- Artikel
- Hits: 50
Pola Insecurity Laki-laki dalam Hubungan Romantis Heteroseksual dan Cara Mengatasinya
Dalam percakapan sehari-hari, insecurity pada laki-laki sering disederhanakan menjadi “kurang percaya diri”, “posesif”, atau “terlalu cemburuan”. Padahal, dari sudut pandang psikologi hubungan, insecurity jauh lebih kompleks: ia berkaitan dengan rasa takut ditolak, takut tidak cukup berharga, takut kalah dibanding laki-laki lain, dan takut kehilangan kendali atas hubungan. Dari sudut pandang antropologis, rasa ini juga tidak lahir dari ruang hampa. Ia dibentuk oleh norma maskulinitas, pola asuh, kelas sosial, budaya digital, dan harapan bahwa laki-laki harus tampak kuat, rasional, dominan, dan tidak rapuh (Connell, 1995:20; hooks, 2004:17-35).
Artikel ini membahas pola insecurity laki-laki dalam hubungan romantis heteroseksual bukan untuk menyalahkan laki-laki, melainkan untuk membantu memahami bagaimana rasa tidak aman itu muncul, bagaimana ia merusak hubungan, dan apa yang bisa dilakukan untuk mengubahnya. Penting ditegaskan sejak awal: tidak semua laki-laki mengalami pola yang sama, dan tidak semua hubungan heteroseksual bekerja dengan cara seragam. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kecemasan keterikatan, tekanan norma maskulinitas tradisional, kecenderungan menekan emosi, dan strategi regulasi emosi yang buruk memang sering menjadi kombinasi yang merusak kualitas relasi romantis (Burn & Ward, 2005; Kardum et al., 2021; Richter et al., 2022).
Apa yang dimaksud dengan insecurity pada laki-laki?
Dalam konteks hubungan romantis, insecurity dapat dipahami sebagai keadaan psikologis ketika seseorang terus-menerus meragukan nilai dirinya, kestabilan relasinya, atau komitmen pasangannya. Pada laki-laki, insecurity sering tidak tampil sebagai “aku takut kehilanganmu” secara langsung, tetapi justru muncul lewat bentuk yang lebih keras atau defensif: mengatur pasangan, menuntut kepastian terus-menerus, marah ketika merasa diabaikan, membandingkan diri dengan mantan pasangan, atau menarik diri dan mendadak dingin. Secara psikologis, ini dekat dengan apa yang dalam teori attachment disebut attachment anxiety dan, pada sebagian kasus, kombinasi dengan attachment avoidance (Sharpsteen & Kirkpatrick, 1997; Mikulincer & Shaver, 2016; Richter et al., 2022).
Attachment anxiety membuat seseorang sangat peka terhadap tanda-tanda penolakan. Pesan yang dibalas lama, perubahan nada bicara, unggahan media sosial yang ambigu, atau kedekatan pasangan dengan orang lain bisa dibaca sebagai ancaman besar. Penelitian menunjukkan bahwa attachment anxiety berhubungan positif dengan kecemburuan romantis, terutama komponen kognitif dan perilaku seperti curiga, mengecek, mengawasi, dan mencari bukti ancaman (Sharpsteen & Kirkpatrick, 1997; Sullivan, 2021; Richter et al., 2022). Jadi, insecurity bukan sekadar “drama”, melainkan respons yang sering berakar pada sistem keterikatan yang terlalu siaga terhadap ancaman kehilangan.
Mengapa insecurity laki-laki sering tampil berbeda?
Di sinilah analisis antropologis membantu. Banyak laki-laki dibesarkan dalam budaya yang mengajarkan bahwa nilai diri laki-laki terletak pada kontrol, prestasi, daya tahan, dan kemampuan untuk tidak tampak lemah. Connell menjelaskan maskulinitas sebagai sesuatu yang relasional dan tersusun secara sosial, bukan sifat alamiah tunggal yang otomatis dimiliki semua laki-laki (Connell, 1995:20). bell hooks juga menekankan bahwa budaya patriarkal mendorong anak laki-laki untuk memutus hubungan dengan kerentanan emosionalnya; mereka diajarkan untuk menahan rasa takut, sedih, dan butuh kedekatan, lalu menggantinya dengan kemarahan, diam, atau dominasi (hooks, 2004:17-35).

Akibatnya, banyak laki-laki tidak punya bahasa emosional yang cukup untuk mengatakan, “Aku sedang merasa tidak aman.” Yang muncul justru perilaku pengganti: menginterogasi pasangan, menjadi sinis, memamerkan kemandirian palsu, atau menuduh pasangan tidak menghargainya. Penelitian tentang conformity to traditional masculinity menemukan bahwa semakin kuat kepatuhan laki-laki pada norma maskulin tradisional tertentu, semakin rendah kepuasan hubungan, baik bagi dirinya maupun pasangannya; efek ini khususnya tampak pada norma seperti kontrol emosi dan dominasi (Burn & Ward, 2005). Dengan kata lain, masalahnya bukan laki-laki punya emosi, melainkan ia sering disosialisasikan untuk menyalurkan emosi secara tidak sehat.
Pola-pola insecurity yang paling sering muncul
Pola pertama adalah kecemburuan yang berlebihan. Kecemburuan sendiri adalah emosi yang normal ketika ada ancaman pada hubungan, tetapi pada laki-laki yang insecure, ancaman kecil bisa dibaca sebagai bukti besar. Ia mudah merasa “digantikan”, “dibandingkan”, atau “tidak cukup”. Penelitian menemukan bahwa individu dengan attachment anxiety lebih rentan mengalami kecemburuan lebih intens, lebih sering, dan lebih sulit dikendalikan (Sharpsteen & Kirkpatrick, 1997; Richter et al., 2022). Dalam era digital, risiko ini membesar karena media sosial menyediakan bahan pengawasan tanpa akhir: likes, followers, pesan, story, lokasi, atau komentar yang serba ambigu (Sullivan, 2021).
Pola kedua adalah kebutuhan akan validasi terus-menerus. Laki-laki yang tampak sangat percaya diri pun bisa diam-diam bergantung pada konfirmasi pasangan untuk menenangkan harga dirinya. Ia ingin diyakinkan bahwa dirinya paling penting, paling menarik, paling dibutuhkan. Ketika validasi itu tidak datang sesuai harapan, ia cepat marah atau murung. Masalahnya, pasangan bukan mesin penenang harga diri. Jika rasa aman hanya bergantung pada respons pasangan, hubungan akan menjadi berat sebelah dan melelahkan. Dalam teori attachment, kebutuhan reassurance yang berlebihan sering muncul sebagai upaya mengatasi rasa takut ditolak, tetapi justru dapat memicu konflik baru (Mikulincer & Shaver, 2016; Sullivan, 2021).
Pola ketiga adalah perilaku mengontrol. Ini bisa berbentuk hal-hal yang tampak kecil: meminta akses akun, ingin tahu lokasi terus, mengomentari pakaian pasangan, mempermasalahkan teman lawan jenis, atau membuat aturan sepihak atas nama “menjaga hubungan”. Penelitian menunjukkan bahwa attachment yang tidak aman dapat berkaitan dengan controlling behaviours dalam relasi dewasa, terutama ketika individu merasa hubungan tidak stabil atau dirinya tidak cukup berharga untuk dipilih secara bebas (Bowlby, 1988; Exploring How UK Adults’ Attachment Style in Romantic Relationships Relates to Controlling Behaviour, 2021). Kontrol sering terasa memberi rasa aman sementara bagi pelaku, tetapi bagi pasangan ia terasa sebagai pengekangan, bukan kasih sayang.
Pola keempat adalah menarik diri secara emosional. Ini bentuk insecurity yang sering tidak dikenali karena tampilannya bukan posesif, melainkan dingin. Laki-laki yang takut tampak lemah bisa menutup diri, menghindari percakapan serius, atau menghilang saat konflik. Ia tampak “tenang”, padahal sebenarnya kewalahan. Penekanan emosi seperti ini berkaitan dengan kualitas hubungan yang lebih buruk. Studi tentang regulasi emosi pada pasangan menunjukkan bahwa expressive suppression cenderung berkorelasi negatif dengan kepuasan hubungan, baik pada diri sendiri maupun pasangan, sedangkan cognitive reappraisal cenderung berkorelasi positif (Kardum et al., 2021). Jadi, diam bukan selalu dewasa; kadang itu hanya bentuk ketidakmampuan mengolah emosi.
Pola kelima adalah agresi defensif. Sebagian laki-laki yang insecure tidak mampu mengakui takutnya, sehingga rasa takut itu keluar sebagai kemarahan, sarkasme, atau penghinaan. Ini yang sering membuat pasangan berkata, “Setiap aku jujur, dia malah marah.” Dalam kerangka budaya maskulinitas, kemarahan lebih “diizinkan” untuk laki-laki dibanding sedih atau takut. Karena itu, amarah kerap menjadi topeng bagi rasa rapuh (hooks, 2004:35-52; Burn & Ward, 2005).
Dari mana pola itu berasal?
Akar pertama yang paling kuat adalah riwayat attachment. Teori attachment menjelaskan bahwa pengalaman awal dengan pengasuh membentuk model mental tentang diri dan orang lain: apakah saya layak dicintai, dan apakah orang lain dapat diandalkan? Model ini memang bisa berubah, tetapi cukup stabil hingga dewasa dan ikut mewarnai hubungan romantis (Bowlby, 1988; Mikulincer & Shaver, 2016). Laki-laki yang tumbuh dengan respons pengasuh yang inkonsisten bisa lebih mudah mengembangkan ketakutan ditinggalkan; yang tumbuh dengan kedekatan emosional yang minim bisa belajar bahwa kebutuhan afeksi harus ditekan.
Akar kedua adalah norma maskulinitas tradisional. Banyak laki-laki belajar bahwa menunjukkan kebutuhan afeksi berarti lemah, menangis berarti kalah, dan mengungkap takut berarti tidak jantan. Ketika relasi romantis menuntut keterbukaan, kerja sama, dan saling mendengar, benturan pun muncul. Penelitian Burn dan Ward menunjukkan bahwa kepatuhan pada norma maskulin tradisional tertentu berhubungan dengan kepuasan hubungan yang lebih rendah (Burn & Ward, 2005). Dengan kata lain, insecurity pada laki-laki sering tidak lepas dari kontradiksi: ia ingin dicintai, tetapi diajari untuk tidak membutuhkan.
Akar ketiga adalah lingkungan digital dan budaya perbandingan. Media sosial mempercepat pembandingan diri: siapa yang lebih mapan, lebih menarik, lebih sukses, lebih romantis. Untuk laki-laki yang sudah rapuh, ini bisa memperburuk rasa kurang. Penelitian Sullivan menunjukkan bahwa attachment anxiety berkaitan dengan online jealousy, terutama karena komunikasi digital memberi begitu banyak ruang untuk salah tafsir dan pengawasan (Sullivan, 2021). Di usia 17-30 tahun, ketika relasi dan identitas diri sama-sama masih berkembang, faktor ini sangat kuat.
Cara mengatasinya secara langsung dan realistis
Langkah pertama adalah mengganti pertanyaan dari “Pasanganku salah apa?” menjadi “Apa yang sedang terpicu dalam diriku?”. Ini penting karena insecurity sering membuat orang fokus pada perilaku pasangan sambil mengabaikan dinamika internalnya sendiri. Saat cemburu atau panik, berhenti sebentar dan identifikasi: apakah saya sedang takut ditinggalkan, takut kalah, atau malu merasa tidak cukup? Menamai emosi mengurangi dorongan impulsif untuk langsung menyerang, mengontrol, atau menguji pasangan (Mikulincer & Shaver, 2016; Kardum et al., 2021).
Langkah kedua adalah belajar mengungkapkan kerentanan tanpa agresi. Kalimat seperti “Kamu sengaja bikin aku cemburu” hampir pasti memicu defensif. Bandingkan dengan, “Aku sadar aku lagi merasa tidak aman ketika melihat itu, dan aku butuh penjelasan.” Bentuk kedua tidak otomatis menyelesaikan masalah, tetapi membuka jalan dialog. Penelitian tentang hubungan attachment, kecemburuan, dan emosi menunjukkan bahwa individu yang cemas cenderung bereaksi lebih intens; karena itu, kemampuan menunda reaksi dan mengubahnya menjadi komunikasi yang jelas sangat penting (Sharpsteen & Kirkpatrick, 1997; Sullivan, 2021).
Langkah ketiga adalah mengurangi perilaku pengawasan. Berhenti mengecek online status, story viewers, chat, atau lokasi pasangan secara kompulsif. Secara singkat, itu memang menurunkan cemas. Namun, dalam jangka panjang, otak justru belajar bahwa rasa aman hanya bisa diperoleh lewat kontrol dan pengecekan. Ini memperkuat siklus insecurity, bukan memutusnya (Sullivan, 2021).
Langkah keempat adalah melatih regulasi emosi yang lebih sehat. Dua strategi sederhana yang cukup didukung riset adalah reappraisal dan jeda respons. Reappraisal berarti menafsir ulang situasi sebelum bereaksi: “Dia belum membalas 3 jam” tidak otomatis berarti “Dia bosan padaku.” Jeda respons berarti menunda tindakan impulsif sampai tubuh lebih tenang. Penelitian pada pasangan menunjukkan bahwa reappraisal berhubungan dengan kepuasan hubungan yang lebih baik, sementara suppression cenderung merugikan (Kardum et al., 2021).
Langkah kelima adalah membangun self-compassion. Banyak laki-laki insecure sebenarnya sangat keras pada dirinya sendiri. Mereka merasa harus selalu kuat, menang, mapan, atau diinginkan. Ketika gagal memenuhi standar itu, rasa malu berubah menjadi cemburu, defensif, atau putus asa. Self-compassion bukan memanjakan diri, tetapi kemampuan memperlakukan diri dengan wajar ketika merasa kurang. Tinjauan literatur menemukan bahwa self-compassion berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan perilaku yang lebih sehat dalam hubungan dekat (Lathren et al., 2021). Studi lain menunjukkan bahwa pasangan yang lebih self-compassionate cenderung menggunakan gaya penyelesaian konflik yang lebih fungsional dan memiliki kepuasan hubungan yang lebih baik (Tandler, Krüger, & Petersen, 2020).
Langkah keenam adalah mencari sumber harga diri di luar hubungan. Hubungan yang sehat memang memberi rasa aman, tetapi ia tidak bisa menjadi satu-satunya fondasi identitas. Laki-laki yang seluruh harga dirinya bertumpu pada diterima atau tidaknya oleh pasangan akan lebih rentan panik saat hubungan terguncang. Aktivitas yang memperluas identitas—pertemanan, studi, kerja, olahraga, karya, komunitas—membantu membangun rasa bernilai yang lebih stabil (Connell, 1995:20; Burn & Ward, 2005).
Langkah ketujuh adalah mau mencari bantuan profesional jika pola sudah berulang. Bila insecurity sudah berubah menjadi siklus kecemburuan ekstrem, kontrol, ledakan marah, atau putus-nyambung yang menguras energi, konseling individual atau terapi pasangan layak dipertimbangkan. Attachment yang tidak aman bukan kutukan permanen; banyak penelitian menunjukkan pola relasi dapat berubah melalui pengalaman korektif, refleksi diri, dan intervensi psikologis yang konsisten (Mikulincer & Shaver, 2016; Richter et al., 2022).
Penutup
Insecurity laki-laki dalam hubungan romantis heteroseksual bukan tanda bahwa ia tidak mencintai pasangannya. Sering kali justru sebaliknya: ia ingin dekat, tetapi tidak tahu cara merasa aman tanpa mengontrol; ia ingin dicintai, tetapi malu mengaku butuh; ia takut kehilangan, tetapi mengekspresikannya dalam bentuk yang melukai. Dari perspektif psikologi, akar masalah ini banyak terkait dengan attachment, regulasi emosi, dan harga diri. Dari perspektif antropologis, ia juga berkaitan dengan cara budaya membentuk maskulinitas dan membatasi bahasa emosi laki-laki (Connell, 1995:20; hooks, 2004:17-35).
Karena itu, jalan keluarnya bukan sekadar “jangan cemburu” atau “jadi laki-laki yang lebih percaya diri”. Yang dibutuhkan adalah kerja yang lebih jujur: mengenali luka, membongkar norma yang merugikan, belajar bicara tanpa menyerang, dan membangun rasa aman yang tidak bergantung pada kontrol atas pasangan. Laki-laki yang sehat secara emosional bukan laki-laki yang tidak pernah takut. Ia adalah laki-laki yang bisa mengatakan takut tanpa berubah menjadi ancaman bagi orang yang dicintainya (hooks, 2004:35-52; Tandler, Krüger, & Petersen, 2020).
Daftar sumber
Baker, L. R., & McNulty, J. K. (2011). Self-compassion and relationship maintenance: The moderating roles of conscientiousness and gender. Journal of Personality and Social Psychology.
Burn, S. M., & Ward, A. Z. (2005). Men’s Conformity to Traditional Masculinity and Relationship Satisfaction.
Connell, R. W. (1995). Masculinities. Cambridge: Polity Press.
hooks, bell. (2004). The Will to Change: Men, Masculinity, and Love. New York: Washington Square Press.
Kardum, I., Gračanin, A., Hudek-Knežević, J., & Blažić, B. (2021). Emotion Regulation and Romantic Partners’ Relationship Satisfaction: Self-Reports and Partner Reports. Psychological Topics.
Lathren, C., Rao, S. S., Park, J., & Bluth, K. (2021). Self-Compassion and Current Close Interpersonal Relationships: A Scoping Review. Mindfulness.
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2016). Attachment in Adulthood: Structure, Dynamics, and Change. New York: Guilford Press.
Richter, M., Schlegel, K., Thomas, P., & Troche, S. J. (2022). Adult Attachment and Personality as Predictors of Jealousy in Romantic Relationships. Frontiers in Psychology.
Sharpsteen, D. J., & Kirkpatrick, L. A. (1997). Romantic Jealousy and Adult Romantic Attachment. Journal of Personality and Social Psychology.
Sullivan, K. T. (2021). Attachment Style and Jealousy in the Digital Age: Do Attitudes About Online Communication Matter? Frontiers in Psychology.
Tandler, N., Krüger, M., & Petersen, L.-E. (2020). Better Battles by a Self-Compassionate Partner? The Mediating Role of Personal Conflict Resolution Styles in the Association Between Self-Compassion and Satisfaction in Romantic Relationships. Journal of Individual Differences.
