Konseling Untuk Pasangan Pranikah
Pasangan yang akan menikah membutuhkan suatu proses yang dilalui untuk mempersiapkan pernikahannya sebelum akhirnya benar-benar memutuskan untuk memasuki jenjang pernikahan. Proses ini diperlukan karena adanya kemungkinan terjadi perselisihan dalam hubungan pernikahan nantinya. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan pernikahan adalah dengan melakukan konseling pranikah. Program konseling pranikah dirancang untuk membuat pasangan calon pengantin meningkatkan pemahaman tentang perkawinan dan hubungan antara suami dan istri sebagai suatu yang serius.
Konseling pranikah bukan hanya upaya pencegahan terhadap kemungkinan gangguan dalam pernikahan yang akan berlangsung nantinya, namun juga untuk meningkatkan kualitas hubungan suami-istri yang baik serta memberikan kesejahteraan, rasa aman dan kebahagiaan dalam perkawinan.

Definisi Konseling Pranikah.
Menurut Murray dan Murray Jr (2004), konseling atau pendidikan pranikah adalah intervensi pada pasangan yang bersifat terapeutik, di mana intervensi ini dilakukan pada pasangan yang memiliki rencana untuk menikah. Konseling pranikah modern melibatkan komunikasi timbal balik antara konselor dan pasangan, dimana konselor mengajarkan secara verbal kemampuan berkomunikasi dan kemampuan sosial serta menjelaskan mengenai aspek-aspek fisik dan psikologis yang berpengaruh terhadap pernikahan kepada pasangan (Farnam, Pakgohar, dan Mir-mohammadali, 2011; Murray dan Murray Jr, 2004).
Konseling pranikah merupakan program yang rata-rata memiliki empat jam waktu kontak dengan masing-masing pasangan. Adapun menurut Farnam, Pakgohar, dan Mir-mohammadali (2011), biasanya konseling pranikah menghabiskan waktu maksimal satu jam dengan pembahasan mengenai perencanaan keluarga dan kesehatan individu. Lamanya waktu konseling dan program-program khusus dalam konseling pranikah memang dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan subjek dari konseling (Farnam, Pakqohar, dan Mir-mohammad ali, 2011: Murray dan Murray Jr, 2004).
Tujuan Konseling Pranikah.
Tujuan dari konseling pranikah secara general adalah untuk memberi informasi pada pasangan tentang kehidupan pernikahan, untuk meningkatkan kemampuan komunikasi pada pasangan, mendorong pasangan mengembangkan kemampuan dalam mengatasi konflik, dan menyediakan fasilitas bagi pasangan agar bisa membicarakan tentang topik tertentu yang spesifik, seperti seks, dan keuangan (Murray dan Murray Jr, 2004). Tujuan utama dari konseling pranikah adalah untuk meningkatkan hubungan antara pasangan dan mengarahkan hubungan ini menuju pernikahan yang stabil dan tercapainya kepuasan pernikahan (Farnam, Pakqohar, dan Mir-mohammad Ali, 2011; Murray dan Murray Jr, 2004).
Manfaat Konseling Pranikah.
Intervensi dini pada pasangan memiliki manfaat karena risiko penceraian yang paling tinggi adalah ketika awal-awal tahun pernikahan (Kreider dan Fields dalam Murray dan Murray Jr, 2004). Selama ini, masyarakat juga tidak menyediakan fasilitas bagi pasangan berupa perlatihan formal untuk pernikahan dan kehidupan berkeluara (Murray dan Murray Jr, 2004). Intervensi berupa pendidikan dan konseling akan sangat membantu untuk memfasilitasi persiapan perubahan pada pasangan ketika telah memasuki jenjang berkeluarga, terutama pada pasangan yang memiliki sedikit pengetahuan dan pengalaman yang terbatas.
Tehknik Pelaksanaan Konseling Pranikah dengan pendekatan Solution-Focused (Murray dan Murray Jr, 2004).
Kerangka berpikir Solution-focused padahal yang digunakan untuk melakukan konseling pranikah akan dapat membantu pasangan untuk menemukan dan mengembangkan visi untuk kehidupan pernikahan yang akan datang secara bersama-sama. Ketika mengembangkan visi ini, pasangan sekaligus dapat merencanakan perubahan perubahan apa yang akan dilakukan untuk dapat mencapai visi tersebut. Konselor dapat mengadaptasi kerangka Solution-Focused ini ketopik-topik yang berhubungan dengan konseling pranikah, misalnya komunikasi dan resolusi konflik, keuangan, parenting, serta hubungan dengan keluarga pasangan.
Konseling pranikah dengan pendekatan solution-focused bertujuan membantu pasangan untuk mengaktivasi kemampuan dan potensi yang sudah mereka miliki, sehingga mereka dapat "bergerak maju" melalui visi masa depan yang dirancang bersama. Fungsi utama konselor adalah membantu masing-masing pasangan untuk mengungkapkan visi pribadinya dan menggabungkannya selama proses konseling. Konselor harus dapat menghargai masing-masing pasangan beserta keunikan, potensi, dan kekuatan mereka. Konselor pranikah dapat memantau orientasi masa depan dan berfokus pada sasaran serta tujuan dalam persiapan pernikahan. Tehknik-tehknik yang dapat dilakukan dalam konseling pranikah dengan pendekatan solution-focused adalah couple's resource map, solution-focused question (pertanyaan yang berfokus pada solusi), dan memberikan umpan balik.
Gottman (1994, dalam Burpee dan Langer, 2005) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi tingkat kepuasan pernikahan, antara lain: interaksi, kepribadian pasangan, perilaku pasangan, persamaan minat dan kecenderungan, serta tingkat konflik yang terjadi. Sementara, menurut Fowers dan Olson (1989) terdapat beberapa faktor dalam pernikahan yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan pernikahan. Faktor-faktor tersebut antara lain.
- CommunicationArea ini melihat bagaimana perasaan dan sikap individu dalam berkomunikasi dengan pasangannya dan berfokus pada rasa senang yang dialami pasangan suami istri dalam berkomunikasi dimana mereka saling berbagi dan menerima informasi tentang perasaan dan pikirannya.
- Leisure ActivityArea ini menilai pilihan kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang yang merefleksikan aktivitas yang dilakukan secara personal ataupun dilakukan bersama. Area ini juga melihat apakah suatu kegiatan dilakukan sebagai pilihan bersama.
- Religous Orientation Area ini menilai makna keyakinan beragama serta bagaimana pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang memiliki keyakinan beragama, ia akan peduli terhadap hal-hal keagamaan dan mau beribadah.
- Conflict ResolutionArea ini berfokus untuk menilai persepsi suami istri terhadap suatu masalah, serta bagaimana pemecahannya. diperlukan adanya keterbukaan pasangan untuk mengenal dan memecahkan masalah yang muncul serta strategi yang digunakan untuk mendapatkan solusi terbaik.
- Financial ManagementArea ini menila sikap dan cara pasangan mengatur keuangan, bentuk-bentuk pengeluaran, dan pembuatan keputusan tentang keuangan.
- Sexual OrientationArea ini Berfokus pada refleksi sikap yang berhubungan dengan masalah seksual, tingkah laku seksual, serta kesetiaan terhadap pasangan. Penyesuaian seksual dapat menjadi penyebab pertengkaran dan ketidakbahagiaan apabila tidak tercapai kesepakatan yang memuaskan.
- Family And FriendsArea ini dapat melihat bagaimana perasaan dan perhatian pasangan terhadap hubungan kerabat, mertua, serta teman-teman untuk merefleksikan harapan dan perasaan senang menghabiskan waktu bersama keluarga besar dan teman-teman.
- Children And ParentingArea ini menilai sikap dan perasaan tentang memiliki dan membesarkan anak. Fokusnya adalah bagaimana orang tua menerapkan keputusan mengenai disiplin anak, cita-cita terhadap anak, serta bagaimana pengaruh kehadiran anak terhadap hubungan dengan pasangan.
- Personality IssuesArea ini melihat penyesuaian diri dengan tingkah laku, kebiasaan-kebiasaan, serta kepribadian pasangan. Biasanya sebelum menikah individu berusaha menjadi pribadi yang menarik untuk mencari perhatian pasangannya, bahkan dengan berpura pura menjadi orang lain. Setelah menikah, kepribadian yang sebenarnya akan muncul.
- Egalitarium Role Area ini menilai perasaan dan sikap individu terhadap peran yang beragam dalam kehidupan pernikahan. Fokusnya adalah pada pekerjaan, tugas rumah tangga, peran sesuai jenis kelamin dan peran sebagai orang tua. Suatu peran harus mendatangkan kepuasan pribadi.
Dampak
Penelitian dari Burpee dan Langer (2005) menunjukan bahwa jika rendahnya kepuasan pernikahan tidak segera ditangani pada pasangan yang telah menikah, maka kemungkinan salah satu dari mereka atau bahkan keduanya akan mengalami kecemasan, depresi (Bouchard, 1999; Kosek, 1996), emosi yang tidak stabil, lemahnya kontrol impuls, perasaan inferior (Buss, 1991; Hjemboe dan Butcher, 1991; Kelly dan Conley, 1987), dan hipersensitif pada kritikan (Lester, 1989). Oleh karena itu, rendahnya kepuasan pernikahan pada pasangan yang telah menikah perlu segera ditangan.
