Tiga Area dalam Couple’s Resource Map yang Perlu Disusun Oleh Pasangan Pranikah untuk Menyusun Visi Kehidupan Pernikahan

Pranikah adalah masa di mana sebuah hubungan berada dalam fase untuk saling mengenal satu sama lain dan saling berbagi pandangan mengenai masa depan terkait dengan rencana pernikahan dan kehidupan setelah pernikahan. Sugiarti sebagai seorang konselor dalam bukunya Konseling: Konsep dan Praktek memaparkan salah satu pendekatan konseling berupa Solution-Focused dari Murray dan Murrai Jr (2004, dalam Sugiarti, 2024: 73) bahwa kehidupan sepasang kekasih pranikah perlu digali untuk menemukan dan mengembangkan visi kehidupan pernikahan yang akan datang. Pendekatan ini dapat membantu sepasang kekasih untuk merencanakan perubahan-perubahan apa yang akan dilakukan untuk dapat mencapai visi tersebut.

Oleh karenanya, penyusunan visi kehidupan pernikahan pada saat fase pranikah tersebut dapat disebut sebagai couple’s resource map. Dalam dunia konseling psikologi pranikah dan pernikahan, couple’s resource map merupakan salah satu pendekatan untuk membimbing sebuah pasangan pranikah untuk mencapai titik focus yang solutif dalam mengaktivasi kemampuan dan potensi yang sudah dimiliki oleh masing-masing individu, sehingga mereka dapat ‘bergerak maju’ melalui visi masa depan yang dirancang bersama (Sugiarti, 2024: 74). 

Namun, perlu dipahami bahwa terdapat 3 (tiga) area yang fundamental untuk menyusun visi kehidupan pernikahan tersebut menggunakan pendekatan couple’s resource map sebelum akhirnya oleh seorang konselor pranikah dapat dipadupadankan serta digabungkan satu sama lain berdasarkan keunikan masing-masing individu dalam hubungan tersebut (Sugiarti, 2024: 75-76).

1.     Area Personal

Area personal ini berhubungan dengan area-area di mana seorang individu melihat dirinya sendiri beserta nilai yang dipegang dalam kehidupannya. Dalam area ini, masing-masing individu dalam sebuah hubungan pranikah dibimbing oleh konselor untuk melihat beberapa aspek dalam dirinya. Pertama, self-esteem berkaitan dengan bagaimana individu tersebut melihat dirinya sendiri. Komponen dasar dari self-esteem adalah “apakah diri saya berharga?”; “apakah diri saya cukup baik sebagai manusia?”; “apakah saya mampu [misalnya: mengatur emosi diri sendiri]?”; “apa kelebihan dalam diri saya?”; “apa kekurangan dalam diri saya?”; “apa yang bisa dikembangkan dari diri saya?”; dan sebagainya. Kedua, values/personal values yang berkaitan dengan persepsi diri sendiri mengenai hal apa yang dianggap penting dalam kehidupan ini. Ketiga, personal dream berkaitan dengan harapan atau cita-cita individu secara pribadi dalam kehidupan ini. Keempat, coping skills merupakan yang paling penting karena berkaitan dengan keterampilan individu dalam menyelesaikan masalahterutama dalam kehidupan pernikahan nantinya. Kelima, self soothing strategies berkaitan dengan strategi atau kemampuan yang dilakukan individu untuk menenangkan dirii atau ketika seseorang menghadapi stress. Terakhir, self-awareness berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri. Jadi, dalam menyusun couple’s resource map untuk membangun cita-cita dan harapan atau visi kehidupan pernikahan diperlukan 6 (enam) komponen area personal yang harus dipenuhi oleh masing-masing individu sehingga masing-masing individu dapat mempelajari satu sama lain area personal pasangannya.

2.     Area Hubungan

Area hubungan ini terdiri dari: pertama, couple history yang berkaitan dengan informasi terkait dengan perkembangan hubungan pasangan. Misalnya lama hubungan dan pengalaman apa saja yang pernah dilalui pasangan dalam hubungan tersebut secara Bersama-sama; kedua, share dream berkaitan dengan impian dari pasangan dan harapan yang dibagi mengenai hubungan tersebut); ketiga, shared material resources berhubungan dengan sumber daya material ketika pasangan memasukin fase kehidupan pernikahan; keempat, knowledge about partner sudah pasti merujuk pada pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing pasangan satu sama lain secara timbal balik, termasuk memahami cara pikir dan alasan pasangan melakukan sebuah Tindakan; kelima, strategies to manage negativity adalah kemampuan pasangan untuk mengatur atau mengurangi interaksi hal-hal atau unsur negatif ketika masalah muncul dalam hubungan tersebut; keenam adalah relationship skills yang berkaitan dengan kemampuan yang membantu untuk meningkatkan aspek positif pada hubungan pasangan, termasuk kemampuan komunikasi, negosiasi, dan kompromi.

3.     Area Kontekstual

Area kontekstual ini hampir dapat dikatakan sebagai area eksternal di mana seorang individu berasal dan kemudian nanti menjalani kehidupan bersama dengan pasangan dalam pernikahan. Komponen-komponen dasar dari area kontekstual ini, antara lain: pertama, cultural or community resources yang berhubungan dengan dukungan kultural dan komunitas akan pernikahan, termasuk pengaruh yang diberikan kepada pasangan maupun individu masing-masing sehingga berpengaruh pada pembentukan visi hidup pernikahan; kedua, family life professionals merupakan ketersediaan pemadu atau pendidik tentang kehidupan pernikahan yang tidak hanya berasal dari orang tua saja tetapi juga dapat datang dari konselor pernikahan; ketiga, economic or political context yang berkaitan dengan hal makro kenegaraan dan berhubungan dengan kebijakan ekonomi dan kebijakan public yang dapat memengaruhi pernikahan; keempat, his or/and her career yang menyangkut career path masing-masing individu dalam hubungan tersebut; kelima, extended social network adalah kontak sosial yang menyediakan dukungan secara langsung maupun tidak langsung untuk pasangan tersebut; keenam, friends atau teman dekat dari masing-masing individu pasangan memungkinkan untuk menyediakan dukungan secara emosional, fisik, maupun dukungan dalam bentuk lain; ketujuh, her or/his family of origin yang merupakan anggota keluarga dari masing-masing pasangna yang memungkinkan untuk menyediakan dukungan secara emosional, fisik, maupun dukungan dalam bentuk lain.

Couple’s resource map merupakan pendekatan penting dalam konseling pranikah yang membantu pasangan menyusun visi kehidupan pernikahan secara lebih terarah, realistis, dan solutif. Melalui pendekatan ini, pasangan tidak hanya diajak membayangkan masa depan bersama, tetapi juga mengenali serta mengembangkan potensi, kemampuan, dan sumber daya yang sudah dimiliki, baik sebagai individu maupun sebagai pasangan. Proses penyusunannya bertumpu pada tiga area utama, yaitu area personal, area hubungan, dan area kontekstual. Ketiganya saling melengkapi karena visi pernikahan yang kuat tidak cukup dibangun hanya dari impian bersama, tetapi juga dari pemahaman diri, kualitas relasi, serta dukungan lingkungan yang mengitari kehidupan pasangan.

Penerapan couple’s resource mapping yang baik perlu dimulai dari keterbukaan masing-masing individu untuk mengenali dirinya sendiri, mulai dari nilai hidup, impian pribadi, cara menghadapi masalah, hingga kemampuan menenangkan diri saat menghadapi tekanan. Setelah itu, pasangan perlu membangun percakapan yang jujur dan timbal balik tentang hubungan mereka, termasuk perjalanan yang sudah dilalui, harapan bersama, cara memahami satu sama lain, serta keterampilan berkomunikasi, bernegosiasi, dan mengelola konflik. Langkah ini kemudian dilengkapi dengan pemetaan faktor-faktor di luar diri pasangan, seperti dukungan keluarga, teman, komunitas, karier, dan kondisi sosial ekonomi yang dapat memengaruhi kehidupan pernikahan. Dengan proses yang reflektif, terbuka, dan idealnya didampingi konselor pranikah, ketiga area tersebut dapat dirangkai menjadi visi pernikahan yang lebih utuh, selaras, dan dapat diwujudkan bersama.

Daftar Referensi

Sugiarti, Dra., M. Kes., Psikolog., (2024). Konseling: Konsep dan Praktek. Depok: Rajawali Press.

Artikel Menarik Lainnya

Jika harus memberikan sebuah materi presentasi kepada audien yang belum dikenal, bagi sebagian...

Pernah mendengar kalimat seperti, “perempuan itu terlalu emosional,” atau “laki-laki jangan...

FOMO atau Fear of Missing Out merupakan perasaan ketakutan atau khawatir atau cemas "merasa"...

Hari ini, dunia digital bukan lagi sekadar alat tambahan dalam hidup anak. Ia sudah menjadi...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415