FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OPTIMISME

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Optimisme

 Optimisme merupakan Trait, akan tetapi terdapat beberapa penelitian yang menunjukan bahwa optimisme dapat pula dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal [Carver, Scheier, dan Segerstorm, 2010]

1. Pengalaman 

Optimisme dan pesimisme dapat dipelajari dari pengalaman diri, misalnya ketika mengalami keberhasilan ataupun kegagalan yang pernah dialami sebelumnya [Scheier dan Carver, 1993]. Penelitian yang dilakukan oleh Ek, Remes, dan Sovio secara longitudinal menemukan bahwa dalam proses pembentukannya, optimisme memiliki beberapa prediktor kuat yang memengaruhi level optimisme pada diri seseorang selama proses perkembangannya. Ditemukan bahwa kebutuhan yang diperlukan anak, status sosial ekonomi ayah, prestasi sekolah yang didapatkan, pendidikan kejuruan, dan riwayat kerja dapat memprediksi level optimisme pada individu saat dirinya berusia 31 tahun. Faktor Faktor tersebut yang berkembang seiring masa perkembangan individu, nantinya menjadi prediktor yang kuat terhadap tinggi atau rendahnya level optimisme pada diri seseorang.    

2. Genetis         

Faktor genetis merupakan saalah satu faktor yang memengaruhi tingkat optimisme pada diri seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Plomin, Scheier, Bergeman, Pedersen, Nesselroade, Mc Cleam [1992] pada 500 pasangan kembar paruh baya yang berjenis kelamin sama diswedia, ditemukan bahwa heritabilitas mampu memprediksi tingkat optimisme dan pesimisme individu sebesar 25%. Hal ini terbukti pada partisipan penelitian yang sebagian dibesarkan bersama dan sebagian lainnya dibesarkan secara terpisah sejak kecil walaupun kembar.Ditemukan bahwa pengaruh genetik menyumbang sebesar 14-20% pada setiap variabelnya yaitu optimisme, kesehatan mental, dan kesehatan diri [self-related health] [Mosing, Zeitsch, Shekar, Wright, & Martin, 2009].

3.  Status Sosial Ekonomi

Status sosial ekonomi juga memiliki peran yang penting dalam perkembangan optimisme dan pesimisme pada diri individu. Berdasarkan penelitian folow up 21 tahun, pada 694 orang dewasa yang berusia 24 dan 27 tahun dengan mengaitkan Status Sosial Ekonomi [SES] yang diukur secara bersamaan, yang sebelumnya telah dilakukan pengambilan data pada saat partisipan berusia 3 dan 6 tahun menyatakan bahwa optimisme dan pesimisme terbentuk dengan adanya pengaruh dari [SES] keluarga partisipan saat masih kecil [Heninonen et al., 2006]. 

4. Ras Atau Budaya

Individu yang berada pada kelompok ras minoritas biasanya memiliki tekanan yang lebih  besar dan cenderung negatif dalam menjalankan kehidupan sehari-hari diantara kelompok ras mayoritas. Pada suatu penelitian, diketahui bahwa hasil perhitungan internal consistensy alat ukur LOT-R tidak ditemukan pada ras african american dan hispanic [ras minoritas]  dan juga pada individu yang memiliki pendidikan yang rendah, oleh karena itu dapat disimpulkan optimisme kurang dimiliki pada kelompok ras minoritas dan pendidikan rendah [Hirsch, Britton, & Conner, 2010.

5. Sumber Daya Sosial

Optimisme dapat dipengaruhi lingkungan yang ada disekitar individu atau dapat dikategorikan sebagai faktor eksternal. Beberapa penelitian menemukan bahwa terdapat beberapa faktor eksternal yang dapat memengaruhi tingkat optimisme individu seperti orang tua [Seligman et al, 1984], Guru [Heyman et al., 1992], juga media [Peterson & Steen, 2009 dalam Forgeard & Seligman, 2012]

6. Orangtua dan pola pengasuhannya

Anak anak mungkin saja mendapatkan kecenderungan optimisme atau pesimisme dari kedua orang tuanya [Scheier & Carver, Dalam Heinonen, 2004]. Orang tua dapat memberikan pengaruh terhadapap anaknya untuk menjadi optimis atau pesimis baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara tidak langsung misalnya saja dengan memberi model atau contoh kepada anak mengenai cara menghadapi keadaan yang sulit. Orang tua juga mungkin saja memberikan pengaruh optimisme secara langsung pada anak dengan cara memberitahu anak bagaimana cara menyelesaikan masalah. Orangtua yang secara langsung mengajarkan keterampilan dalam menghadapi masalah pada anak akan menghasikan anak yang memiliki kemampuan penyelesaian masalah lebih baik dibandingkan yang tidak diajarkan orang tuanya. Selain itu, pola pengasuhan juga memberikan pengaruh terhadap tingkat optimisme anak [Scheier & Carver, Dalam Heinonen, 2004].

Dan masih banyak lagi faktor faktor yang memengaruhi optimisme juga pesimisme seseorang seperti yang ada dibeberapa poin diatas, baca lebih lengkap tentang poin selanjutnya dalam buku [Optimisme:Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia]. berikut poin lanjutan yang ada dalam buku itu>Self-Esteem, Self-Efficacy, Tempramen, Media, Dukungan Sosial, Jenis Kelamin, Usia. 

                                                                                                     

Artikel Menarik Lainnya

Jika harus memberikan sebuah materi presentasi kepada audien yang belum dikenal, bagi sebagian...

Seorang profesional dalam bidang kesehatan jiwa atau ilmu psikologi memerlukan sebuah acuan buku...

- Keberhasilan, kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup pada dasarnya dapat ditentukan oleh...

Kompleksitas masalah yang dihadapi oleh calon bidan selama menempuh pendidikannya menjadi faktor...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415