).

Ketika Anda memaksakan diri secara sadar untuk memasuki atau bertahan dalam situasi yang dinilai mengancam oleh bawah sadar Anda—misalnya, Anda memaksa diri untuk tetap duduk tegak di ruang rapat yang penuh dengan tekanan intimidasi—tubuh Anda menginterpretasikan situasi tersebut sebagai ancaman eksistensial yang membahayakan kelangsungan hidup Anda. Karena pikiran logis Anda menolak untuk menjauh atau melarikan diri dari situasi berbahaya tersebut, tubuh Anda akhirnya mengambil alih kendali secara paksa dengan cara memicu gejala fisik yang melumpuhkan (Sapolsky, 2004). Munculnya rasa mual yang hebat, muntah, dan migrain sebenarnya adalah bentuk intervensi ekstrem atau "rem darurat" yang ditarik oleh tubuh Anda. Tubuh sengaja membuat Anda sakit agar Anda tidak punya pilihan lain selain menghentikan aktivitas, menarik diri dari lingkungan yang menekan tersebut, dan mencari tempat yang aman untuk beristirahat. Ini adalah sebuah sinyal protektif purba yang sayangnya mengalami malafungsi dan bermanifestasi secara ekstrem akibat beban stres kronis yang berlebihan.

5. Lingkaran Setan Keterkaitan: Mengapa Mual dan Migrain Terjadi Bersamaan

Bukan merupakan suatu kebetulan belaka jika rasa mual yang bergejolak di perut dan nyeri migrain yang berdenyut di kepala sering kali menyerang secara bersamaan dalam satu paket penderitaan ketika Anda berada dalam kondisi tertekan. Hubungan antara kedua gejala somatik ini sangatlah erat, saling bertautan, dan membentuk sebuah lingkaran setan (vicious cycle) yang sangat sulit untuk diputus jika hanya mengandalkan intervensi satu sisi saja.

Secara anatomi dan neurofisiologi, jalur saraf yang mengatur rasa nyeri migrain dan jalur yang mengatur refleks muntah berpotongan di wilayah yang sama di dalam batang otak. Selama serangan migrain yang dipicu oleh situasi stres berlangsung, aktivasi radikal pada sistem trigeminovaskular tidak hanya mengirimkan sinyal nyeri ke atas menuju korteks otak, tetapi juga mengirimkan kolateral atau cabang sinyal ke bawah menuju nukleus traktus solitarius dan area postrema di batang otak (Akerman dkk., 2011). Area postrema ini dikenal luas dalam dunia kedokteran sebagai pusat pengendali utama refleks mual dan muntah pada manusia. Ketika wilayah ini terstimulasi secara intensif oleh sinyal nyeri migrain, otak secara otomatis menginstruksikan lambung untuk memicu rasa mual, bahkan jika tidak ada masalah fisik sama sekali di dalam saluran pencernaan Anda.

Sebaliknya, hubungan ini juga berlaku dari arah bawah ke atas. Ketika sistem pencernaan Anda mengalami gangguan motilitas atau mengalami peradangan ringan akibat pelepasan serotonin usus yang berlebihan saat stres, sel-sel imun di dinding usus akan melepaskan sitokin pro-inflamasi ke dalam sirkulasi darah. Sitokin-sitokin ini dapat melakukan perjalanan ke atas melalui aliran darah atau melalui sinyal saraf vagus, yang pada akhirnya memperburuk kondisi peradangan neurogenik yang sedang terjadi di selaput otak (Aurora & Brin, 2017). Kondisi perut yang mulas dan mual secara psikologis juga meningkatkan rasa panik dan kecemasan sekunder pada diri seseorang, yang kemudian memicu pelepasan hormon adrenalin lebih banyak lagi. Adrenalin yang terus melonjak ini kembali mengaktifkan saraf trigeminus, membuat nyeri migrain di kepala menjadi jauh lebih intens dan tak tertahankan. Lingkaran interaksi timbal balik inilah yang menyebabkan mengapa pemberontakan tubuh saat menghadapi situasi penuh tekanan terasa begitu masif, mengular, dan mustahil untuk dikendalikan hanya dengan visualisasi mental atau afirmasi positif yang dangkal.

6. Strategi Intervensi Berbasis Sains: Melatih Kembali Sistem Saraf yang Hiper-Reaktif

Karena fenomena pemberontakan somatik ini memiliki akar biologis yang sangat nyata pada ketidakseimbangan sistem saraf otonom dan jalur neurokimia tubuh, maka strategi penanganannya pun tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan mentalitas yang simplistis seperti kalimat motivasi "jangan dipikirkan" atau "bawa santai saja". Ketika tubuh Anda sudah telanjur masuk ke dalam mode pemogokan massal, diperlukan pendekatan yang bersifat komprehensif, terstruktur, dan berbasis pada bukti ilmiah (evidence-based). Pendekatan ini idealnya melibatkan tiga pilar utama: intervensi dari bawah ke atas (bottom-up), intervensi medis farmakologis, serta restrukturisasi psikologis jangka panjang.

Pilar pertama adalah Intervensi Bottom-Up, yaitu sebuah metode yang berfokus pada penenangan tubuh terlebih dahulu untuk mengirimkan sinyal aman kembali ke otak. Ketika serangan mual dan migrain mulai menyerang di tengah situasi menekan, jalur komunikasi logis atas-bawah (top-down) dari korteks prefrontal biasanya sudah lumpuh total akibat dominasi amigdala. Oleh karena itu, kita harus membalikkan arah komunikasi dengan menggunakan manipulasi fisik tubuh untuk menenangkan sistem saraf otonom (Porges, 2011). Salah satu teknik yang paling efektif dan teruji secara klinis adalah pernapas diafragma dengan fase ekspirasi (mengembuskan napas) yang diperpanjang. Ketika Anda menarik napas dalam hitungan 4 detik dan mengembuskannya secara perlahan melalui mulut selama 6 hingga 8 detik, tindakan fisik ini secara langsung memberikan tekanan mekanis yang menstimulasi saraf vagus di area dada dan diafragma (Gerritsen & Band, 2018). Aktivasi buatan pada saraf vagus ini bertindak bagaikan rem otomatis yang menekan aktivitas sistem saraf simpatis, seketika menurunkan denyut jantung yang berpacu, serta meredakan ketegangan otot-otot halus pada dinding lambung.

Selain teknik pernapasan, pendekatan lain yang sangat disarankan dalam pilar somatik ini adalah Terapi Somatik atau Somatic Experiencing yang dikembangkan oleh Dr. Peter Levine. Metode terapi ini berfokus pada upaya mengidentifikasi dan melepaskan ketegangan energi stres atau sisa trauma yang selama ini tersimpan rapat di dalam jaringan otot dan fasia tubuh kita (Levine, 2010). Dengan melatih diri untuk menyadari sensasi fisik yang muncul tanpa melakukan perlawanan mental, seseorang dapat membantu sistem sarafnya menyelesaikan siklus respons stres yang menggantung, sehingga tubuh tidak perlu lagi memicu respons mual atau migrain yang melumpuhkan di masa depan.

Pilar kedua adalah Intervensi Medis dan Farmakoterapi. Dalam kondisi di mana serangan mual dan migrain situasional terjadi dengan frekuensi yang sering dan intensitas yang sedemikian parah hingga merusak kualitas hidup serta produktivitas kerja, bantuan medis dari dokter spesialis saraf mutlak diperlukan. Dunia kedokteran modern telah berhasil mengembangkan faksi obat-obatan mutakhir yang sangat spesifik untuk mengatasi badai neurobiologis ini. Salah satu lompatan besar dalam terapi migrain adalah penemuan obat golongan Antagonis Reseptor CGRP atau antibodi monoklonal yang secara khusus menargetkan molekul CGRP (Ashina dkk., 2019). Obat ini bekerja efektif dengan cara memblokir CGRP agar tidak dapat berikatan dengan reseptor pembuluh darah di selaput otak, sehingga mencegah terjadinya vasodilitasi dan inflamasi neurogenik sejak awal mula serangan stres terjadi. Untuk mengatasi gejala mual yang menyertai, penggunaan obat-obatan regulator motilitas lambung atau agen antiemetik spesifik seperti metoklopramid atau ondansetron dapat diberikan guna menstabilkan kembali kontraksi otot lambung dan menghambat sinyal mual di batang otak (Stasi dkk., 2012).

Pilar ketiga adalah Pendekatan Psikologis jangka panjang untuk membina ulang hubungan yang harmonis antara pikiran dan tubuh Anda. Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy - CBT) tetap menjadi salah satu standar emas yang sangat efektif dalam konteks ini. Melalui CBT, seorang pasien akan dibimbing untuk mengidentifikasi, mengurai, dan mengubah distorsi kognitif atau pola pikir katastrofik yang selama ini tanpa sadar sering memicu alarm bahaya di amigdala secara berlebihan (Beck, 2011). Selain CBT, Terapi Penerimaan dan Komitmen (Acceptance and Commitment Therapy - ACT) juga menawarkan pendekatan yang sangat revolusioner. Daripada melakukan perlawanan frustrasi atau mencoba memerangi gejala fisik mual dan sakit kepala yang muncul (yang ironisnya justru menambah beban stres baru dan memperparah gejala), ACT melatih individu untuk belajar menerima kehadiran sensasi somatik tersebut dengan sikap penuh kesadaran (mindfulness) dan tanpa penghakiman negatif (Hayes dkk., 2011). Ketika otak menyadari bahwa Anda tidak lagi panik atau takut terhadap rasa mual dan migrain tersebut, lingkaran setan kepanikan sekunder akan terputus, dan secara perlahan intensitas serangan fisik tersebut akan mereda dengan sendirinya.

Kesimpulan

Pada akhirnya, kita harus mendefinisikan ulang pemahaman kita mengenai hubungan antara kesehatan mental dan reaksi fisik tubuh. Saat tubuh Anda mendadak berontak dengan memuntahkan rasa mual yang hebat, memicu kram perut, atau menghantam kepala Anda dengan nyeri migrain yang luar biasa di tengah situasi tertentu, ketahuilah dengan kepastian penuh bahwa tubuh Anda sedang tidak memusuhi Anda. Tubuh Anda juga tidak sedang mengalami kerusakan moral atau kelemahan psikologis. Sebaliknya, tubuh Anda justru sedang mencoba melindungi Anda dengan satu-satunya cara ekstrem yang ia ketahui, berdasarkan rekaman memori stres, luka pengkondisian masa lalu, serta timbunan beban allostatik yang telah lama terakumulasi di dalam sistem saraf Anda.

Respons-respons fisik yang tampak tidak rasional tersebut digerakkan oleh jalur-jalur biologis konkrit yang sangat nyata di dalam tubuh: mulai dari hiper-aktivasi sistem trigeminovaskular di kepala, pelepasan neuropeptida inflamasi CGRP, disregulasi neurotransmiter serotonin, hingga komunikasi darurat dua arah yang konstan di sepanjang saraf vagus pada sumbu usus-otak. Menyadari dan menerima bahwa kondisi ini adalah murni masalah regulasi sistem saraf otonom—dan bukan merupakan kegagalan karakter mental Anda—adalah sebuah langkah awal yang sangat krusial menuju pemulihan yang sejati. Dengan memadukan pemahaman neurobiologis yang tepat, penerapan teknik regulasi somatik secara konsisten, intervensi medis yang terukur, serta manajemen stres jangka panjang, kita dapat melatih kembali sistem saraf kita secara perlahan agar ia merasa aman, sehingga tubuh tidak perlu lagi melakukan "pemberontakan" radikal hanya untuk memastikan bahwa diri kita terhindar dari bahaya.

Daftar Pustaka

Akerman, S., Holland, P. R., & Goadsby, P. J. (2011). Diencephalic and brainstem mechanisms in migraine. Nature Reviews Neuroscience, 12(10), 570-584.

Ashina, M., Hansen, J. M., Do, T. P., dkk. (2019). Migraine and the trigeminovascular system—40 years and counting. The Lancet Neurology, 18(8), 795-804.

Aurora, S. K., & Brin, M. F. (2017). Migraine: An episodic disorder of brain excitability. The Lancet Neurology, 16(12), 945-955.

Beck, J. S. (2011). Cognitive Behavior Therapy: Basics and Beyond (2nd ed.). The Guilford Press.

Burstein, R., Yarnitsky, D., Goor-Aryeh, I., dkk. (2000). An association between migraine and cutaneous allodynia. Annals of Neurology, 47(5), 614-624.

Cryan, J. F., & Dinan, T. G. (2012). Mind-altering microorganisms: the impact of the gut microbiota on brain and behaviour. Nature Reviews Neuroscience, 13(10), 701-712.

Edvinsson, L., Haanes, K. A., Warfvinge, K., & Krause, D. N. (2018). CGRP as the target of new migraine therapies — successful translation from bench to clinic. Nature Reviews Neurology, 14(6), 338-350.

Foster, J. A., & Neufeld, K. A. M. (2013). Gut–brain axis: how the microbiome influences anxiety and depression. Trends in Neurosciences, 36(5), 305-312.

Gershon, M. D. (2004). Serotonin receptors and transporters in the gastroenterology system. Gut, 53(1), 120-130.

Gerritsen, R. J., & Band, G. P. (2018). Breath of life: The respiratory vagal stimulation model of contemplative activity. Frontiers in Human Neuroscience, 12, 397.

Goadsby, P. J., Holland, P. R., Martins-Oliveira, M., dkk. (2017). Pathophysiology of migraine: A disease in the peripheral and central nervous system. Physiological Reviews, 97(2), 553-622.

Hayes, S. C., Strosahl, K. D., & Wilson, K. G. (2011). Acceptance and Commitment Therapy: The Process and Practice of Mindful Change (2nd ed.). The Guilford Press.

Levine, P. A. (2010). In an Unspoken Voice: How the Body Releases Trauma and Restores Goodness. North Atlantic Books.

Lipton, R. B., Fanning, K. M., Serrano, D., dkk. (2014). Chronic migraine in the community: Burden of disease, over-the-counter medication use, and acute medication overuse. Headache: The Journal of Head and Face Pain, 54(3), 448-454.

Mayer, E. A. (2011). Gut feelings: the emerging biology of gut–brain communication. Nature Reviews Neuroscience, 12(8), 453-466.

McEwen, B. S. (2000). Allostasis and allostatic load: Implications for neuropsychopharmacology. Neuropsychopharmacology, 22(2), 108-124.

McEwen, B. S. (2007). Physiology and neurobiology of stress and adaptation: Central role of the brain. Physiological Reviews, 87(3), 873-904.

McEwen, B. S., & Stellar, E. (1993). Stress and the individual: Mechanisms leading to disease. Archives of Internal Medicine, 153(18), 2093-2101.

Porges, S. W. (2011). The Polyvagal Theory: Neurophysiological Foundations of Emotions, Attachment, Communication, and Self-regulation. W. W. Norton & Company.

Sapolsky, R. M. (2004). Why Zebras Don't Get Ulcers (3rd ed.). Henry Holt and Company.

Sapolsky, R. M. (2017). Behave: The Biology of Humans at Our Best and Worst. Penguin Press.

Stasi, C., Rosselli, M., Bellini, M., dkk. (2012). Altered serotonin function in irritable bowel syndrome. World Journal of Gastroenterology, 18(31), 4221-4228.

Taché, Y., Martinez, V., Million, M., & Wang, L. (2001). Stress and the gastrointestinal tract III. Corticotropin-releasing factor and visceral hypersensitivity. American Journal of Physiology-Gastrointestinal and Liver Physiology, 280(2), G173-G177.

Van der Kolk, B. A. (2014). The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma. Viking.

Woolf, C. J. (2011). Central sensitization: Implications for the diagnosis and treatment of pain. Pain, 152(3), S2-S15.

Kompleksitas masalah yang dihadapi oleh calon bidan selama menempuh pendidikannya menjadi faktor dominan terhadap rasa optimisme maupun pesimisme mereka. Di sisi lain, tuntutan dan ekspektasi yang diberikan kepada calon bidan saat masuk di dunia kerja secara nyata sebagai seorang bidan dalam menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan upaya mengurangi AKI (Angka Kematian Ibu) dan AKB (Angka Kematian Bayi) di Indonesia. Dalam peran tersebut, profesi bidan merupakan lini pertama yang harus dituntaskan secara selamat, yaitu membantu proses persalinan serta perlindungan kesehatan ibu dan anak (Sugiarti, 2019).

Ilustrasi Peran Bidan

Kompleksitas isu lainnya terkait dengan calon bidan terletak pada institusi pendidikannya. Dalam penelusuran yang dilakukan oleh Sugiarti (2019) terhadap Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (2011), No.400/D/T/2009 dijelaskan bahwa terdapat 729 perguruan tinggi menyelenggarakan Program Studi Kebidanan Diploma III, dan 69 perguruan tinggi menyelenggarakan Program Studi Bidan Pendidik (D4). Adapun program studi kebidanan jenjang S1 yang disediakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Bangsa Banda Aceh dan Universitas Brawijaya Malang. Untuk jenjang S2 disediakan oleh Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Padjajaran Bandung (BAN-PT, dalam Sugiarti 2019). Meskipun pendidikan menempuh pendidikan kebidanan sudah disediakan hingga jenjang S2 atau magister, pada kenyataannya para mahasiswa kebidanan hanya dapat kesempatan menempuh pendidikan kebidanan di jenjang Diploma III saja. Hal itu menjadi kendala tersendiri bagi penanganan AKI dan AKB secara lebih lanjut.

Banyaknya lulusan kebidanan dengan lulusan Diploma III yang begitu banyak, mengakibatkan tingkat persaingan yang ketat, Selain itu persoalan lainnya ketika menjadi lulusan pendidikan kebidanan seringkali mengalami perlambatan penerbitan STR sehingga menunda status lulusan kebidanan tersebut sebagai tenaga kesehatan yang secara legal siap mengerjakan tugasnya. Selanjutnya, terdapat juga masalah bagi seorang bidan ketika sudah siap mengerjakan tugasnya tetapi mengalami kegagalan dalam memberikan pertolongan sehingga mengakibatkan trauma baginya (Sugiarti, 2019). Maka dapat dikatakan bahwa masalah mendasar yang dihadapi oleh mahasiswa kebidanan adalah ketidakpastian. 

Setiap mahasiswa kebidanan memiliki caranya masing-masing untuk menangani ketidakpastian selama menempuh pendidikan serta kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan ketika sudah resmi menjadi tenaga kesehatan berupa bidan. Namun, semua cara yang dapat dilakukan oleh mereka tidak lepas dari substansi utama dalam menghadapi setiap masalah, yaitu perasaan pesimis dan perasaan optimis. Dalam hal ini Dr. Dra. Sugiarti, M.Kes, Psikolog. dalam karyanya berjudul “Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia” menegaskan bahwa keyakinan dan ekspektasi dalam menghadapi setiap masalah serta hambatan dapat memunculkan reaksi yang berbeda-beda dalam situasi tertentu.  Dikutip dari Scheier, Carver, dan Bridges (1994, dalam Sugiarti, 2019) keyakinan dan ekspektasi terhadap hasil yang lebih baik di masa depan disebut sebagai optimisme. Di sisi lan, perasaan pesimisme adalah ekspektasi yang buruk terhadap hasil yang akan didapatkan ketika sedang dalam proses menyelesaikan masalah atau hambatan (Carver, Scheier, & Segerstrom 2010, dalam Sugiarti, 2019). 

Oleh Sugiarti (2019) ditegaskan bahwa perasaan optimisme dan pesimisme dipengaruhi oleh persepsi atau perasaan keberhargaan serta penilaian kelayakan diri setiap individu sebagai seorang calon bidan ketika menempuh pendidikan kebidanan ataupun sudah menjadi bidan yang sudah bekerja di lapangan; kemudian hal itu disebut sebagai self-esteem. Self-esteem dan optimisme saling berhubungan satu sama lain yang mana dipengaruhi oleh faktor pengalaman keberhasilan dan kegagalan di masa lalu. Sekaligus, pengalaman di masa lalu terkait kegagalan maupun keberhasilan merupakan prediktor utama yang membedakan tingkat self-esteem individu (Sugiarti, 2019). 

Upaya untuk terus bertahan menempuh pendidikan sebagai calon bidan, rasa optimisme menjadi sangat penting untuk melewati seluruh masalah serta hambatan yang kemudian dapat diselesaikan satu per satu. Keyakinan diri atau keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri sebagai seorang calon bidan dapat menumbuhkan rasa optimis dalam melakukan sesuatu hal yang sesuai dengan harapan positif yang dimilikinya. 

Keyakinan terhadap kemampuan diri yang menumbuhkan penilaian pada kemampuan diri sendiri untuk mencapai keberhasilan dapat mempengaruhi keputusan karir di masa depan; hal ini disebut sebagai efikasi diri pengambilan keputusan karir atau career decision self-efficacy (Betz, Klein, & Taylor, dalam Sugiarti, 2019). Efikasi diri pengambilan keputusan karir penting ditingkatkan sebab merupakan faktor penting yang dapat memengaruhi proses proses perkembangan karir pada dewasa muda. Dalam dunia karir, temuan penelitian yang dilakukan oleh Creed, Patto, dan Bartrum (2002, dalam Sugiarti, 2019) level optimisme pelajar yang tinggi dapat mendorong mereka untuk memiliki perencanaan dan eksplorasi karir yang tinggi, serta lebih mampu dalam menentukan keputusan karir dan lebih memiliki tujuan karir, berbeda dengan pelajar yang cenderung pesimis yang dilaporkan memiliki kesadaran dan pengetahuan yang rendah mengenai karirnya, lebih ragu-ragu, dan memiliki performa yang buruk dalam akademik.

Lebih mendalam lagi, para calon bidan yang mampu mengatasi masalah dan hambatan dalam prosesnya sebagai seorang mahasiswa kebidanan disyaratkan rasa optimisme tersebut diwarnai dengan kepribadian yang penuh dengan hardiness. Dikutip dari Stasiowski, 2008, dalam Sugiarti, 2019) hardiness merupakan kemampuan individu mempersepsikan bahwa tantangan dan hambatan yang dihadapi sebagai bentuk kemanfaatan bagi dirinya dalam bentuk keterlibatan penuh tanpa memaksakan hasil yang positif karena fokus untuk melewati dan menyelesaikan hambatan tersebut. Oleh sebab itu, dalam menghadapi segala tekanan dan tanggung jawab, dibutuhkan keyakinan dan ketahanan dalam diri para calon bidan di masa depan. 

Dampak dari tingginya optimisme dan hardiness tinggi dapat memengaruhi dimensi komitmen, yaitu memungkinkan individu untuk menetapkan tujuan, membuat komitmen, mengatasi kesulitan dan rasa sakit, serta untuk pulih dari trauma dan/atau stres (Bissonnette, 1998, dalam Sugiarti, 2019). 

Pada akhirnya, optimisme dan hardiness bermuara pada daya resiliensi ketika seorang calon bidan menghadapi berbagai hambatan serta masalah selama menempuh pendidikan. Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dengan penuh keberanian serta stamina emosi yang baik  setelah mengalami keterpurukan atau ketika menemukan kesulitan sehingga dapat mengantarkan dirinya ke hasil terbaik meskipun dia sendiri mengalami rasa takut di dalam dirinya; kemudian, orang yang mempunyai daya resiliensi tinggi tersebut disebut sebagai orang yang resilien (Sugiarti, 2019). Maka, dalam konteks calon bidan, resiliensi diri ini merupakan hal yang sangat penting untuk terus diasah sampai pada titik tertentu ketika individu tersebut dapat dikatakan sebagai calon bidan yang resilien. Calon bidan yang resilien tidak hanya mudah melewati tantangan serta hambatan selama menjadi mahasiswa kebidanan, tetapi juga dapat menjadi bekal bagi dirinya untuk melewati serta menyelesaikan tantangan dan hambatan ketika sudah resmi menjadi seorang bidan dengan kompleksitas permasalahan yang berbeda pula.

Maha Karya Dr. Sugiarti, M.Kes., Psikolog.

Kondisi ekonomi sering menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan seseorang untuk melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Di Indonesia, kesempatan untuk memperoleh gelar sarjana belum sepenuhnya dapat diakses oleh semua kalangan. Tempo Nasional (2014) mencatat bahwa hanya sekitar 30% pelajar di Indonesia yang dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan biaya masih menjadi salah satu hambatan besar bagi peserta didik yang ingin menempuh pendidikan tinggi.

Kenyataan tersebut menjadi refleksi bersama bahwa di Indonesia masih banyak individu yang memiliki potensi akademik baik, tetapi terhambat oleh kondisi ekonomi. Dengan kata lain, persoalan biaya dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengembangkan kemampuan akademiknya secara maksimal melalui pendidikan tinggi.

Dalam penelusuran mengenai dasar hukum yang dilakukan oleh Sugiarti dalam bukunya Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia, dijelaskan bahwa negara telah hadir untuk menangani persoalan tersebut melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Pada Bab V Pasal 12 Ayat (1) Butir 4 disebutkan bahwa “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu” (Sugiarti, 2019: 5).

Sebagai bentuk nyata dari amanat tersebut, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sejak tahun 2012 meluncurkan program bantuan biaya pendidikan yang disebut Bidikmisi. Program ini merupakan bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi, tetapi memiliki potensi akademik yang baik untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi pada program studi unggulan sampai lulus tepat waktu (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2015).

Sugiarti (2019) menegaskan bahwa beasiswa Bidikmisi merupakan bentuk kehadiran negara dalam mendukung pendidikan masyarakat melalui penyelenggaraan pemerintahan. Bantuan tersebut diberikan agar penerima beasiswa Bidikmisi dapat menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu meraih cita-cita.

Namun, menjadi mahasiswa penerima Bidikmisi juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah adanya perasaan bahwa kehidupan mereka sebagai mahasiswa selalu diawasi. Dalam pemikiran Jeremy Bentham, kondisi semacam ini dapat dikaitkan dengan konsep panoptikon (Bentham, 1791/1990). Panoptikon merupakan model pengawasan yang membuat seseorang merasa terus dipantau, sehingga pada akhirnya ia mengontrol dirinya sendiri tanpa harus selalu diperintah atau dihukum.

Kondisi tersebut juga dapat dialami oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Mereka merasa setiap aktivitasnya selama menjadi mahasiswa perlu dijaga dan dipertanggungjawabkan. Hal ini terjadi karena adanya berbagai tuntutan yang harus dipenuhi, baik dalam kegiatan kurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Berbagai kegiatan tersebut kemudian dilaporkan dalam bentuk laporan semesteran kepada fakultas dan diteruskan kepada pihak Dikti.

Laporan tersebut biasanya memuat Indeks Prestasi Kumulatif atau IPK minimal di atas 3,00. Selain itu, mahasiswa Bidikmisi juga harus melaporkan kegiatan non-akademik, seperti organisasi yang diikuti, kepanitiaan, seminar yang pernah diikuti, karya ilmiah yang dibuat, serta prestasi yang telah diraih (Sugiarti, 2019: 16). Tuntutan tersebut dapat menjadi dorongan positif bagi sebagian mahasiswa, tetapi juga dapat menjadi tekanan bagi mahasiswa lainnya.

Dalam kondisi tersebut, Sugiarti (2019: 17) menjelaskan bahwa tuntutan yang dialami oleh mahasiswa penerima Bidikmisi dapat berpengaruh terhadap optimisme dan pesimisme mereka. Optimisme terhadap kesuksesan selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, serta optimisme terhadap masa depan, dapat menjadi pengarah dalam menghadapi berbagai tuntutan yang diberikan kepada penerima beasiswa Bidikmisi.

Sebaliknya, pesimisme dapat muncul ketika mahasiswa merasa bahwa tuntutan dan persaingan yang dihadapi terlalu berat. Perasaan pesimis dapat membuat mahasiswa Bidikmisi merasa tidak mampu meraih hal-hal yang seharusnya dapat mereka capai. Dengan demikian, cara mahasiswa memandang tuntutan sebagai penerima beasiswa sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis dan proses akademiknya.

Sugiarti (2019: 17) juga mengaitkan optimisme dan pesimisme dengan tingkat stres dan depresi pada mahasiswa. Individu yang optimis cenderung lebih mampu menghadapi situasi sulit dibandingkan individu yang pesimis. Selain itu, individu yang optimis juga cenderung mengalami tingkat stres yang lebih rendah. Sebaliknya, individu yang pesimis lebih rentan mengalami kesulitan dalam menghadapi tantangan hidup, sehingga lebih berisiko mengalami stres dan depresi.

Pandangan tersebut diperkuat oleh penelitian Meiliyanti yang membahas hubungan antara optimisme dan self-esteem pada mahasiswa Bidikmisi Universitas Indonesia. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa tekanan untuk berprestasi dan tuntutan untuk mematuhi kewajiban sebagai penerima beasiswa merupakan hal yang tidak dapat dihindari (Meiliyanti, 2015, dalam Sugiarti, 2019: 33).

Dengan demikian, cara mahasiswa Bidikmisi memandang tuntutan dan tekanan sangat menentukan respons mereka. Tuntutan tersebut dapat dipandang sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Namun, tuntutan yang sama juga dapat dipandang sebagai hambatan besar apabila mahasiswa merasa tidak mampu menghadapinya.

Menurut Tinto, upaya mahasiswa untuk melewati dan menyelesaikan berbagai tuntutan sebagai penerima Bidikmisi dipengaruhi oleh komitmen (Tinto, dalam Sugiarti, 2019: 33). Komitmen tersebut berkaitan dengan optimisme dan general self-efficacy atau keyakinan umum terhadap kemampuan diri.

Komitmen yang disertai dengan optimisme dapat membantu mahasiswa Bidikmisi menyelesaikan tanggung jawabnya hingga akhir. Mahasiswa yang optimis cenderung memandang masa depan sebagai sesuatu yang dapat dicapai melalui usaha dan ketekunan. Dengan orientasi masa depan yang positif, mahasiswa Bidikmisi dapat lebih kuat dalam menjalani proses akademik, memenuhi tuntutan beasiswa, serta mempersiapkan keberhasilan di masa depan.

Kesimpulan

Mahasiswa Bidikmisi merupakan mahasiswa yang memperoleh bantuan biaya pendidikan karena memiliki keterbatasan ekonomi, tetapi tetap memiliki potensi akademik yang baik. Program Bidikmisi menjadi salah satu bentuk kehadiran negara dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi bagi masyarakat yang kurang mampu.

Namun, mahasiswa penerima Bidikmisi juga menghadapi berbagai tuntutan, baik akademik maupun non-akademik. Tuntutan tersebut dapat membuat mereka merasa diawasi dan harus selalu memenuhi standar tertentu. Dalam kondisi ini, optimisme menjadi faktor penting yang membantu mahasiswa Bidikmisi menghadapi tekanan, mempertahankan komitmen, serta mencapai keberhasilan akademik maupun masa depan yang lebih baik.

Bentham, J. (1791). Panopticon; or, The inspection-house. London: T. Payne.

Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan. (2015). Pedoman penyelenggaraan bantuan biaya pendidikan Bidikmisi tahun 2015. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Meiliyanti. (2015). Hubungan antara optimisme dan general self-efficacy pada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi Universitas Indonesia. Universitas Indonesia.

Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.

Sugiarti. (2019). Optimisme: Kajian riset perspektif psikologi Indonesia. Depok: Rajawali Pers.

Tinto, V. (1975). Dropout from higher education: A theoretical synthesis of recent research. Review of Educational Research, 45(1), 89–125.

Tempo Nasional. (2014). [Judul artikel tentang rendahnya jumlah pelajar Indonesia yang melanjutkan ke perguruan tinggi]. Tempo.co.

Academic cheating atau kecurangan akademik merupakan salah satu persoalan serius dalam dunia pendidikan. Perilaku ini tidak hanya berkaitan dengan tindakan menyontek saat ujian, tetapi juga mencakup plagiarisme dan bentuk ketidakjujuran akademik lainnya. Academic dishonesty mencakup cheating dan plagiarism, termasuk pencurian ide serta bentuk lain dari kekayaan intelektual, baik yang sudah dipublikasikan maupun belum dipublikasikan (Jones, Irvin, & Faircloth, 2001).

Dalam konteks pendidikan, menyontek menjadi persoalan penting karena berkaitan langsung dengan integritas akademik. Ketika seorang mahasiswa atau pelajar melakukan tindakan menyontek, maka individu tersebut telah melakukan bentuk kecurangan akademik yang serius karena melanggar integritas akademis (Sugiarti, 2019: 4).

Cover Buku

Pengertian Academic Cheating

Academic cheating dapat dipahami sebagai tindakan tidak jujur dalam kegiatan akademik. Menyontek merupakan bentuk keikutsertaan dalam ujian melalui cara yang tidak jujur, menjawab pertanyaan dengan cara yang tidak semestinya, serta melanggar aturan dan kesepakatan dalam ujian (Sugiarti, 2019: 4).

Dengan demikian, academic cheating tidak hanya dipahami sebagai tindakan melihat jawaban teman ketika ujian, tetapi juga segala bentuk perilaku yang dilakukan untuk memperoleh hasil akademik melalui cara yang tidak sesuai dengan aturan. Perilaku ini merusak nilai kejujuran dalam proses pendidikan karena hasil yang diperoleh tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya.

Plagiarisme sebagai Bentuk Kecurangan Akademik

Selain menyontek, plagiarisme juga termasuk dalam bentuk kecurangan akademik. Plagiarisme adalah perilaku mengambil atau menggunakan kutipan maupun ide dari pekerjaan orang lain, baik sebagian maupun sepenuhnya, kemudian diklaim secara sadar atau tidak sadar sebagai hasil atau milik pribadi (Sugiarti, 2019: 4).

Plagiarisme merupakan bagian dari kegiatan menyontek orang lain. Akan tetapi, tidak semua perilaku menyontek dapat dikategorikan sebagai plagiarisme (Sugiarti, 2019: 4). Hal ini menunjukkan bahwa menyontek memiliki bentuk yang lebih luas, sedangkan plagiarisme lebih khusus berkaitan dengan pengambilan ide, tulisan, atau karya orang lain tanpa pengakuan yang tepat.

Faktor Penyebab Mahasiswa Melakukan Academic Cheating

Perilaku academic cheating tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor yang mendorong mahasiswa melakukan kecurangan akademik adalah rasa takut terhadap kegagalan. Penelitian Newstead dan Franklyn-Stokes terhadap 943 mahasiswa menunjukkan bahwa salah satu alasan mahasiswa menyontek adalah karena takut akan kegagalan (Newstead & Franklyn-Stokes, 1996).

Selain itu, beberapa penelitian lain juga menunjukkan bahwa siswa mengalami kecemasan terhadap kegagalan. Kecemasan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong individu melakukan tindakan tidak jujur dalam kegiatan akademik (Michaels & Mierthe, 1989; Calabrese & Chochran, 1990; Anderman & Murdock, 2007).

Kecemasan berlebihan dapat memberikan stimulus pada otak untuk bekerja tidak sesuai dengan kemampuan sebenarnya (Sugiarti, 2019: 15). Dalam kondisi ini, mahasiswa dapat merasa tidak percaya diri, sulit berpikir jernih, dan akhirnya mencari jalan pintas untuk memperoleh hasil akademik yang diinginkan.

Menyontek sebagai Coping Strategy

Menyontek juga dapat dipahami sebagai salah satu bentuk coping strategy dalam menghadapi kecemasan. Menurut Feller, menyontek sebagai bentuk coping strategy dapat memberikan efek tenang bagi individu yang melakukannya. Namun, tindakan tersebut tidak benar-benar menyelesaikan kecemasan yang terjadi secara konstan dan tinggi (Feller, 2009, dalam Sugiarti, 2019: 15).

Artinya, menyontek mungkin membuat mahasiswa merasa aman untuk sementara waktu, terutama ketika menghadapi ujian atau tekanan akademik. Namun, apabila perilaku ini terus dilakukan, mahasiswa tidak belajar untuk mengatasi kecemasan secara sehat. Sebaliknya, ia justru dapat bergantung pada tindakan curang setiap kali menghadapi tekanan akademik.

Hubungan Optimisme dengan Perilaku Menyontek

Optimisme memiliki hubungan penting dengan kecenderungan mahasiswa untuk melakukan atau menghindari perilaku menyontek. Individu yang memiliki harapan lebih baik cenderung jarang terlihat dalam perilaku menyontek (Feller, 2009, dalam Sugiarti, 2019: 15).

Temuan Snyder et al. juga menunjukkan bahwa harapan yang baik selama menempuh pendidikan memengaruhi performa akademik dan pencapaian skor akademik. Namun, pelajar dan mahasiswa yang memiliki pandangan yakin serta optimis terhadap kemampuan dirinya tidak selalu menunjukkan performa yang baik (Snyder et al., 1997; Snyder et al., 2002).

Sugiarti menjelaskan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri dan pandangan optimis dalam mengerjakan ujian dapat meminimalisir mengakarnya budaya menyontek di kalangan pelajar dan mahasiswa. Akan tetapi, hal tersebut masih dipengaruhi oleh perkiraan dan keyakinan individu dalam membayangkan tercapainya suatu tujuan (Sugiarti, 2019).

Optimisme dalam Teori Expectancy-Value

Optimisme dan pesimisme tidak dapat dilepaskan dari ekspektasi individu terhadap masa depannya. Carver dan Scheier menjelaskan bahwa pemahaman mengenai ekspektasi ini berkaitan dengan expectancy-value models of motivation (Carver & Scheier, 2005).

Teori expectancy-value berangkat dari anggapan bahwa perilaku individu diorganisir oleh pencapaian tujuan. Tujuan merupakan suatu keadaan atau tindakan yang dipandang individu sebagai sesuatu yang diinginkan atau tidak diinginkan (Sugiarti, 2019: 16). Jika individu menginginkan sesuatu, maka ia akan menyesuaikan langkahnya untuk mencapai hal tersebut. Sebaliknya, jika individu tidak menginginkan sesuatu, maka ia akan melakukan berbagai bentuk penghindaran.

Elemen penting lain dalam teori expectancy-value adalah ekspektasi. Ekspektasi merupakan keyakinan atau keraguan terhadap pencapaian sebuah tujuan. Ketika individu memiliki keyakinan yang kuat, maka ia akan bergerak menuju tujuan semula dan berusaha menghadapi rintangan. Sebaliknya, keraguan dapat menghalangi usaha individu dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan (Carver & Scheier, 2005).

Dalam konteks academic cheating, mahasiswa yang memiliki ekspektasi positif terhadap keberhasilannya akan lebih mungkin berusaha dengan cara yang jujur. Sebaliknya, mahasiswa yang ragu terhadap kemampuannya dapat terdorong untuk mencari jalan pintas, salah satunya dengan menyontek.

Optimisme dan Perilaku Menyontek pada Mahasiswa

Penelitian Yunissa menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara optimisme dan perilaku menyontek pada mahasiswa. Harapan terhadap keberhasilan dan kegagalan yang tertanam dalam diri individu dapat memengaruhi reaksi mereka terhadap keberhasilan dan kegagalan di masa depan (Yunissa, 2012).

Harapan tersebut kemudian memengaruhi kinerja individu melalui berbagai bentuk perilaku. Individu yang optimis cenderung lebih inisiatif, mampu bertahan dalam kesulitan, mau mengambil risiko, menggunakan strategi pemecahan masalah, dan menjadi lebih tegas (Schulman, 1995, dalam Yates, 2001).

Dalam konteks mahasiswa, optimisme bekerja di tengah tekanan akademik, seperti tuntutan nilai tinggi, tekanan sosial dari teman-teman, serta berbagai tuntutan kehidupan sebagai mahasiswa. Jika optimisme mahasiswa rendah, maka kondisi tersebut dapat mendorong mereka untuk menyontek. Sebaliknya, jika optimisme mahasiswa tinggi, maka mereka cenderung menghindarkan diri dari upaya menyontek.

Dampak Optimisme terhadap Prestasi Akademik

Tingkat optimisme terbentuk sejak masa kanak-kanak melalui berbagai pengalaman sehari-hari. Optimisme berdampak pada kesehatan, motivasi, dan prestasi individu (Sugiarti, 2019: 32). Menurut Seligman, optimisme dapat menghindarkan individu dari depresi, meningkatkan prestasi, memperkuat kesejahteraan fisik, serta mendukung kondisi mental yang lebih baik (Seligman, 1990, dalam Sugiarti, 2019: 32).

Berkaitan dengan performa akademik, individu yang mengharapkan kesuksesan cenderung tampil lebih baik daripada individu yang tidak optimis. Hal ini terjadi karena individu dengan ekspektasi tinggi akan bekerja lebih giat dan menggunakan strategi penyelesaian masalah yang lebih efektif dibandingkan individu yang pesimis terhadap peluang keberhasilannya (Brown & Marshall, dalam Chang, 2001).

Dalam konteks mahasiswa, apabila individu memiliki persepsi bahwa hasil belajar bergantung pada tingkah lakunya sendiri serta memiliki ekspektasi positif terhadap hasil belajar tersebut, maka ia akan semakin yakin bahwa usahanya dapat membawa keberhasilan. Dengan demikian, mahasiswa yang optimis dapat dipahami sebagai individu yang mengharapkan hasil positif, meskipun menghadapi situasi yang berat dan sulit (Sugiarti, 2019).

Kesimpulan

Academic cheating merupakan bentuk ketidakjujuran akademik yang mencakup perilaku menyontek, plagiarisme, dan berbagai tindakan lain yang melanggar integritas akademik. Menyontek dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah ketakutan terhadap kegagalan dan kecemasan akademik.

Menyontek dapat menjadi bentuk coping strategy yang memberikan rasa tenang sementara. Namun, perilaku tersebut tidak menyelesaikan akar kecemasan dan justru dapat membentuk kebiasaan curang dalam dunia akademik.

Optimisme memiliki peran penting dalam menekan kecenderungan menyontek. Mahasiswa yang optimis cenderung memiliki keyakinan terhadap kemampuan diri, mampu bertahan dalam kesulitan, dan percaya bahwa usaha yang dilakukan dapat membawa keberhasilan. Sebaliknya, mahasiswa dengan optimisme rendah lebih rentan mencari jalan pintas ketika menghadapi tekanan akademik.

Dengan demikian, upaya mengurangi academic cheating tidak cukup hanya dilakukan melalui aturan dan sanksi. Diperlukan pula penguatan integritas akademik, pengelolaan kecemasan, serta pembangunan optimisme dalam diri mahasiswa.

Daftar Pustaka

Sugiarti, Dra, M.Kes. (2019). Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia. Depok: Rajawali Press.

Anderman, E. M., & Murdock, T. B. (Eds.). (2007). Psychology of academic cheating. Elsevier Academic Press.

Brown, J. D., & Marshall, M. A. (2001). Great expectations: Optimism and pessimism in achievement settings. Dalam E. C. Chang (Ed.), Optimism and pessimism: Implications for theory, research, and practice (hlm. 239–255). Washington, DC: American Psychological Association.

Calabrese, R. L., & Cochran, J. T. (1990). The relationship of alienation to cheating among a sample of American adolescents. Journal of Research and Development in Education, 23(2), 65–72.

Carver, C. S., & Scheier, M. F. (2005). Optimism. Dalam C. R. Snyder & S. J. Lopez (Eds.), Handbook of positive psychology (hlm. 231–256). Oxford University Press.

Jones, L. R. (2001/2011). Academic integrity & academic dishonesty: A handbook about cheating & plagiarism. Florida Institute of Technology.

Michaels, J. W., & Miethe, T. D. (1989). Applying theories of deviance to academic cheating. Social Science Quarterly, 70(4), 870–885.

Newstead, S. E., Franklyn-Stokes, A., & Armstead, P. (1996). Individual differences in student cheating. Journal of Educational Psychology, 88(2), 229–241.

Schulman, P. (1995). Explanatory style and achievement in school and work. Dalam G. M. Buchanan & M. E. P. Seligman (Eds.), Explanatory style (hlm. 159–171). Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum.

Seligman, M. E. P. (1990). Learned optimism. New York: Knopf.

Snyder, C. R., Cheavens, J., & Sympson, S. C. (1997). Hope: An individual motive for social competence. Group Dynamics: Theory, Research, and Practice, 1(2), 107–118.

Snyder, C. R., Shorey, H. S., Cheavens, J., Pulvers, K. M., Adams, V. H., III, & Wiklund, C. (2002). Hope and academic success in college. Journal of Educational Psychology, 94(4), 820–826.

Yates, S. M. (2002). The influence of optimism and pessimism on student achievement in mathematics. Mathematics Education Research Journal, 14(1), 4–15.

Yunissa, R. A. (2012). Hubungan antara optimisme dan menyontek pada mahasiswa [Skripsi, Universitas Indonesia].

WEBINAR BER-SKP HIMPSI


Hasil temuan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan RI 2025-2026, menunjukan bahwa ratusan ribu anak Indonesia terdeteksi mengalami gejala kecemasan dan depresi. Angka ini tentu menjadi alarm bagi kita, untuk dapat lebih siap dan sigap dalam menangani permasalahan tersebut. 

Memanggil seluruh psikolog, mahasiswa, ilmuwan, dan praktisi psikologi, serta rekan-rekan yang tertarik dengan kesehatan mental. Yuk, tingkatkan wawasan dan kompetensimu melalui webinar pelatihan ini!

✨ Webinar Pelatihan ''Memahami Penanganan Anak dengan Kecemasan dan Depresi: Tinjauan Kasus dan Pendekatan Intervensi yang Tepat''

📅 Sabtu, 13 Juni 2026

⏰ 08.00 - 15.30 WIB

💻 Online Zoom Meeting

🎓 Benefit : E-Sertifikat, Ilmu, dan SKP HIMPSI (bagi anggota HIMPSI)

🎙️ Narasumber : 

1. Dr. Dra. Sugiarti, M.Kes., Psikolog   

2. Seruni Trie Lyca, M. Psi., Psikolog

☎️ Contact Person : 

088212534705 (Aruni)

085232767978 (Sunu)

🔗 Daftar sekarang melalui:

bit.ly/PenangananCemasdanDepresiAnak 

atau scan QR Code pada poster.

Jangan lewatkan kesempatan untuk belajar langsung dari ahlinya! 🚀

#InsanQPsychologicalServices

#PIONClinician #HIMPSIBanten 

#webinarpelatihanberskphimpsi

#webinarkesehatanmental

#webinarpsikologi 

Subcategories

Artikel Menarik Lainnya

Pernah mendengar kalimat seperti, “perempuan itu terlalu emosional,” atau “laki-laki jangan...

Dalam dunia kerja baik di kantoran, pabrik atau perusahaan jasa, dll menjadi karyawan yang disukai...

Hubungan yang tidak sehat ternyata tidak hanya bisa terjadi pada sesama pasangan, teman atau rekan...

Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ( HR Buchari...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415