Menjadi orang tua di era gadget tidak berarti harus memusuhi teknologi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan teknologi tidak mengambil alih fungsi utama keluarga: membangun kedekatan, menata kebiasaan, dan menolong anak tumbuh sehat. Literatur terbaru menekankan bahwa yang paling menentukan bukan sekadar lama waktu layar, tetapi tujuan penggunaannya, konteksnya, kualitas relasi orang tua-anak, dan keseimbangannya dengan tidur, aktivitas fisik, belajar, serta interaksi langsung. Karena itu, pola asuh yang paling relevan hari ini bukan yang serba melarang atau serba membiarkan, melainkan yang hangat, terarah, dan bisa menyesuaikan kebutuhan anak menurut usia dan situasinya (Moreno et al., 2024; World Health Organization, 2019; Tan et al., 2025).

Agar benar-benar bisa langsung dipraktikkan, berikut langkah-langkah yang paling masuk akal untuk diterapkan di rumah.

1. Buat aturan keluarga yang sederhana, jelas, dan bisa dijalankan

Jangan mulai dari aturan yang terlalu banyak. Mulailah dari 3 hal: kapan gadget boleh dipakai, di mana gadget tidak boleh dipakai, dan untuk apa gadget dipakai. Misalnya: tidak ada gawai saat makan, satu jam sebelum tidur layar disimpan, dan penggunaan utama pada hari sekolah adalah untuk belajar atau komunikasi yang perlu. AAP menekankan pentingnya Family Media Plan agar penggunaan media tidak “mengusir” tidur, aktivitas fisik, tugas sekolah, dan waktu keluarga. WHO juga menegaskan bahwa pada anak kecil, screen-based sedentary time harus dilihat bersama tidur dan gerak tubuh dalam satu kesatuan 24 jam (Moreno et al., 2024; World Health Organization, 2019).

2. Dampingi anak saat online, jangan hanya mengawasi dari jauh

Anak lebih terbantu ketika orang tua hadir untuk menjelaskan, mendiskusikan, dan menemani, bukan hanya memeriksa atau melarang. Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa digital parenting berkaitan dengan lebih rendahnya negative digital wellbeing anak, dan bentuk yang paling terkait dengan positive digital wellbeing adalah positive mediation—yakni pendampingan lewat percakapan, penjelasan, dan arahan yang membantu anak memahami pengalaman digitalnya. Pada anak usia dini, co-use atau penggunaan bersama juga berkaitan positif dengan hasil kognitif, sementara konten yang tidak sesuai usia dan penggunaan layar orang tua selama rutinitas anak berkaitan dengan luaran psikososial yang lebih buruk (Tan et al., 2025; Mallawaarachchi et al., 2024).

3. Jadilah teladan digital yang ingin Anda lihat pada anak

Sulit meminta anak tidak terus-menerus menatap layar bila orang tua sendiri selalu memegang ponsel saat anak bicara. Studi tentang relasi orang tua-anak di era digital menunjukkan bahwa negative digital role modeling dan digital negligence berkaitan dengan hubungan orang tua-anak yang lebih lemah, sedangkan penggunaan teknologi yang efektif dan perlindungan dari risiko digital berkaitan dengan hubungan yang lebih positif. Meta-analisis lain juga menemukan hubungan yang cukup kuat antara parental technoference—gangguan interaksi karena orang tua sibuk dengan perangkat—dan problematic media use pada anak (Toran et al., 2024; Zhang et al., 2025).

Langkah praktisnya sederhana: saat anak bercerita, letakkan ponsel. Saat makan, semua anggota keluarga bebas gawai. Saat menemani anak belajar atau bermain, fokus pada anak, bukan notifikasi.

4. Bedakan ketegasan dengan kekakuan

Anak tetap membutuhkan batas, tetapi batas yang baik harus bisa dijelaskan. Misalnya, “Gawai disimpan jam 8 malam supaya tidurmu tidak terganggu,” bukan sekadar “Pokoknya jangan main.” AAP mencatat bahwa media dapat mengganggu tidur, menurunkan aktivitas fisik, dan berkaitan dengan regulasi emosi, keberhasilan sekolah, serta kesehatan mental. Karena itu, aturan digital yang baik seharusnya selalu dihubungkan dengan kebutuhan perkembangan anak, bukan hanya dengan rasa khawatir orang tua (Moreno et al., 2024).

5. Bangun kebiasaan ngobrol tentang dunia digital, bukan hanya saat ada masalah

Anak perlu merasa bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk bercerita tentang apa yang mereka lihat, sukai, takutkan, atau bingungkan di internet. UNICEF menekankan pentingnya membicarakan peran teknologi dalam hidup keluarga sejak awal dan sesering mungkin, termasuk membahas kekhawatiran tentang konten, gangguan terhadap aktivitas lain, dan situasi online yang membuat anak bingung atau tidak nyaman. Ketika orang tua rutin bertanya dengan nada tenang—“Hari ini nonton apa?” “Ada yang bikin kamu tidak nyaman?”—anak lebih mungkin jujur saat mengalami masalah (UNICEF, n.d.).

6. Sesuaikan pendekatan dengan usia dan kondisi anak

Tidak ada satu pola digital parenting yang cocok untuk semua keluarga. Meta-analisis Tan dkk. menegaskan bahwa tidak ada pendekatan tunggal yang bekerja untuk semua bentuk digital wellbeing. APA juga menekankan bahwa dampak media sosial pada anak dan remaja bergantung pada karakter psikologis anak, kondisi sosialnya, serta fitur platform yang digunakan. Itu sebabnya anak usia 6 tahun, 11 tahun, dan 15 tahun tidak bisa diperlakukan sama. Anak yang lebih kecil perlu lebih banyak pendampingan langsung, sedangkan anak yang lebih besar perlu kombinasi antara pengawasan, dialog, dan latihan tanggung jawab (Tan et al., 2025; American Psychological Association, 2023).

7. Fokus pada kualitas penggunaan, bukan durasi semata

Durasi tetap penting, tetapi kualitas jauh lebih menentukan. Penelitian menunjukkan bahwa konteks penggunaan layar memengaruhi hasil perkembangan anak: program viewing yang berlebihan, televisi latar, dan konten yang tidak sesuai usia berkaitan dengan hasil kognitif atau psikososial yang lebih buruk, sedangkan penggunaan bersama orang tua memberi hasil yang lebih baik pada aspek kognitif. Jadi, satu jam menonton konten yang tepat sambil ditemani dan didiskusikan tidak sama dengan satu jam scrolling sendiri tanpa arah (Mallawaarachchi et al., 2024).

8. Ajarkan keamanan digital sebagai bagian dari pengasuhan sehari-hari

Anak perlu dibimbing untuk memahami bahwa dunia online juga punya aturan keselamatan. UNICEF mengingatkan bahwa aktivitas online membawa risiko terkait privasi, keamanan, dan konten berbahaya, serta menyarankan orang tua membiasakan anak berpikir sebelum membagikan identitas pribadi, lokasi, foto, atau informasi sensitif. Orang tua juga perlu memeriksa pengaturan privasi perangkat, aplikasi, dan game yang dipakai anak, lalu menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dipahami (UNICEF, n.d.).

9. Waspadai tanda-tanda bahwa teknologi sudah mulai merugikan anak

Perubahan yang perlu diperhatikan antara lain tidur yang mulai berantakan, anak makin mudah marah saat gadget dihentikan, berkurangnya minat pada aktivitas fisik atau pertemanan langsung, sulit fokus belajar, dan hubungan keluarga yang makin renggang. AAP menyoroti bahwa media berhubungan dengan tidur, aktivitas fisik, emosi, sekolah, dan kesehatan mental. Jika layar mulai mengganggu area-area ini, orang tua perlu menata ulang rutinitas digital di rumah, bukan menunggu masalah menjadi lebih berat (Moreno et al., 2024).

10. Mulai dari perubahan kecil yang konsisten

Perubahan digital di rumah tidak harus dimulai dari aturan besar. Justru yang paling efektif sering kali adalah kebiasaan kecil yang terus dijaga: 20 menit ngobrol tanpa gawai setiap malam, satu zona bebas layar di rumah, satu hari dalam sepekan dengan lebih banyak aktivitas fisik dan tatap muka, atau kebiasaan menonton dan berdiskusi bersama. Literatur AAP dan UNICEF sama-sama mengarah pada satu hal: teknologi menjadi lebih sehat saat keluarga punya ritme yang disengaja, bukan dibiarkan mengalir tanpa arah (Moreno et al., 2024; UNICEF, n.d.).

Penutup

Menjadi orang tua milenial yang bijak bukan berarti serba tahu soal teknologi. Yang lebih penting adalah hadir, mau belajar, dan cukup tenang untuk membimbing anak langkah demi langkah. Pendampingan yang paling sehat hari ini bukan yang paling keras, tetapi yang paling konsisten: ada aturan, ada teladan, ada dialog, dan ada kepekaan terhadap kebutuhan anak yang terus berubah. Saat itulah teknologi lebih mungkin menjadi alat yang membantu anak belajar, berkreasi, dan berkembang, bukan sesuatu yang diam-diam mengambil alih hidupnya (American Psychological Association, 2023; Tan et al., 2025; Zhang et al., 2025).

Rujukan inti

American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence.

Mallawaarachchi, S., Burley, J., Mavilidi, M., Howard, S. J., Straker, L., Kervin, L., Staton, S., Hayes, N., Machell, A., Torjinski, M., Brady, B., Thomas, G., Horwood, S., White, S. L. J., Zabatiero, J., Rivera, C., & Cliff, D. (2024). Early childhood screen use contexts and cognitive and psychosocial outcomes: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics.

Moreno, M. A., Radesky, J., Walsh, M. C., & Tomopoulos, S. (2024). The family media plan. Pediatrics, 154(6), e2024067417.

Tan, C. Y., Xu, N., Liang, M., & Li, L. (2025). Meta-analysis of associations between digital parenting and children's digital wellbeing. Educational Research Review, 49, 100699.

Toran, M., Kulaksız, T., & Özden, B. (2024). The parent–child relationship in the digital era: The mediator role of digital parental awareness. Children and Youth Services Review, 161, 107617.

UNICEF. (n.d.). Digital parenting; 10 ways to create healthy digital habits at home; Online privacy checklist for parents.

World Health Organization. (2019). Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age.

Zhang, J., Zhang, Q., Xiao, B., Cao, Y., Chen, Y., & Li, Y. (2025). Parental technoference and child problematic media use: Meta-analysis. Journal of Medical Internet Research, 27, e57636.

Di era gadget, persoalan utamanya bukan lagi apakah anak akan berhadapan dengan teknologi, melainkan bagaimana ia dibimbing saat tumbuh di tengah teknologi itu. Media digital sudah masuk ke ruang belajar, pertemanan, hiburan, bahkan cara anak membentuk identitas dirinya. Karena itu, peran orang tua tidak cukup berhenti pada memberi izin atau melarang. Yang jauh lebih menentukan adalah apakah orang tua hadir sebagai penuntun yang membantu anak membangun kebiasaan digital yang sehat, aman, dan sesuai tahap perkembangannya. Pendekatan terbaru American Academy of Pediatrics juga bergerak ke arah itu: bukan sekadar menghitung durasi layar, tetapi menata penggunaan media agar selaras dengan kebutuhan anak, rutinitas keluarga, dan tujuan pengasuhan (Moreno et al., 2024; World Health Organization, 2019).

Pijakan awalnya sederhana: penggunaan media di rumah selalu terkait dengan kualitas hidup keluarga secara keseluruhan. Moreno dan rekan-rekan menegaskan bahwa media keluarga berkaitan erat dengan stres keluarga, dukungan sosial, akses terhadap kegiatan lain, dan keterhubungan di rumah; pada satu waktu media bisa membantu fungsi keluarga, tetapi pada waktu lain juga bisa menjauhkan keluarga dari tujuan dan kedekatan yang mereka inginkan. Karena itu, rumah perlu punya budaya digital yang jelas. Bukan rumah yang membiarkan layar mengatur ritme hidup, melainkan rumah yang menentukan sendiri kapan media dipakai, untuk apa dipakai, dan kapan harus disimpan agar tidak mengambil alih tidur, belajar, gerak, ibadah, atau percakapan tatap muka (Moreno et al., 2024).

Itulah mengapa teladan orang tua jauh lebih kuat daripada nasihat panjang. Penelitian Toran, Kulaksız, dan Özden menunjukkan bahwa negative role modeling dan digital negligence berkaitan dengan hubungan orang tua–anak yang lebih lemah, sedangkan penggunaan teknologi yang efisien dan perlindungan dari risiko digital berkaitan dengan hubungan yang lebih positif. Temuan ini diperkuat oleh meta-analisis Zhang dkk. yang menemukan hubungan positif yang cukup kuat antara parental technoference—gangguan interaksi orang tua-anak karena orang tua sibuk dengan perangkat—dan problematic media use pada anak (r = 0,296). Jadi, ketika orang tua terus menatap layar saat anak bicara, saat makan bersama, atau saat waktu keluarga, masalahnya bukan hanya soal etika, tetapi juga soal kualitas keterikatan emosional dan pola media anak itu sendiri (Toran et al., 2024; Zhang et al., 2025).

Karena itu, mendampingi anak di era gadget tidak cukup dilakukan dengan model pengawasan yang hanya bernada larangan. Bukti terbaru justru menunjukkan bahwa cara orang tua mendampingi perlu lebih cermat. Meta-analisis Tan, Xu, Liang, dan Li terhadap 88 studi menemukan bahwa digital parenting secara umum berhubungan dengan lebih rendahnya negative digital wellbeing pada anak, dan bentuk yang paling terkait dengan positive digital wellbeing adalah positive mediation—yakni pendampingan yang berisi penjelasan, percakapan, dan arahan yang membantu anak memahami apa yang ia lakukan di ruang digital. Temuan itu juga menunjukkan tidak ada satu rumus yang cocok untuk semua keluarga. Artinya, orang tua perlu tegas, tetapi ketegasan itu harus diisi dialog, bukan hanya pembatasan satu arah (Tan et al., 2025).

Pendampingan seperti itu juga harus mengikuti tahap perkembangan anak. Advisory American Psychological Association menegaskan bahwa dampak media sosial pada remaja bergantung pada karakteristik pribadi anak, kondisi psikologis dan sosialnya, serta fitur platform yang ia gunakan. Advisory yang sama menyarankan bahwa pada awal masa remaja, kira-kira usia 10–14 tahun, kebanyakan anak masih memerlukan pemantauan orang dewasa yang berisi peninjauan, diskusi, dan pembinaan yang berkelanjutan; otonomi bisa ditambah perlahan seiring bertambahnya usia dan literasi digital anak. Ini berarti orang tua tidak seharusnya buru-buru melepas, tetapi juga tidak seharusnya mengontrol tanpa tujuan. Anak perlu didampingi sampai mampu mengelola dirinya sendiri, bukan dibiarkan berenang sendirian di ruang digital yang kompleks (American Psychological Association, 2023).

Selain itu, fokus orang tua tidak boleh berhenti pada pertanyaan “berapa lama anak menatap layar?” Penelitian Mallawaarachchi dkk. menunjukkan bahwa konteks penggunaan layar jauh lebih penting daripada sekadar jumlah waktunya. Dalam meta-analisis itu, lebih banyak program viewing dan paparan televisi latar berkaitan dengan hasil kognitif yang lebih buruk, sementara age-inappropriate content dan penggunaan layar orang tua selama rutinitas anak berkaitan dengan hasil psikososial yang lebih buruk. Sebaliknya, penggunaan layar bersama orang tua (co-use) berkaitan positif dengan hasil kognitif. Temuan ini sangat penting bagi orang tua: teknologi lebih mungkin menjadi hal positif ketika anak tidak dibiarkan sendiri bersama algoritme, tetapi didampingi, diajak berbicara, dan dibantu memahami isi yang ia tonton atau mainkan (Mallawaarachchi et al., 2024).

Pada saat yang sama, keseimbangan hidup anak harus tetap dijaga. WHO menegaskan bahwa pada anak kecil, screen-based sedentary time perlu dilihat bersama kebutuhan tidur dan aktivitas fisik dalam satu kesatuan 24 jam. Moreno dkk. juga menempatkan crowding out sebagai salah satu prinsip penting: media tidak boleh menyingkirkan aktivitas yang lebih mendasar bagi perkembangan, seperti tidur yang cukup, koneksi tatap muka, bermain aktif, dan pengaturan emosi yang sehat. Jadi, aturan penggunaan gadget akan jauh lebih masuk akal bila disusun dari kebutuhan hidup anak secara utuh, bukan dari kepanikan orang dewasa semata (World Health Organization, 2019; Moreno et al., 2024).

Peran orang tua juga mencakup perlindungan privasi dan keamanan digital. UNICEF mengingatkan bahwa dunia online memberi banyak peluang, tetapi juga membawa risiko mulai dari privasi, keamanan, sampai konten berbahaya. Dalam panduan privasinya, UNICEF menekankan bahwa setiap klik, unggahan, dan komentar meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus; karena itu orang tua perlu membantu anak melindungi identitas dan data pribadinya. Langkah-langkah yang dianjurkan sangat konkret: memperbarui perangkat, meninjau pengaturan privasi dan izin aplikasi, mengaktifkan kontrol orang tua bila perlu, memakai kata sandi yang kuat, dan membiasakan anak berhati-hati terhadap permintaan akses kamera, mikrofon, lokasi, dan kontak. Dengan kata lain, mendampingi anak di era gadget berarti juga mengajarkan kebijaksanaan digital, bukan sekadar sopan santun digital (UNICEF, n.d.-a; UNICEF, n.d.-b).

Semua ini penting karena bukti longitudinal terbaru tidak mendukung sikap santai yang menganggap penggunaan media digital akan “baik-baik saja dengan sendirinya.” Meta-analisis Teague dkk. terhadap 153 studi longitudinal menemukan kaitan yang konsisten antara penggunaan media digital dan luaran kesehatan serta perkembangan yang lebih buruk pada anak dan remaja, dengan asosiasi yang paling jelas pada penggunaan media sosial. Temuan mereka tidak mengarah pada kepanikan moral, tetapi justru menegaskan perlunya bimbingan yang lebih cermat, bernuansa, dan sesuai perkembangan anak. Karena itu, peran orang tua di era gadget paling tepat dipahami sebagai peran pengarah: membangun teladan, membuat batas yang masuk akal, membuka percakapan yang aman, memilihkan konteks penggunaan yang sehat, dan secara bertahap menolong anak menjadi pribadi yang mampu mengelola teknologi dengan tanggung jawab (Teague et al., 2026; American Psychological Association, 2023; Moreno et al., 2024).

DAFTAR REFERENSI

American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence.

Mallawaarachchi, S., Burley, J., Mavilidi, M., Howard, S. J., Straker, L., Kervin, L., Staton, S., Hayes, N., Machell, A., Torjinski, M., Brady, B., Thomas, G., Horwood, S., White, S. L. J., Zabatiero, J., Rivera, C., & Cliff, D. (2024). Early childhood screen use contexts and cognitive and psychosocial outcomes: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics.

Moreno, M. A., Radesky, J., Walsh, M. C., & Tomopoulos, S. (2024). The Family Media Plan. Pediatrics, 154(6), e2024067417.

Tan, C. Y., Xu, N., Liang, M., & Li, L. (2025). Meta-analysis of associations between digital parenting and children’s digital wellbeing. Educational Research Review, 49, 100699.

Teague, S., Somoray, K., Shatte, A., et al. (2026). Digital media use and child health and development: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics.

Toran, M., Kulaksız, T., & Özden, B. (2024). The parent–child relationship in the digital era: The mediator role of digital parental awareness. Children and Youth Services Review, 161, 107617.

UNICEF. (n.d.-a). Digital parenting.

UNICEF. (n.d.-b). Online privacy checklist for parents.

World Health Organization. (2019). Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age.

Zhang, J., Zhang, Q., Xiao, B., Cao, Y., Chen, Y., & Li, Y. (2025). Parental technoference and child problematic media use: Meta-analysis. Journal of Medical Internet Research, 27, e57636.

Hari ini, dunia digital bukan lagi sekadar alat tambahan dalam hidup anak. Ia sudah menjadi lingkungan tempat anak belajar, bermain, mencari teman, membentuk identitas, dan mengenal dunia. Karena itu, bahaya digital tidak cukup dipahami hanya sebagai soal “anak kebanyakan main gadget.” Filsafat media sejak lama mengingatkan bahwa media bukan wadah netral; media ikut membentuk cara kita merasakan, memperhatikan, dan berhubungan. McLuhan menyebut bahwa the medium is the message, sedangkan Floridi menekankan bahwa kehidupan digital telah mengubah cara kita memahami diri dan relasi kita di dalam infosphere. Dalam konteks anak, ini berarti risiko digital bukan hanya soal isi yang buruk, tetapi juga soal bagaimana platform mengatur perhatian, jejak, kedekatan, dan rasa aman mereka (McLuhan, 1964/2001; Floridi, 2011; Floridi, 2014; van Dijck et al., 2018; boyd, 2015).

Dari sudut psikologi perkembangan, masa anak dan remaja memang periode yang sangat peka. Steinberg menjelaskan bahwa remaja mengalami transisi biologis, kognitif, sosial, dan psikososial yang besar, sementara Erikson sejak lama menunjukkan bahwa fase ini sangat terkait dengan pembentukan identitas. Artinya, anak dan remaja belum hanya “lebih sering online,” tetapi juga sedang berada pada fase perkembangan ketika kebutuhan akan penerimaan, eksplorasi diri, rasa ingin tahu, dan pengakuan sosial sedang sangat kuat. Itu sebabnya dunia digital bisa terasa sangat menarik sekaligus sangat berisiko pada usia ini (Steinberg, 2023; Erikson, 1968).

Privasi: anak bukan hanya pengguna, tetapi juga objek data

Salah satu bahaya paling sering diremehkan adalah privasi. Banyak orang tua masih membayangkan privasi sebagai soal anak tidak mengunggah hal memalukan. Padahal, di era platform, privasi juga berarti siapa yang mengumpulkan data anak, siapa yang melihat jejak digitalnya, siapa yang menyimpan fotonya, dan siapa yang bisa menghubunginya. Lupton dan Williamson menyebut anak masa kini makin sering menjadi objek berbagai perangkat pemantauan dan pengumpulan data, sehingga masa kanak-kanak ikut terdorong ke dalam proses datafication dan dataveillance. Evidence review dari LSE juga menegaskan bahwa aktivitas online anak menjadi sasaran banyak proses pemantauan dan produksi data, sementara pengakuan atas hak privasi anak di ranah digital masih relatif baru (Lupton & Williamson, 2017; Stoilova et al., 2021).

Risikonya menjadi lebih nyata ketika data atau gambar anak dibagikan tanpa benar-benar mempertimbangkan suara dan kepentingan anak itu sendiri. Dalam studi Claire Bessant, publikasi foto anak di media sosial oleh sekolah dapat mengganggu hak privasi dan otonomi anak, sekaligus membuka kemungkinan paparan pada gangguan seperti pelecehan dan grooming. Dari sudut cybersecurity, ini penting: semakin luas data pribadi, gambar, kebiasaan, dan identitas anak tersebar, semakin besar pula permukaan risiko yang bisa dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab. Jadi, isu privasi anak bukan soal “terlalu sensitif,” tetapi soal perlindungan dasar terhadap identitas, keamanan, dan agensi anak (Bessant, 2024; van Dijck et al., 2018).

Cyberbullying: luka yang tidak selesai ketika anak pulang ke rumah

Kalau dulu bullying sering berhenti ketika jam sekolah selesai, di dunia digital luka itu bisa ikut pulang ke rumah, masuk ke kamar, dan muncul lagi lewat notifikasi. WHO/Europe melaporkan bahwa cyberbullying meningkat seiring makin terdigitalisasinya interaksi remaja, dan pada 2024 bahkan diringkas sebagai pengalaman yang dialami sekitar satu dari enam anak usia sekolah. Umbrella review di Nature Human Behaviour menunjukkan bahwa korban cyberbullying secara konsisten mengalami lebih banyak masalah internalisasi dan emosi, termasuk kecemasan, depresi, stres, kesepian, self-harm, dan perilaku bunuh diri; sementara meta-analisis longitudinal juga menemukan bahwa cyberbullying victimization berhubungan positif dengan gejala kesehatan mental yang lebih buruk dari waktu ke waktu pada anak dan remaja (WHO/Europe, 2024; Kasturiratna et al., 2025; Lee et al., 2025).

Dari sudut psikologi klinis, cyberbullying berat bukan cuma “anak jadi sedih.” Ia bisa bekerja sebagai stresor sosial yang terus aktif: mempermalukan, mengisolasi, dan merusak penilaian diri anak berulang kali. Dari sudut psikologi digital, karakter media digital memperparahnya: pesan bisa tersebar cepat, jejaknya menetap, audiensnya luas, dan serangannya bisa terasa tanpa jeda. Karena itu, cyberbullying sering lebih melelahkan secara emosional daripada yang dibayangkan orang dewasa, apalagi jika anak juga merasa tidak aman untuk bercerita karena takut gadget-nya disita atau tidak dipercaya (Lee et al., 2025; boyd, 2015).

Stranger danger sekarang tidak selalu datang dari orang asing yang terlihat asing

Di dunia digital, “orang asing” tidak selalu tampak menyeramkan. Ia bisa hadir sebagai akun yang ramah, perhatian, lucu, atau tampak sebaya. Inilah yang membuat online grooming jauh lebih rumit daripada nasihat lama “jangan bicara dengan orang asing.” Review sistematis terbaru menunjukkan bahwa cybergrooming merupakan fenomena yang cukup prevalen, dan dari 34 studi yang dianalisis dapat diasumsikan bahwa setidaknya satu dari sepuluh anak muda terdampak, walau angka pastinya bervariasi karena definisi dan alat ukur yang berbeda. Review itu juga menunjukkan bahwa perilaku berisiko, keterbukaan terhadap orang asing, pengungkapan informasi pribadi, beberapa bentuk kerentanan psikologis, serta kurangnya pengawasan atau dukungan tertentu dapat berkaitan dengan victimization ini (Wachs et al., 2024).

Kajian kualitatif Reneses dan rekan-rekan membuat mekanismenya lebih mudah dipahami. Mereka menemukan bahwa faktor yang paling menonjol adalah isolasi sosial, risiko tertinggi muncul pada fase remaja karena rasa ingin tahu dan perubahan perkembangan, dan faktor lain seperti komunikasi keluarga yang buruk, stereotip gender, serta kurangnya pendidikan seks juga ikut berperan. Judul studi itu sendiri—“He flattered me”—sudah menunjukkan inti masalahnya: pelaku sering tidak masuk lewat ancaman, tetapi lewat pujian, perhatian, validasi, dan rasa “akhirnya ada yang mengerti aku.” Jadi, stranger danger di era digital sering bekerja bukan melalui ketakutan langsung, tetapi melalui manipulasi kedekatan (Reneses et al., 2024).

Kecemasan dan depresi: risikonya nyata, tetapi tidak sesederhana “layar bikin anak sakit mental”

Di bagian ini, penting untuk hati-hati. Sains psikologi saat ini tidak mendukung kesimpulan yang terlalu sederhana, misalnya “media sosial pasti merusak semua anak.” APA menegaskan bahwa dampak media sosial pada remaja bergantung pada karakteristik psikologis anak, keadaan sosialnya, isi yang ia lihat, serta fitur platform yang ia pakai. Umbrella review tentang social media use dan kesehatan mental remaja juga menyimpulkan hal serupa: media sosial membawa risiko sekaligus peluang, dan dampaknya dipengaruhi oleh jenis penggunaan, ciri pribadi, serta desain platform, bukan hanya durasi pemakaian (American Psychological Association, 2023; European Commission Joint Research Centre, 2024).

Meski begitu, risiko klinisnya tidak bisa diabaikan. Studi kohort besar di JAMA Network Open terhadap 11.876 anak dan remaja menemukan bahwa peningkatan penggunaan media sosial di atas rata-rata pribadi pada usia awal remaja berkaitan dengan gejala depresi yang lebih tinggi pada tahun berikutnya. WHO/Europe juga melaporkan bahwa tanda problematic social media use pada remaja meningkat dari 7% pada 2018 menjadi 11% pada 2022, dan pola penggunaan bermasalah ini juga berkaitan dengan tidur yang lebih sedikit dan jam tidur yang lebih malam. Jadi, untuk sebagian anak, terutama yang sedang rentan, dunia digital memang bisa menjadi faktor yang memperburuk kecemasan, suasana hati, tidur, dan regulasi emosi (Rote et al., 2025; WHO/Europe, 2024).

Dibaca dari filsafat digital: masalahnya bukan cuma konten, tetapi juga struktur

Kalau dibaca lebih dalam melalui filsafat media dan filsafat digital, kita melihat bahwa masalah terbesar bukan hanya “ada konten jahat di internet.” Yang lebih penting adalah struktur tempat konten itu bergerak. McLuhan membantu kita melihat bahwa bentuk medianya sendiri mengubah pengalaman manusia. Floridi menambahkan bahwa manusia kini hidup dalam infosphere, sehingga persoalan digital menyentuh pertanyaan mendasar tentang siapa kita dan bagaimana kita hidup bersama. Sementara van Dijck dan rekan-rekan menunjukkan bahwa platform tidak sekadar menghubungkan orang, tetapi juga membawa nilai-nilai tertentu—termasuk privasi, keamanan, akurasi, dan akuntabilitas—yang sering dipertarungkan dengan kepentingan komersial. Dengan kata lain, bahaya digital bagi anak bukan hanya berasal dari pengguna nakal, tetapi juga dari arsitektur platform yang mendorong keterlihatan, pelacakan, rekomendasi, dan keterikatan terus-menerus (McLuhan, 1964/2001; Floridi, 2011; Floridi, 2014; van Dijck et al., 2018).

Di sini masuklah gagasan struktur epistemik digital. Secara sederhana, ini adalah cara dunia digital mengatur apa yang terlihat, siapa yang dipercaya, apa yang dianggap penting, dan pengetahuan seperti apa yang terus diulang. Anak-anak belajar bukan hanya dari guru dan orang tua, tetapi juga dari feed, notifikasi, rekomendasi, popularitas, dan komentar. Jika struktur ini terus menonjolkan sensasi, validasi instan, atau visibilitas ekstrem, maka anak bisa belajar bahwa nilai diri ditentukan oleh angka, perhatian, atau respons publik. Karena itu, bahaya digital juga bersifat epistemik: ia membentuk cara anak mengenali kebenaran, menilai diri, memahami relasi, dan mempercayai orang lain. Itulah mengapa boyd mengingatkan bahwa proteksionisme tanpa literasi sering gagal; anak justru perlu dibekali kemampuan berpikir, membaca situasi, dan memahami logika media yang mereka gunakan (boyd, 2015; van Dijck et al., 2018).

Lalu apa yang perlu dilakukan orang tua?

Dari semua temuan ini, pesan utamanya bukan “jauhkan anak sepenuhnya dari dunia digital.” Pesan yang lebih tepat adalah: anak perlu perlindungan, literasi, dan relasi yang aman. Data tentang cyberbullying menunjukkan bahwa lingkungan keluarga yang positif berkaitan dengan risiko victimization yang lebih rendah, dan intervensi anti-cyberbullying termasuk pendidikan orang tua juga membantu. Meta-analisis longitudinal tentang cyberbullying bahkan menekankan pentingnya positive parent-child emotional bonding dan strategi mediasi aktif, bukan sekadar larangan keras. Dalam konteks grooming, komunikasi keluarga yang buruk justru menjadi faktor risiko. Maka, untuk orang tua masa kini, tugas utamanya bukan cuma membatasi layar, tetapi membangun literasi privasi, kebiasaan bicara terbuka, kepekaan emosi, dan kemampuan anak membaca risiko digital dengan tenang dan realistis (Kasturiratna et al., 2025; Lee et al., 2025; Reneses et al., 2024).

Pada akhirnya, bahaya dunia digital bagi anak harus dibaca lebih luas daripada sekadar daftar ancaman. Ia menyentuh tubuh, emosi, identitas, keamanan data, rasa aman sosial, dan bahkan cara anak membangun pengetahuan tentang diri dan dunia. Karena itu, pendekatan terbaik bukan panik, tetapi melek struktur: paham bagaimana platform bekerja, paham fase perkembangan anak, paham tanda-tanda klinis yang perlu diwaspadai, dan paham bahwa perlindungan digital yang baik selalu bertumpu pada hubungan yang hangat dan bisa dipercaya antara anak dan orang dewasa di sekitarnya (American Psychological Association, 2023; WHO/Europe, 2024; van Dijck et al., 2018; Steinberg, 2023).

REFERENSI

World Health Organization Regional Office for Europe. (2024, March 27). One in six school-aged children experiences cyberbullying, finds new WHO/Europe study.

World Health Organization Regional Office for Europe. (2024, September 25). Teens, screens and mental health.

Nagata, J. M., Otmar, C. D., Shim, J., Balasubramanian, P., Cheng, C. M., Li, E. J., Al-Shoaibi, A. A. A., Shao, I. Y., Ganson, K. T., Testa, A., Kiss, O., He, J., & Baker, F. C. (2025). Social media use and depressive symptoms during early adolescence. JAMA Network Open, 8(5), e2511704. doi:10.1001/jamanetworkopen.2025.11704

American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.

Bessant, C. (2024). School social media use and its impact upon children’s rights to privacy and autonomy. Computers and Education Open, 6, Article 100185. doi:10.1016/j.caeo.2024.100185

Kasturiratna, K. T. A. S., Hartanto, A., Chen, C. H. Y., Tong, E. M. W., & Majeed, N. M. (2025). Umbrella review of meta-analyses on the risk factors, protective factors, consequences and interventions of cyberbullying victimization. Nature Human Behaviour, 9, 101–132. doi:10.1038/s41562-024-02011-6

Lee, J., Choo, H., Zhang, Y., Zhang, Q., Cheung, H. S., & Ang, R. P. (2025). Cyberbullying victimization and mental health symptoms among children and adolescents: A meta-analysis of longitudinal studies. Trauma, Violence, & Abuse, 27(2), 391–406. doi:10.1177/15248380241313051

Lupton, D., & Williamson, B. (2017). The datafied child: The dataveillance of children and implications for their rights. New Media & Society, 19(5), 780–794. doi:10.1177/1461444816686328

Reneses, M., Riberas-Gutiérrez, M., & Bueno-Guerra, N. (2024). “He flattered me”: A comprehensive look into online grooming risk factors: Merging voices of victims, offenders and experts through in-depth interviews. Cyberpsychology: Journal of Psychosocial Research on Cyberspace, 18(4), Article 3. doi:10.5817/CP2024-4-3

Sala, A., Porcaro, L., & Gómez, E. (2024). Social media use and adolescents’ mental health and well-being: An umbrella review. Computers in Human Behavior Reports, 14, Article 100404. doi:10.1016/j.chbr.2024.100404

Stoilova, M., Livingstone, S., & Nandagiri, R. (2020). Digital by default: Children’s capacity to understand and manage online data and privacy. Media and Communication, 8(4), 197–207. doi:10.17645/mac.v8i4.3407

Wachs, S., Schittenhelm, C., Kops, M., Moosburner, M., & Fischer, S. M. (2025). Cybergrooming victimization among young people: A systematic review of prevalence rates, risk factors, and outcomes. Adolescent Research Review, 10(2), 169–200. doi:10.1007/s40894-024-00248-w

boyd, d. (2014). It’s complicated: The social lives of networked teens. Yale University Press.

Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis. W. W. Norton.

Floridi, L. (2011). The philosophy of information. Oxford University Press.

Floridi, L. (2014). The fourth revolution: How the infosphere is reshaping human reality. Oxford University Press.

McLuhan, M. (2001). Understanding media: The extensions of man (2nd ed.). Routledge. (Original work published 1964)

Steinberg, L. (2023). Adolescence (13th ed.). McGraw Hill.

van Dijck, J., Poell, T., & de Waal, M. (2018). The platform society: Public values in a connective world. Oxford University Press

Era digital membuat kehidupan anak hari ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Belajar, bermain, berkomunikasi, bahkan mencari hiburan kini banyak terjadi lewat layar. Karena itu, membahas gadget dan media sosial tidak cukup kalau hanya memakai sudut pandang “bahaya” atau “manfaat” saja. Yang lebih tepat adalah melihatnya secara utuh: teknologi bisa membantu anak belajar, berkreasi, dan merasa terhubung, tetapi juga bisa membawa risiko bila dipakai tanpa pendampingan, tanpa batas yang sehat, atau sampai menggusur kebutuhan dasar anak seperti tidur, bergerak, dan berinteraksi langsung. UNICEF menekankan bahwa risiko digital tidak otomatis berubah menjadi dampak buruk; pengalaman digital anak sangat dipengaruhi konteks penggunaan, usia, lingkungan, dan dukungan orang dewasa di sekitarnya (UNICEF Innocenti, 2024; American Academy of Pediatrics, 2024).

Dari sisi perkembangan fisik, isu yang paling sering muncul adalah berkurangnya gerak, terganggunya tidur, dan makin panjangnya waktu sedentari. WHO menegaskan bahwa pada masa kanak-kanak, kesehatan tidak bisa dipisahkan dari keseimbangan antara aktivitas fisik, tidur, dan waktu duduk atau diam, termasuk screen-based sedentary activities. Dalam pandangan ini, masalah utama gadget bukan semata layarnya, tetapi ketika layar mulai menggusur waktu bermain aktif, eksplorasi langsung, dan istirahat yang cukup. Itulah sebabnya WHO membuat rekomendasi 24 jam untuk anak kecil yang tidak hanya bicara soal screen time, tetapi juga soal tidur dan aktivitas fisik sebagai satu paket perkembangan yang saling terkait (WHO, 2019; WHO, 2020).

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa yang berpengaruh bukan hanya durasi layar, tetapi konteks penggunaannya. Dalam systematic review and meta-analysis di JAMA Pediatrics, Mallawaarachchi dkk. (2024) menemukan bahwa pada anak usia dini, lebih banyak program viewing dan paparan televisi latar (background television) berkaitan dengan hasil kognitif yang lebih buruk. Studi yang sama juga menunjukkan bahwa lebih banyak program viewing, konten yang tidak sesuai usia, dan penggunaan layar orang tua di tengah rutinitas anak berkaitan dengan hasil psikososial yang lebih buruk. Sebaliknya, penggunaan layar bersama orang tua atau co-use berkaitan positif dengan hasil kognitif. Ini penting, karena orang tua sering hanya fokus pada lamanya anak menatap layar, padahal jenis konten, situasi penggunaan, dan ada tidaknya pendampingan juga sangat menentukan (Mallawaarachchi et al., 2024).

Dari sisi perkembangan sosial dan emosi, situasinya juga tidak hitam-putih. U.S. Surgeon General menyebut bahwa media sosial dapat memberi manfaat bagi sebagian anak dan remaja, misalnya rasa terhubung, dukungan sosial, dan ruang berekspresi. Namun, laporan yang sama juga menegaskan bahwa ada cukup banyak indikator risiko terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan anak dan remaja, sementara bukti keamanan yang benar-benar kuat masih belum memadai. American Psychological Association menambahkan bahwa dampak media sosial pada remaja sangat bergantung pada karakteristik anak, kondisi psikologisnya, situasi sosialnya, serta fitur dan konten platform yang dipakai. Artinya, media sosial tidak berdampak sama pada semua anak; ada yang lebih rentan, ada juga yang justru merasa terbantu, terutama bila mereka menggunakannya untuk dukungan sosial yang sehat (U.S. Surgeon General, 2023; American Psychological Association, 2023).

Meski begitu, kewaspadaan tetap penting. Dalam systematic review and meta-analysis di JAMA Pediatrics, Fassi dkk. (2024) menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan gejala internalisasi, seperti kecemasan dan depresi, baik pada sampel remaja klinis maupun komunitas. Temuan seperti ini tidak berarti media sosial otomatis menjadi penyebab tunggal masalah mental, tetapi menunjukkan bahwa penggunaan yang intens atau bermasalah memang perlu diperhatikan, terutama pada anak dan remaja yang sudah rentan secara emosional. Karena itu, orang tua tidak cukup hanya bertanya, “Anak saya main gadget berapa jam?” Pertanyaan yang lebih penting sering kali adalah: “Ia sedang melihat apa, dengan siapa, untuk tujuan apa, dan setelah itu ia merasa bagaimana?” (Fassi et al., 2024; U.S. Surgeon General, 2023).

Yang juga perlu dipahami, era digital memengaruhi hubungan orang tua dan anak. American Academy of Pediatrics kini tidak lagi menekankan satu angka baku yang dianggap aman untuk semua anak dan remaja, khususnya untuk media sosial. AAP justru menyarankan agar keluarga lebih fokus pada kualitas interaksi digital, tahap perkembangan anak, isi konten, keseimbangan dengan aktivitas lain, serta komunikasi yang terbuka. AAP juga menekankan bahwa aturan yang berfokus pada keseimbangan, konten, co-viewing, dan komunikasi cenderung lebih terkait dengan well-being yang lebih baik daripada aturan yang hanya menekankan durasi. Dengan kata lain, anak lebih terbantu ketika orang tua hadir sebagai pendamping dan penuntun, bukan hanya sebagai pengawas yang sibuk melarang (American Academy of Pediatrics, 2025).

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua? Pertama, jangan langsung memosisikan gadget sebagai musuh, tetapi jangan juga menyerahkan semuanya pada anak. Kedua, perhatikan apakah penggunaan media mulai “mengusir” tidur, aktivitas fisik, waktu keluarga, belajar, dan relasi tatap muka. Ketiga, dampingi anak sesuai usianya; APA secara khusus menilai bahwa pada awal masa remaja, penggunaan media sosial umumnya masih perlu dipantau, dibicarakan, dan dilatih bersama orang dewasa. Keempat, utamakan kualitas: pilih konten yang sesuai usia, biasakan penggunaan bersama pada anak kecil, buat waktu dan ruang bebas layar, dan bangun percakapan rutin tentang apa yang anak lihat dan rasakan di dunia digital. Pada akhirnya, tantangan terbesar orang tua di era digital bukan sekadar mengurangi layar, tetapi membantu anak bertumbuh sehat di tengah dunia yang memang sudah digital (American Psychological Association, 2023; American Academy of Pediatrics, 2025; WHO, 2019).

REFERENSI

American Academy of Pediatrics. (2025). Screen time guidelines.

American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence.

Fassi, L., Thomas, K., Parry, D. A., Leyland-Craggs, A., Ford, T. J., & Orben, A. (2024). Social media use and internalizing symptoms in clinical and community adolescent samples: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics, 178(8), 814–822. https://doi.org/10.1001/jamapediatrics.2024.2078

Mallawaarachchi, S., Burley, J., Mavilidi, M., Howard, S. J., Straker, L., Kervin, L., Staton, S., Hayes, N., Machell, A., Torjinski, M., Brady, B., Thomas, G., Horwood, S., White, S. L. J., Zabatiero, J., Rivera, C., & Cliff, D. (2024). Early childhood screen use contexts and cognitive and psychosocial outcomes: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics, 178(10), 1017–1026. https://doi.org/10.1001/jamapediatrics.2024.2620

U.S. Department of Health and Human Services, Office of the Surgeon General. (2023). Social media and youth mental health: The U.S. Surgeon General’s advisory.

UNICEF Innocenti. (2022). Child well-being in a digital age.

World Health Organization. (2019). Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age.

World Health Organization. (2020). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour.

Setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh baik, mandiri, dan bahagia. Namun dalam praktik sehari-hari, cara orang tua mendidik anak bisa sangat berbeda. Ada yang hangat tetapi longgar, ada yang tegas tetapi tetap mendengar, ada yang sangat ketat, dan ada juga yang cenderung minim keterlibatan. Dalam psikologi perkembangan, perbedaan cara ini dikenal sebagai pola asuh atau parenting styles. Konsep ini mula-mula dipopulerkan oleh Diana Baumrind melalui tiga pola utama, lalu dikembangkan oleh Eleanor Maccoby dan John Martin menjadi empat pola yang sekarang paling sering dipakai: authoritative, authoritarian, permissive, dan uninvolved. Kerangka ini biasanya dipahami lewat dua dimensi besar, yaitu kehangatan/responsivitas dan tuntutan/kontrol.

Penting untuk diingat, pola asuh bukan label kaku yang menempel selamanya pada seorang ayah atau ibu. Banyak orang tua bisa bergeser gaya tergantung situasi, usia anak, tekanan hidup, atau konteks tertentu. Jadi, pembahasan tentang pola asuh sebaiknya tidak dipakai untuk menghakimi, melainkan untuk membantu orang tua mengenali kecenderungan mereka sendiri dan memahami dampaknya bagi perkembangan anak. Dalam sumber pengasuhan praktis maupun kajian ilmiah, yang paling penting bukan mencari label sempurna, tetapi membangun hubungan yang hangat, konsisten, dan aman bagi anak.

1. Authoritative: hangat, tegas, dan memberi ruang dialog

Pola asuh authoritative sering dianggap sebagai bentuk pengasuhan yang paling seimbang. Orang tua dengan gaya ini tetap punya aturan, harapan, dan batas yang jelas, tetapi cara menyampaikannya hangat, terbuka, dan disertai alasan. Anak tidak dibiarkan bebas tanpa arah, tetapi juga tidak ditekan tanpa penjelasan. Dalam deskripsi APA, gaya ini menekankan kasih sayang, dukungan, dan batas yang konsisten. Secara sederhana, orang tua authoritative bukan hanya berkata “tidak boleh,” tetapi juga membantu anak memahami “mengapa.”

Dari sisi perkembangan anak, gaya authoritative dalam banyak penelitian cenderung berkaitan dengan hasil yang lebih positif. Meta-analisis Pinquart menunjukkan bahwa authoritative parenting berhubungan dengan tingkat masalah eksternalisasi yang lebih rendah, seperti perilaku agresif atau melanggar aturan. Meta-analisis Pinquart dan Kauser juga menemukan bahwa gaya authoritative secara umum berkaitan dengan hasil akademik yang lebih baik dan lebih sedikit masalah perilaku, walaupun kekuatan hubungannya dapat berbeda antarbudaya. Penelitian Vasiou dan rekan-rekan juga menemukan bahwa profil highly authoritative adalah yang paling sedikit terkait dengan masalah internalisasi maupun eksternalisasi pada anak.

Kalau diterjemahkan ke kehidupan sehari-hari, anak yang tumbuh dengan pola authoritative sering lebih terbantu untuk belajar tanggung jawab, percaya diri, dan regulasi emosi. Itu bukan berarti semua anak dari rumah authoritative pasti akan baik-baik saja, tetapi secara umum gaya ini memberi kombinasi yang sehat antara rasa aman dan struktur. Meta-analisis Tehrani, Yamini, dan Vazsonyi bahkan menunjukkan bahwa authoritative parenting pada remaja berhubungan positif dengan keterbukaan, kehati-hatian, ekstraversi, dan keramahan, serta berhubungan negatif dengan neurotisisme.

2. Authoritarian: sangat tegas, tetapi minim kehangatan

Berbeda dari authoritative, pola asuh authoritarian menekankan kepatuhan, disiplin keras, dan kontrol yang tinggi, tetapi biasanya dengan kehangatan yang lebih rendah. Pada gaya ini, orang tua lebih sering menuntut anak mengikuti aturan tanpa banyak ruang bertanya atau berdiskusi. Dalam penjelasan praktis yang sejalan dengan literatur klasik, gaya ini cenderung berfokus pada “orang tua yang menentukan, anak yang mengikuti.”

Masalahnya, ketika kontrol tinggi tidak diimbangi dukungan emosional yang cukup, anak bisa tumbuh patuh di permukaan tetapi kurang nyaman untuk terbuka, bereksplorasi, atau menyampaikan pendapat. Dalam meta-analisis Pinquart, authoritarian parenting berkaitan dengan tingkat masalah perilaku dan masalah emosional yang lebih tinggi. Pinquart dan Kauser juga menemukan bahwa gaya authoritarian secara umum berhubungan dengan pencapaian akademik yang lebih rendah dan lebih banyak masalah perilaku, walau pengaruhnya bisa bervariasi menurut konteks budaya. Penelitian tentang kesejahteraan anak juga menunjukkan bahwa authoritative cenderung terkait dengan maladjustment yang lebih rendah, sedangkan authoritarian menunjukkan arah sebaliknya.

Ini tidak berarti aturan tegas itu buruk. Anak tetap membutuhkan batas yang jelas. Yang sering jadi masalah adalah saat ketegasan berubah menjadi kekakuan, hukuman menjadi alat utama, dan komunikasi dua arah nyaris tidak ada. Dalam kondisi seperti itu, anak bisa belajar taat karena takut, bukan karena benar-benar memahami nilai di balik aturan.

3. Permissive: hangat, tetapi terlalu longgar

Pola asuh permissive atau indulgent biasanya ditandai oleh kehangatan yang tinggi, tetapi kontrol dan batas yang rendah. Orang tua permissive cenderung sayang, dekat, dan tidak ingin anak merasa tertekan, tetapi sering ragu menegakkan aturan atau konsekuensi. Dalam penjelasan APA dan beberapa sumber pengasuhan umum yang konsisten dengan literatur, orang tua permissive sering lebih mirip teman daripada figur yang menetapkan batas.

Sekilas, pola ini bisa terasa menyenangkan karena anak diberi banyak kebebasan. Namun, kebebasan tanpa struktur yang cukup juga bisa menyulitkan anak belajar disiplin, menunda keinginan, dan menghadapi batas. Meta-analisis Pinquart menunjukkan bahwa permissive parenting berhubungan dengan masalah eksternalisasi yang lebih tinggi. Pinquart dan Kauser juga menemukan bahwa permissive parenting secara umum terkait dengan hasil akademik yang lebih rendah dan lebih banyak masalah perilaku. Dalam kajian yang lebih baru, gaya ini juga tidak sekuat authoritative dalam mendukung hasil sosio-emosional yang sehat.

Artinya, kasih sayang saja belum cukup. Anak juga perlu belajar bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi, bahwa ada aturan yang konsisten, dan bahwa tanggung jawab adalah bagian dari tumbuh dewasa. Pola permissive mengingatkan kita bahwa kehangatan memang penting, tetapi kehangatan paling efektif ketika berjalan bersama batas yang jelas.

4. Uninvolved: minim kehangatan, minim arahan

Pola asuh uninvolved atau neglectful adalah gaya dengan tingkat kehangatan rendah sekaligus tuntutan yang juga rendah. Orang tua pada pola ini cenderung kurang hadir secara emosional, kurang memantau, dan kurang terlibat dalam kebutuhan perkembangan anak. Dalam sejarah teorinya, kategori ini ditambahkan setelah Baumrind oleh Maccoby dan Martin, dan kini menjadi salah satu pola utama dalam pembahasan parenting styles. APA juga menggambarkan uninvolved parenting sebagai gaya dengan sedikit keterlibatan, sedikit komunikasi, dan sedikit bimbingan.

Dari sisi dampak, gaya ini paling sering dikaitkan dengan risiko yang lebih berat. Meta-analisis Tehrani dan rekan-rekan menemukan bahwa neglectful parenting berhubungan negatif dengan kehati-hatian dan keramahan, serta positif dengan neurotisisme. Pinquart juga menunjukkan bahwa neglectful parenting berkaitan dengan lebih banyak masalah perilaku. Karena anak bukan hanya butuh makan dan sekolah, tetapi juga butuh rasa aman, perhatian, dan keterhubungan, minimnya keterlibatan orang tua bisa membuat anak merasa tidak dianggap, kurang terarah, atau harus belajar semuanya sendirian terlalu cepat.

Namun, dalam membaca pola uninvolved, penting juga untuk tidak buru-buru menyalahkan. Ada kalanya minimnya keterlibatan orang tua berkaitan dengan kelelahan kronis, tekanan ekonomi, masalah kesehatan mental, konflik keluarga, atau kurangnya dukungan sosial. Itu sebabnya pembahasan tentang pola asuh sebaiknya juga dihubungkan dengan kondisi nyata keluarga, bukan hanya pada penilaian moral.

Jadi, pola asuh mana yang paling mendukung perkembangan anak?

Kalau diringkas dari penelitian klasik dan meta-analisis yang lebih baru, gaya authoritative paling sering muncul sebagai pola yang paling mendukung perkembangan anak dalam banyak aspek, mulai dari penyesuaian perilaku, capaian akademik, hingga ciri kepribadian yang lebih adaptif. Sementara itu, pola authoritarian, permissive, dan uninvolved lebih sering berkaitan dengan berbagai risiko, meskipun besar kecilnya pengaruh dapat berbeda tergantung budaya, usia anak, dan konteks keluarga. Dengan kata lain, tidak ada pola asuh yang bekerja seperti rumus ajaib untuk semua anak, tetapi ada kecenderungan kuat bahwa kombinasi hangat + tegas + konsisten lebih membantu daripada keras tanpa empati, sayang tanpa batas, atau minim keterlibatan.

Pada akhirnya, memahami empat pola asuh ini bukan untuk membuat orang tua cemas, melainkan untuk memberi bahasa yang lebih jelas tentang apa yang sedang terjadi di rumah. Orang tua tidak harus sempurna. Yang jauh lebih penting adalah berani reflektif: apakah aturan di rumah sudah jelas? apakah anak merasa didengar? apakah kasih sayang hadir bersamaan dengan batas? dan apakah orang tua cukup hadir, bukan hanya secara fisik tetapi juga emosional? Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, perubahan kecil dalam pola asuh bisa mulai tumbuh.

Daftar Pustaka

American Psychological Association. (2017). Parenting styles.

Baumrind, D. (1967). Child care practices anteceding three patterns of preschool behavior. Genetic Psychology Monographs, 75(1), 43–88.

Maccoby, E. E., & Martin, J. A. (1983). Socialization in the context of the family: Parent-child interaction. In P. H. Mussen (Ed.), Handbook of child psychology (Vol. 4, pp. 1–101). Wiley.

Pinquart, M. (2017). Associations of parenting dimensions and styles with externalizing problems of children and adolescents: An updated meta-analysis. Developmental Psychology, 53(5), 873–932.

Pinquart, M., & Kauser, R. (2018). Do the associations of parenting styles with behavior problems and academic achievement vary by culture? Results from a meta-analysis. Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology, 24(1), 75–100.

Tehrani, H. D., Yamini, S., & Vazsonyi, A. T. (2024). Parenting styles and Big Five personality traits among adolescents: A meta-analysis. Personality and Individual Differences, 216, 112421.

Vasiou, A., Kassis, W., Krasanaki, A., Aksoy, D., Favre, C. A., & Tantaros, S. (2023). Exploring parenting styles patterns and children’s socio-emotional skills. Children, 10(7), 1126.

Menjadi orang tua hari ini terasa berbeda dibanding satu atau dua generasi sebelumnya. Dulu, tantangan pengasuhan lebih banyak berkisar pada sekolah, pergaulan sekitar rumah, dan pola disiplin di dalam keluarga. Sekarang, orang tua menghadapi dunia yang berubah jauh lebih cepat: teknologi hadir di hampir setiap sudut kehidupan, batas antara ruang belajar dan hiburan makin kabur, dan anak tumbuh dalam arus informasi yang tidak pernah benar-benar berhenti. Karena itu, mendidik anak di era milenial tidak cukup hanya mengandalkan pola lama; orang tua perlu belajar menyeimbangkan kedekatan emosional, batas yang sehat, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan sosial maupun digital (Livingstone & Blum-Ross, 2020; Relva et al., 2024).

Kalau melihat literatur klasik tentang pengasuhan, benang merahnya sebenarnya masih sangat relevan sampai sekarang. Diana Baumrind menunjukkan bahwa pola asuh tidak sesederhana pilihan antara “keras” atau “serba bebas.” Yang penting justru adalah bagaimana orang tua menggabungkan kehangatan, keterlibatan, dan tuntutan yang jelas dalam relasi dengan anak. Kerangka ini kemudian dikembangkan lagi oleh Maccoby dan Martin, yang menekankan pentingnya dua dimensi utama: responsiveness atau kehangatan-tanggapan terhadap kebutuhan anak, dan demandingness atau struktur-pengawasan yang membantu anak belajar batas dan tanggung jawab. Jadi, inti pengasuhan yang sehat bukan kontrol berlebihan, tetapi hubungan yang hangat sekaligus terarah (Baumrind, 1967; Maccoby & Martin, 1983).

Masalahnya, di era sekarang tantangannya tidak lagi hanya soal aturan di rumah. Orang tua juga harus menghadapi perubahan sosial yang membuat masa kanak-kanak dan remaja menjadi lebih kompleks. Livingstone dan Blum-Ross menunjukkan bahwa di tengah inovasi digital yang sangat cepat, orang tua sering berada di posisi yang serba sulit: di satu sisi ingin melindungi anak, tetapi di sisi lain juga harus membantu anak mengembangkan kemandirian dan agensinya. Itulah sebabnya pengasuhan hari ini lebih banyak berisi negosiasi daripada sekadar perintah satu arah. Orang tua bukan hanya diminta menjaga anak tetap aman, tetapi juga menyiapkan mereka agar mampu hidup dalam dunia yang terus berubah (Livingstone & Blum-Ross, 2020).

Di sinilah tantangan digital menjadi sangat nyata. Kajian payung terbaru tentang digital parenting menjelaskan bahwa pengasuhan digital bukan cuma soal membatasi gawai. Ia mencakup setidaknya tiga hal: cara orang tua memediasi penggunaan media anak, cara orang tua sendiri menggunakan teknologi, dan bagaimana orang tua menjadi teladan dalam kebiasaan digitalnya. Ulasan itu juga menunjukkan bahwa pengasuhan digital berkaitan dengan perilaku online anak, paparan terhadap risiko digital, kesejahteraan psikologis-emosional, serta literasi digital mereka. Artinya, anak tidak hanya belajar dari aturan yang dibuat orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari dari orang tuanya sendiri (Tan et al., 2024).

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata “berapa lama anak menatap layar.” Kualitas relasi tetap menjadi fondasi utama. Studi terbaru tentang relasi orang tua-anak di era digital menunjukkan bahwa keteladanan digital yang buruk dan kelalaian digital dari orang tua berkaitan dengan hubungan orang tua-anak yang lebih lemah, sedangkan penggunaan teknologi yang efektif dan perlindungan dari risiko digital berkaitan dengan relasi yang lebih positif. Pesannya cukup jelas: teknologi bisa menjauhkan, tetapi juga bisa mendekatkan—tergantung bagaimana orang tua hadir di dalamnya. Maka, pengasuhan digital yang sehat bukan hanya soal larangan, tetapi juga soal pendampingan, percakapan, dan contoh nyata (Pekşen Akça et al., 2024).

Hal lain yang tidak kalah penting adalah suasana emosional di rumah. Meta-analisis internasional tentang gaya pengasuhan dan emotion dysregulation menunjukkan bahwa pengasuhan positif—misalnya kehangatan, dukungan, dan keterbukaan—cenderung berkaitan dengan tingkat disregulasi emosi anak yang lebih rendah. Sebaliknya, pengasuhan negatif, termasuk kontrol psikologis dan kecenderungan otoriter, berkaitan dengan disregulasi emosi yang lebih tinggi. Ini penting, karena di era yang cepat dan penuh stimulasi seperti sekarang, anak bukan hanya perlu diarahkan, tetapi juga perlu dibantu belajar mengenali, mengelola, dan menenangkan emosinya sendiri. Rumah yang terlalu keras mungkin tampak tertib dari luar, tetapi belum tentu menolong anak tumbuh matang secara emosional (Goagoses et al., 2023).

Penelitian tentang mediasi media pada remaja juga menunjukkan hasil yang penting: keterlibatan orang tua dalam membimbing penggunaan media digital memang relevan untuk membantu mengurangi penggunaan bermasalah dan risiko online, tetapi hasilnya tidak selalu sama pada setiap keluarga. Dengan kata lain, tidak ada rumus tunggal yang cocok untuk semua. Usia anak, kualitas hubungan sebelumnya, keterampilan digital orang tua, kondisi keluarga, dan budaya pengasuhan ikut memengaruhi hasilnya. Karena itu, menjadi orang tua di era milenial menuntut satu hal yang sangat penting: fleksibilitas. Orang tua perlu tetap punya nilai dan batas yang jelas, tetapi juga cukup lentur untuk menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan anak dan perubahan zaman (Huang et al., 2023; Tan et al., 2024).

Dari sini, kita bisa melihat bahwa kiat mendidik anak di era milenial sebenarnya bukan dimulai dari daftar larangan, melainkan dari cara pandang. Orang tua masa kini perlu melihat pengasuhan sebagai proses membangun relasi yang hangat, aman, dan adaptif. Anak tetap membutuhkan batas, tetapi batas itu akan jauh lebih efektif bila dibangun di atas kedekatan, dialog, dan keteladanan. Di tengah perubahan sosial dan digital yang cepat, orang tua tidak dituntut menjadi sempurna. Yang jauh lebih penting adalah menjadi hadir, mau belajar, dan tidak berhenti menyesuaikan diri demi tumbuh kembang anak yang lebih sehat (Livingstone & Blum-Ross, 2020; Relva et al., 2024; Tan et al., 2024).

Daftar Pustaka

Baumrind, D. (1967). Child care practices anteceding three patterns of preschool behavior. Genetic Psychology Monographs, 75(1), 43–88.

Goagoses, N., Bolz, T., Eilts, J., Schipper, N., Schütz, J., Rademacher, A., Vesterling, C., & Koglin, U. (2023). Parenting dimensions/styles and emotion dysregulation in childhood and adolescence: A systematic review and meta-analysis. Current Psychology, 42, 18798–18822.

Huang, S., Lai, X., Li, Y., Wang, W., Zhao, X., Dai, X., Wang, H., & Wang, Y. (2023). Does parental media mediation make a difference for adolescents? Evidence from an empirical cohort study of parent-adolescent dyads. Heliyon, 9(4), e14897.

Livingstone, S., & Blum-Ross, A. (2020). Parenting for a digital future: How hopes and fears about technology shape children’s lives. Oxford University Press.

Maccoby, E. E., & Martin, J. A. (1983). Socialization in the context of the family: Parent-child interaction. In P. H. Mussen & E. M. Hetherington (Eds.), Handbook of child psychology (Vol. 4, pp. 1–101). Wiley.

Pekşen Akça, R., Çevik, G. B., & colleagues. (2024). The parent-child relationship in the digital era: The mediator role of digital parenting. Children and Youth Services Review.

Relva, I. C., Simões, M., Costa, M., Pacheco, A., & Galuzzo, M. (2024). Parenting styles and development. In The Palgrave Handbook of Global Social Problems (pp. 1–21). Springer

Subcategories

Artikel Menarik Lainnya

Dharma Wanita Persatuan Kota Cilegon Tahun 2025 telah melaksanakan pertemuan rutin bulanan pada 25...

Komunikasi adalah suatu proses ketika seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan...

Binge Eating Disorder merupakan perilaku makan berlebihan tanpa usaha mengeluarkan kembali apa...

Berbicara sama diri sendiri bukan hal yang aneh, sebenarnya, berbicara, mengobrol dengan diri...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415