Academic Cheating: Pengertian, Penyebab, dan Hubungannya dengan Optimisme Mahasiswa

Academic cheating atau kecurangan akademik merupakan salah satu persoalan serius dalam dunia pendidikan. Perilaku ini tidak hanya berkaitan dengan tindakan menyontek saat ujian, tetapi juga mencakup plagiarisme dan bentuk ketidakjujuran akademik lainnya. Academic dishonesty mencakup cheating dan plagiarism, termasuk pencurian ide serta bentuk lain dari kekayaan intelektual, baik yang sudah dipublikasikan maupun belum dipublikasikan (Jones, Irvin, & Faircloth, 2001).

Dalam konteks pendidikan, menyontek menjadi persoalan penting karena berkaitan langsung dengan integritas akademik. Ketika seorang mahasiswa atau pelajar melakukan tindakan menyontek, maka individu tersebut telah melakukan bentuk kecurangan akademik yang serius karena melanggar integritas akademis (Sugiarti, 2019: 4).

Cover Buku

Pengertian Academic Cheating

Academic cheating dapat dipahami sebagai tindakan tidak jujur dalam kegiatan akademik. Menyontek merupakan bentuk keikutsertaan dalam ujian melalui cara yang tidak jujur, menjawab pertanyaan dengan cara yang tidak semestinya, serta melanggar aturan dan kesepakatan dalam ujian (Sugiarti, 2019: 4).

Dengan demikian, academic cheating tidak hanya dipahami sebagai tindakan melihat jawaban teman ketika ujian, tetapi juga segala bentuk perilaku yang dilakukan untuk memperoleh hasil akademik melalui cara yang tidak sesuai dengan aturan. Perilaku ini merusak nilai kejujuran dalam proses pendidikan karena hasil yang diperoleh tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya.

Plagiarisme sebagai Bentuk Kecurangan Akademik

Selain menyontek, plagiarisme juga termasuk dalam bentuk kecurangan akademik. Plagiarisme adalah perilaku mengambil atau menggunakan kutipan maupun ide dari pekerjaan orang lain, baik sebagian maupun sepenuhnya, kemudian diklaim secara sadar atau tidak sadar sebagai hasil atau milik pribadi (Sugiarti, 2019: 4).

Plagiarisme merupakan bagian dari kegiatan menyontek orang lain. Akan tetapi, tidak semua perilaku menyontek dapat dikategorikan sebagai plagiarisme (Sugiarti, 2019: 4). Hal ini menunjukkan bahwa menyontek memiliki bentuk yang lebih luas, sedangkan plagiarisme lebih khusus berkaitan dengan pengambilan ide, tulisan, atau karya orang lain tanpa pengakuan yang tepat.

Faktor Penyebab Mahasiswa Melakukan Academic Cheating

Perilaku academic cheating tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor yang mendorong mahasiswa melakukan kecurangan akademik adalah rasa takut terhadap kegagalan. Penelitian Newstead dan Franklyn-Stokes terhadap 943 mahasiswa menunjukkan bahwa salah satu alasan mahasiswa menyontek adalah karena takut akan kegagalan (Newstead & Franklyn-Stokes, 1996).

Selain itu, beberapa penelitian lain juga menunjukkan bahwa siswa mengalami kecemasan terhadap kegagalan. Kecemasan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong individu melakukan tindakan tidak jujur dalam kegiatan akademik (Michaels & Mierthe, 1989; Calabrese & Chochran, 1990; Anderman & Murdock, 2007).

Kecemasan berlebihan dapat memberikan stimulus pada otak untuk bekerja tidak sesuai dengan kemampuan sebenarnya (Sugiarti, 2019: 15). Dalam kondisi ini, mahasiswa dapat merasa tidak percaya diri, sulit berpikir jernih, dan akhirnya mencari jalan pintas untuk memperoleh hasil akademik yang diinginkan.

Menyontek sebagai Coping Strategy

Menyontek juga dapat dipahami sebagai salah satu bentuk coping strategy dalam menghadapi kecemasan. Menurut Feller, menyontek sebagai bentuk coping strategy dapat memberikan efek tenang bagi individu yang melakukannya. Namun, tindakan tersebut tidak benar-benar menyelesaikan kecemasan yang terjadi secara konstan dan tinggi (Feller, 2009, dalam Sugiarti, 2019: 15).

Artinya, menyontek mungkin membuat mahasiswa merasa aman untuk sementara waktu, terutama ketika menghadapi ujian atau tekanan akademik. Namun, apabila perilaku ini terus dilakukan, mahasiswa tidak belajar untuk mengatasi kecemasan secara sehat. Sebaliknya, ia justru dapat bergantung pada tindakan curang setiap kali menghadapi tekanan akademik.

Hubungan Optimisme dengan Perilaku Menyontek

Optimisme memiliki hubungan penting dengan kecenderungan mahasiswa untuk melakukan atau menghindari perilaku menyontek. Individu yang memiliki harapan lebih baik cenderung jarang terlihat dalam perilaku menyontek (Feller, 2009, dalam Sugiarti, 2019: 15).

Temuan Snyder et al. juga menunjukkan bahwa harapan yang baik selama menempuh pendidikan memengaruhi performa akademik dan pencapaian skor akademik. Namun, pelajar dan mahasiswa yang memiliki pandangan yakin serta optimis terhadap kemampuan dirinya tidak selalu menunjukkan performa yang baik (Snyder et al., 1997; Snyder et al., 2002).

Sugiarti menjelaskan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri dan pandangan optimis dalam mengerjakan ujian dapat meminimalisir mengakarnya budaya menyontek di kalangan pelajar dan mahasiswa. Akan tetapi, hal tersebut masih dipengaruhi oleh perkiraan dan keyakinan individu dalam membayangkan tercapainya suatu tujuan (Sugiarti, 2019).

Optimisme dalam Teori Expectancy-Value

Optimisme dan pesimisme tidak dapat dilepaskan dari ekspektasi individu terhadap masa depannya. Carver dan Scheier menjelaskan bahwa pemahaman mengenai ekspektasi ini berkaitan dengan expectancy-value models of motivation (Carver & Scheier, 2005).

Teori expectancy-value berangkat dari anggapan bahwa perilaku individu diorganisir oleh pencapaian tujuan. Tujuan merupakan suatu keadaan atau tindakan yang dipandang individu sebagai sesuatu yang diinginkan atau tidak diinginkan (Sugiarti, 2019: 16). Jika individu menginginkan sesuatu, maka ia akan menyesuaikan langkahnya untuk mencapai hal tersebut. Sebaliknya, jika individu tidak menginginkan sesuatu, maka ia akan melakukan berbagai bentuk penghindaran.

Elemen penting lain dalam teori expectancy-value adalah ekspektasi. Ekspektasi merupakan keyakinan atau keraguan terhadap pencapaian sebuah tujuan. Ketika individu memiliki keyakinan yang kuat, maka ia akan bergerak menuju tujuan semula dan berusaha menghadapi rintangan. Sebaliknya, keraguan dapat menghalangi usaha individu dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan (Carver & Scheier, 2005).

Dalam konteks academic cheating, mahasiswa yang memiliki ekspektasi positif terhadap keberhasilannya akan lebih mungkin berusaha dengan cara yang jujur. Sebaliknya, mahasiswa yang ragu terhadap kemampuannya dapat terdorong untuk mencari jalan pintas, salah satunya dengan menyontek.

Optimisme dan Perilaku Menyontek pada Mahasiswa

Penelitian Yunissa menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara optimisme dan perilaku menyontek pada mahasiswa. Harapan terhadap keberhasilan dan kegagalan yang tertanam dalam diri individu dapat memengaruhi reaksi mereka terhadap keberhasilan dan kegagalan di masa depan (Yunissa, 2012).

Harapan tersebut kemudian memengaruhi kinerja individu melalui berbagai bentuk perilaku. Individu yang optimis cenderung lebih inisiatif, mampu bertahan dalam kesulitan, mau mengambil risiko, menggunakan strategi pemecahan masalah, dan menjadi lebih tegas (Schulman, 1995, dalam Yates, 2001).

Dalam konteks mahasiswa, optimisme bekerja di tengah tekanan akademik, seperti tuntutan nilai tinggi, tekanan sosial dari teman-teman, serta berbagai tuntutan kehidupan sebagai mahasiswa. Jika optimisme mahasiswa rendah, maka kondisi tersebut dapat mendorong mereka untuk menyontek. Sebaliknya, jika optimisme mahasiswa tinggi, maka mereka cenderung menghindarkan diri dari upaya menyontek.

Dampak Optimisme terhadap Prestasi Akademik

Tingkat optimisme terbentuk sejak masa kanak-kanak melalui berbagai pengalaman sehari-hari. Optimisme berdampak pada kesehatan, motivasi, dan prestasi individu (Sugiarti, 2019: 32). Menurut Seligman, optimisme dapat menghindarkan individu dari depresi, meningkatkan prestasi, memperkuat kesejahteraan fisik, serta mendukung kondisi mental yang lebih baik (Seligman, 1990, dalam Sugiarti, 2019: 32).

Berkaitan dengan performa akademik, individu yang mengharapkan kesuksesan cenderung tampil lebih baik daripada individu yang tidak optimis. Hal ini terjadi karena individu dengan ekspektasi tinggi akan bekerja lebih giat dan menggunakan strategi penyelesaian masalah yang lebih efektif dibandingkan individu yang pesimis terhadap peluang keberhasilannya (Brown & Marshall, dalam Chang, 2001).

Dalam konteks mahasiswa, apabila individu memiliki persepsi bahwa hasil belajar bergantung pada tingkah lakunya sendiri serta memiliki ekspektasi positif terhadap hasil belajar tersebut, maka ia akan semakin yakin bahwa usahanya dapat membawa keberhasilan. Dengan demikian, mahasiswa yang optimis dapat dipahami sebagai individu yang mengharapkan hasil positif, meskipun menghadapi situasi yang berat dan sulit (Sugiarti, 2019).

Kesimpulan

Academic cheating merupakan bentuk ketidakjujuran akademik yang mencakup perilaku menyontek, plagiarisme, dan berbagai tindakan lain yang melanggar integritas akademik. Menyontek dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah ketakutan terhadap kegagalan dan kecemasan akademik.

Menyontek dapat menjadi bentuk coping strategy yang memberikan rasa tenang sementara. Namun, perilaku tersebut tidak menyelesaikan akar kecemasan dan justru dapat membentuk kebiasaan curang dalam dunia akademik.

Optimisme memiliki peran penting dalam menekan kecenderungan menyontek. Mahasiswa yang optimis cenderung memiliki keyakinan terhadap kemampuan diri, mampu bertahan dalam kesulitan, dan percaya bahwa usaha yang dilakukan dapat membawa keberhasilan. Sebaliknya, mahasiswa dengan optimisme rendah lebih rentan mencari jalan pintas ketika menghadapi tekanan akademik.

Dengan demikian, upaya mengurangi academic cheating tidak cukup hanya dilakukan melalui aturan dan sanksi. Diperlukan pula penguatan integritas akademik, pengelolaan kecemasan, serta pembangunan optimisme dalam diri mahasiswa.

Daftar Pustaka

Sugiarti, Dra, M.Kes. (2019). Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia. Depok: Rajawali Press.

Anderman, E. M., & Murdock, T. B. (Eds.). (2007). Psychology of academic cheating. Elsevier Academic Press.

Brown, J. D., & Marshall, M. A. (2001). Great expectations: Optimism and pessimism in achievement settings. Dalam E. C. Chang (Ed.), Optimism and pessimism: Implications for theory, research, and practice (hlm. 239–255). Washington, DC: American Psychological Association.

Calabrese, R. L., & Cochran, J. T. (1990). The relationship of alienation to cheating among a sample of American adolescents. Journal of Research and Development in Education, 23(2), 65–72.

Carver, C. S., & Scheier, M. F. (2005). Optimism. Dalam C. R. Snyder & S. J. Lopez (Eds.), Handbook of positive psychology (hlm. 231–256). Oxford University Press.

Jones, L. R. (2001/2011). Academic integrity & academic dishonesty: A handbook about cheating & plagiarism. Florida Institute of Technology.

Michaels, J. W., & Miethe, T. D. (1989). Applying theories of deviance to academic cheating. Social Science Quarterly, 70(4), 870–885.

Newstead, S. E., Franklyn-Stokes, A., & Armstead, P. (1996). Individual differences in student cheating. Journal of Educational Psychology, 88(2), 229–241.

Schulman, P. (1995). Explanatory style and achievement in school and work. Dalam G. M. Buchanan & M. E. P. Seligman (Eds.), Explanatory style (hlm. 159–171). Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum.

Seligman, M. E. P. (1990). Learned optimism. New York: Knopf.

Snyder, C. R., Cheavens, J., & Sympson, S. C. (1997). Hope: An individual motive for social competence. Group Dynamics: Theory, Research, and Practice, 1(2), 107–118.

Snyder, C. R., Shorey, H. S., Cheavens, J., Pulvers, K. M., Adams, V. H., III, & Wiklund, C. (2002). Hope and academic success in college. Journal of Educational Psychology, 94(4), 820–826.

Yates, S. M. (2002). The influence of optimism and pessimism on student achievement in mathematics. Mathematics Education Research Journal, 14(1), 4–15.

Yunissa, R. A. (2012). Hubungan antara optimisme dan menyontek pada mahasiswa [Skripsi, Universitas Indonesia].

Artikel Menarik Lainnya

Penelitian Optimisme Pada Pasien Dengan Rehabilitasi Diindonesia pernah dilakukan penelitian...

Pelayanan Psikologi Klinis adalah segala aktivitas pemberian jasa dan praktik psikologi klinis...

Era digital membuat kehidupan anak hari ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Belajar,...

Kesetaraan gender di Indonesia bukan lagi isu yang bisa dipandang sebelah mata. Ini bukan cuma...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415