- Artikel
- Hits: 4
Mahasiswa kebidanan dalam buku “Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia” Karya Dr. Dra. Sugiarti, M.Kes, Psikolog.
Kompleksitas masalah yang dihadapi oleh calon bidan selama menempuh pendidikannya menjadi faktor dominan terhadap rasa optimisme maupun pesimisme mereka. Di sisi lain, tuntutan dan ekspektasi yang diberikan kepada calon bidan saat masuk di dunia kerja secara nyata sebagai seorang bidan dalam menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan upaya mengurangi AKI (Angka Kematian Ibu) dan AKB (Angka Kematian Bayi) di Indonesia. Dalam peran tersebut, profesi bidan merupakan lini pertama yang harus dituntaskan secara selamat, yaitu membantu proses persalinan serta perlindungan kesehatan ibu dan anak (Sugiarti, 2019).

Kompleksitas isu lainnya terkait dengan calon bidan terletak pada institusi pendidikannya. Dalam penelusuran yang dilakukan oleh Sugiarti (2019) terhadap Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (2011), No.400/D/T/2009 dijelaskan bahwa terdapat 729 perguruan tinggi menyelenggarakan Program Studi Kebidanan Diploma III, dan 69 perguruan tinggi menyelenggarakan Program Studi Bidan Pendidik (D4). Adapun program studi kebidanan jenjang S1 yang disediakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Bangsa Banda Aceh dan Universitas Brawijaya Malang. Untuk jenjang S2 disediakan oleh Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Padjajaran Bandung (BAN-PT, dalam Sugiarti 2019). Meskipun pendidikan menempuh pendidikan kebidanan sudah disediakan hingga jenjang S2 atau magister, pada kenyataannya para mahasiswa kebidanan hanya dapat kesempatan menempuh pendidikan kebidanan di jenjang Diploma III saja. Hal itu menjadi kendala tersendiri bagi penanganan AKI dan AKB secara lebih lanjut.
Banyaknya lulusan kebidanan dengan lulusan Diploma III yang begitu banyak, mengakibatkan tingkat persaingan yang ketat, Selain itu persoalan lainnya ketika menjadi lulusan pendidikan kebidanan seringkali mengalami perlambatan penerbitan STR sehingga menunda status lulusan kebidanan tersebut sebagai tenaga kesehatan yang secara legal siap mengerjakan tugasnya. Selanjutnya, terdapat juga masalah bagi seorang bidan ketika sudah siap mengerjakan tugasnya tetapi mengalami kegagalan dalam memberikan pertolongan sehingga mengakibatkan trauma baginya (Sugiarti, 2019). Maka dapat dikatakan bahwa masalah mendasar yang dihadapi oleh mahasiswa kebidanan adalah ketidakpastian.
Setiap mahasiswa kebidanan memiliki caranya masing-masing untuk menangani ketidakpastian selama menempuh pendidikan serta kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan ketika sudah resmi menjadi tenaga kesehatan berupa bidan. Namun, semua cara yang dapat dilakukan oleh mereka tidak lepas dari substansi utama dalam menghadapi setiap masalah, yaitu perasaan pesimis dan perasaan optimis. Dalam hal ini Dr. Dra. Sugiarti, M.Kes, Psikolog. dalam karyanya berjudul “Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia” menegaskan bahwa keyakinan dan ekspektasi dalam menghadapi setiap masalah serta hambatan dapat memunculkan reaksi yang berbeda-beda dalam situasi tertentu. Dikutip dari Scheier, Carver, dan Bridges (1994, dalam Sugiarti, 2019) keyakinan dan ekspektasi terhadap hasil yang lebih baik di masa depan disebut sebagai optimisme. Di sisi lan, perasaan pesimisme adalah ekspektasi yang buruk terhadap hasil yang akan didapatkan ketika sedang dalam proses menyelesaikan masalah atau hambatan (Carver, Scheier, & Segerstrom 2010, dalam Sugiarti, 2019).
Oleh Sugiarti (2019) ditegaskan bahwa perasaan optimisme dan pesimisme dipengaruhi oleh persepsi atau perasaan keberhargaan serta penilaian kelayakan diri setiap individu sebagai seorang calon bidan ketika menempuh pendidikan kebidanan ataupun sudah menjadi bidan yang sudah bekerja di lapangan; kemudian hal itu disebut sebagai self-esteem. Self-esteem dan optimisme saling berhubungan satu sama lain yang mana dipengaruhi oleh faktor pengalaman keberhasilan dan kegagalan di masa lalu. Sekaligus, pengalaman di masa lalu terkait kegagalan maupun keberhasilan merupakan prediktor utama yang membedakan tingkat self-esteem individu (Sugiarti, 2019).
Upaya untuk terus bertahan menempuh pendidikan sebagai calon bidan, rasa optimisme menjadi sangat penting untuk melewati seluruh masalah serta hambatan yang kemudian dapat diselesaikan satu per satu. Keyakinan diri atau keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri sebagai seorang calon bidan dapat menumbuhkan rasa optimis dalam melakukan sesuatu hal yang sesuai dengan harapan positif yang dimilikinya.
Keyakinan terhadap kemampuan diri yang menumbuhkan penilaian pada kemampuan diri sendiri untuk mencapai keberhasilan dapat mempengaruhi keputusan karir di masa depan; hal ini disebut sebagai efikasi diri pengambilan keputusan karir atau career decision self-efficacy (Betz, Klein, & Taylor, dalam Sugiarti, 2019). Efikasi diri pengambilan keputusan karir penting ditingkatkan sebab merupakan faktor penting yang dapat memengaruhi proses proses perkembangan karir pada dewasa muda. Dalam dunia karir, temuan penelitian yang dilakukan oleh Creed, Patto, dan Bartrum (2002, dalam Sugiarti, 2019) level optimisme pelajar yang tinggi dapat mendorong mereka untuk memiliki perencanaan dan eksplorasi karir yang tinggi, serta lebih mampu dalam menentukan keputusan karir dan lebih memiliki tujuan karir, berbeda dengan pelajar yang cenderung pesimis yang dilaporkan memiliki kesadaran dan pengetahuan yang rendah mengenai karirnya, lebih ragu-ragu, dan memiliki performa yang buruk dalam akademik.
Lebih mendalam lagi, para calon bidan yang mampu mengatasi masalah dan hambatan dalam prosesnya sebagai seorang mahasiswa kebidanan disyaratkan rasa optimisme tersebut diwarnai dengan kepribadian yang penuh dengan hardiness. Dikutip dari Stasiowski, 2008, dalam Sugiarti, 2019) hardiness merupakan kemampuan individu mempersepsikan bahwa tantangan dan hambatan yang dihadapi sebagai bentuk kemanfaatan bagi dirinya dalam bentuk keterlibatan penuh tanpa memaksakan hasil yang positif karena fokus untuk melewati dan menyelesaikan hambatan tersebut. Oleh sebab itu, dalam menghadapi segala tekanan dan tanggung jawab, dibutuhkan keyakinan dan ketahanan dalam diri para calon bidan di masa depan.
Dampak dari tingginya optimisme dan hardiness tinggi dapat memengaruhi dimensi komitmen, yaitu memungkinkan individu untuk menetapkan tujuan, membuat komitmen, mengatasi kesulitan dan rasa sakit, serta untuk pulih dari trauma dan/atau stres (Bissonnette, 1998, dalam Sugiarti, 2019).
Pada akhirnya, optimisme dan hardiness bermuara pada daya resiliensi ketika seorang calon bidan menghadapi berbagai hambatan serta masalah selama menempuh pendidikan. Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dengan penuh keberanian serta stamina emosi yang baik setelah mengalami keterpurukan atau ketika menemukan kesulitan sehingga dapat mengantarkan dirinya ke hasil terbaik meskipun dia sendiri mengalami rasa takut di dalam dirinya; kemudian, orang yang mempunyai daya resiliensi tinggi tersebut disebut sebagai orang yang resilien (Sugiarti, 2019). Maka, dalam konteks calon bidan, resiliensi diri ini merupakan hal yang sangat penting untuk terus diasah sampai pada titik tertentu ketika individu tersebut dapat dikatakan sebagai calon bidan yang resilien. Calon bidan yang resilien tidak hanya mudah melewati tantangan serta hambatan selama menjadi mahasiswa kebidanan, tetapi juga dapat menjadi bekal bagi dirinya untuk melewati serta menyelesaikan tantangan dan hambatan ketika sudah resmi menjadi seorang bidan dengan kompleksitas permasalahan yang berbeda pula.
