Sejarah Berkembangnya Teori Optimisme

Sejarah Berkembangnya Teori Optimisme

Konsep optimisme dan juga pesimisme telah dikenal sejak lama, yaitu sejak dimulainya periode filosofi modern pada abad ke-17 [Domino & Conway, 2001]. Berlanjut ke abad 19 hingga abad ke20an, hasil tulisan Rene Decartes [1596-1650] dan penelitian psikolog-filosof, seperti William James [1842-1910] secara bertahap berpindah fokus [James, 1902, dalam Heinonen, 2004]. Selama bertahun-tahun, sejumlah besar penelitian dan teori telah memusatkan perhatian pada cara cara orang menghadapi kesulitan di dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah penelitian tersebut menunjukan bahwa optimisme mungkin memiliki implikasi bagi cara-cara orang menghadapi berbagai tekanan hidup.

Kemungkinan ini diperoleh dari pertimbangkan model teoretis mengenai behavior self-regulation. Teori ini berasumsi bahwa harapan akan hasil yang sukses menyebabkan orang memperbarui usaha mereka untuk mencapai tujuan jika dan ketika terjadi gangguan atas aktivitas yang mengarah pada tujuan. Selama tiga puluh tahun setelahnya, Scheier dan Carver [1985] menjadi pionir dalam mengembangkan penelitian mengenai ekspektasi atau pengharapan yang bersifat umum [generalized outcome expectancies] dan pengaruh penelitian Seligman [1975] mengenai learened helplessness.

Pada tahun 1985, Scheier dan Carver juga menjelasakan optimisme melalui expectancy-value model. Ada dua konsep model ini, yaitu value [ nilai ] dan expectancy [pengharapan]. expectancy-value model berakar dari pandangan bahwa tingkah laku manusia berhubungan dengan pencapaian suatu tujuan [Carver & Sheier, dalam Carver, 2007]. Tujuan yang dimaksudkan merupakan suatu tindakan atau nilai yang mungkin dilihat individu sebagai sesuatu yang diinginkan [desirable] ataupun sebagai sesuatu yang tidak diinginkan [undesirable]. Individu cenderung untuk menyesuaikan tindakannya untuk dapat mencapai apa yang diinginkan dan mencoba untuk menjauhkan diri dari apa yang tidak diingingkan. berdasarkan konsep ini, jika tidak ada tujuan yang memiliki nilai [value goal] bagi diri individu, maka tidak akan ada tindakan yang muncul, Konsep kedua dari expectancy-value model adalah pengharapan atau keyakinan [expectancy] [Carver, 2007].

Artikel Menarik Lainnya

Pernah gak sih kalian ketika menjalani kehidupan sehari-hari merasa tidak bisa melakukan apa-apa...

Para psikolog melalui penelitian telah menyimpulkan bahwa ada 5 jenis bahasa cinta (love language)...

Kalau mendengar kalimat seperti “perempuan itu memang lebih cocok mengurus rumah” atau “laki-laki...

Self Efficacy dapat diartikan sebagai keyakinan diri seseorang terhadap kemampuan yang dimiliki...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415