Mahasiswa Bidikmisi Di Antara Tuntutan-Tekanan dan Harapan Masa Depan: Jawaban Praktis dari Buku "Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia" Karya Dr. Sugiarti, M.Kes, Psikolog.

Maha Karya Dr. Sugiarti, M.Kes., Psikolog.

Kondisi ekonomi sering menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan seseorang untuk melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Di Indonesia, kesempatan untuk memperoleh gelar sarjana belum sepenuhnya dapat diakses oleh semua kalangan. Tempo Nasional (2014) mencatat bahwa hanya sekitar 30% pelajar di Indonesia yang dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan biaya masih menjadi salah satu hambatan besar bagi peserta didik yang ingin menempuh pendidikan tinggi.

Kenyataan tersebut menjadi refleksi bersama bahwa di Indonesia masih banyak individu yang memiliki potensi akademik baik, tetapi terhambat oleh kondisi ekonomi. Dengan kata lain, persoalan biaya dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengembangkan kemampuan akademiknya secara maksimal melalui pendidikan tinggi.

Dalam penelusuran mengenai dasar hukum yang dilakukan oleh Sugiarti dalam bukunya Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia, dijelaskan bahwa negara telah hadir untuk menangani persoalan tersebut melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Pada Bab V Pasal 12 Ayat (1) Butir 4 disebutkan bahwa “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu” (Sugiarti, 2019: 5).

Sebagai bentuk nyata dari amanat tersebut, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sejak tahun 2012 meluncurkan program bantuan biaya pendidikan yang disebut Bidikmisi. Program ini merupakan bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi, tetapi memiliki potensi akademik yang baik untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi pada program studi unggulan sampai lulus tepat waktu (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2015).

Sugiarti (2019) menegaskan bahwa beasiswa Bidikmisi merupakan bentuk kehadiran negara dalam mendukung pendidikan masyarakat melalui penyelenggaraan pemerintahan. Bantuan tersebut diberikan agar penerima beasiswa Bidikmisi dapat menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu meraih cita-cita.

Namun, menjadi mahasiswa penerima Bidikmisi juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah adanya perasaan bahwa kehidupan mereka sebagai mahasiswa selalu diawasi. Dalam pemikiran Jeremy Bentham, kondisi semacam ini dapat dikaitkan dengan konsep panoptikon (Bentham, 1791/1990). Panoptikon merupakan model pengawasan yang membuat seseorang merasa terus dipantau, sehingga pada akhirnya ia mengontrol dirinya sendiri tanpa harus selalu diperintah atau dihukum.

Kondisi tersebut juga dapat dialami oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Mereka merasa setiap aktivitasnya selama menjadi mahasiswa perlu dijaga dan dipertanggungjawabkan. Hal ini terjadi karena adanya berbagai tuntutan yang harus dipenuhi, baik dalam kegiatan kurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Berbagai kegiatan tersebut kemudian dilaporkan dalam bentuk laporan semesteran kepada fakultas dan diteruskan kepada pihak Dikti.

Laporan tersebut biasanya memuat Indeks Prestasi Kumulatif atau IPK minimal di atas 3,00. Selain itu, mahasiswa Bidikmisi juga harus melaporkan kegiatan non-akademik, seperti organisasi yang diikuti, kepanitiaan, seminar yang pernah diikuti, karya ilmiah yang dibuat, serta prestasi yang telah diraih (Sugiarti, 2019: 16). Tuntutan tersebut dapat menjadi dorongan positif bagi sebagian mahasiswa, tetapi juga dapat menjadi tekanan bagi mahasiswa lainnya.

Dalam kondisi tersebut, Sugiarti (2019: 17) menjelaskan bahwa tuntutan yang dialami oleh mahasiswa penerima Bidikmisi dapat berpengaruh terhadap optimisme dan pesimisme mereka. Optimisme terhadap kesuksesan selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, serta optimisme terhadap masa depan, dapat menjadi pengarah dalam menghadapi berbagai tuntutan yang diberikan kepada penerima beasiswa Bidikmisi.

Sebaliknya, pesimisme dapat muncul ketika mahasiswa merasa bahwa tuntutan dan persaingan yang dihadapi terlalu berat. Perasaan pesimis dapat membuat mahasiswa Bidikmisi merasa tidak mampu meraih hal-hal yang seharusnya dapat mereka capai. Dengan demikian, cara mahasiswa memandang tuntutan sebagai penerima beasiswa sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis dan proses akademiknya.

Sugiarti (2019: 17) juga mengaitkan optimisme dan pesimisme dengan tingkat stres dan depresi pada mahasiswa. Individu yang optimis cenderung lebih mampu menghadapi situasi sulit dibandingkan individu yang pesimis. Selain itu, individu yang optimis juga cenderung mengalami tingkat stres yang lebih rendah. Sebaliknya, individu yang pesimis lebih rentan mengalami kesulitan dalam menghadapi tantangan hidup, sehingga lebih berisiko mengalami stres dan depresi.

Pandangan tersebut diperkuat oleh penelitian Meiliyanti yang membahas hubungan antara optimisme dan self-esteem pada mahasiswa Bidikmisi Universitas Indonesia. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa tekanan untuk berprestasi dan tuntutan untuk mematuhi kewajiban sebagai penerima beasiswa merupakan hal yang tidak dapat dihindari (Meiliyanti, 2015, dalam Sugiarti, 2019: 33).

Dengan demikian, cara mahasiswa Bidikmisi memandang tuntutan dan tekanan sangat menentukan respons mereka. Tuntutan tersebut dapat dipandang sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Namun, tuntutan yang sama juga dapat dipandang sebagai hambatan besar apabila mahasiswa merasa tidak mampu menghadapinya.

Menurut Tinto, upaya mahasiswa untuk melewati dan menyelesaikan berbagai tuntutan sebagai penerima Bidikmisi dipengaruhi oleh komitmen (Tinto, dalam Sugiarti, 2019: 33). Komitmen tersebut berkaitan dengan optimisme dan general self-efficacy atau keyakinan umum terhadap kemampuan diri.

Komitmen yang disertai dengan optimisme dapat membantu mahasiswa Bidikmisi menyelesaikan tanggung jawabnya hingga akhir. Mahasiswa yang optimis cenderung memandang masa depan sebagai sesuatu yang dapat dicapai melalui usaha dan ketekunan. Dengan orientasi masa depan yang positif, mahasiswa Bidikmisi dapat lebih kuat dalam menjalani proses akademik, memenuhi tuntutan beasiswa, serta mempersiapkan keberhasilan di masa depan.

Kesimpulan

Mahasiswa Bidikmisi merupakan mahasiswa yang memperoleh bantuan biaya pendidikan karena memiliki keterbatasan ekonomi, tetapi tetap memiliki potensi akademik yang baik. Program Bidikmisi menjadi salah satu bentuk kehadiran negara dalam memberikan kesempatan pendidikan tinggi bagi masyarakat yang kurang mampu.

Namun, mahasiswa penerima Bidikmisi juga menghadapi berbagai tuntutan, baik akademik maupun non-akademik. Tuntutan tersebut dapat membuat mereka merasa diawasi dan harus selalu memenuhi standar tertentu. Dalam kondisi ini, optimisme menjadi faktor penting yang membantu mahasiswa Bidikmisi menghadapi tekanan, mempertahankan komitmen, serta mencapai keberhasilan akademik maupun masa depan yang lebih baik.

Bentham, J. (1791). Panopticon; or, The inspection-house. London: T. Payne.

Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan. (2015). Pedoman penyelenggaraan bantuan biaya pendidikan Bidikmisi tahun 2015. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Meiliyanti. (2015). Hubungan antara optimisme dan general self-efficacy pada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi Universitas Indonesia. Universitas Indonesia.

Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.

Sugiarti. (2019). Optimisme: Kajian riset perspektif psikologi Indonesia. Depok: Rajawali Pers.

Tinto, V. (1975). Dropout from higher education: A theoretical synthesis of recent research. Review of Educational Research, 45(1), 89–125.

Tempo Nasional. (2014). [Judul artikel tentang rendahnya jumlah pelajar Indonesia yang melanjutkan ke perguruan tinggi]. Tempo.co.

Artikel Menarik Lainnya

Kekerasan berbasis gender sering dibayangkan hanya sebagai pemukulan atau luka yang terlihat....

Dalam proses wawancara, baik komunikasi verbal maupun nonverbal punya kontribusi terhadap...

Self Awareness (Kesadaran diri) adalah kemampuan untuk memikirkan gaya hidup secara objektif dan...

Bulimia nervosa adalah gangguan makan yang ditandai dengan episode pesta makan—mengkonsumsi...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415