Menjadi orang tua hari ini terasa berbeda dibanding satu atau dua generasi sebelumnya. Dulu, tantangan pengasuhan lebih banyak berkisar pada sekolah, pergaulan sekitar rumah, dan pola disiplin di dalam keluarga. Sekarang, orang tua menghadapi dunia yang berubah jauh lebih cepat: teknologi hadir di hampir setiap sudut kehidupan, batas antara ruang belajar dan hiburan makin kabur, dan anak tumbuh dalam arus informasi yang tidak pernah benar-benar berhenti. Karena itu, mendidik anak di era milenial tidak cukup hanya mengandalkan pola lama; orang tua perlu belajar menyeimbangkan kedekatan emosional, batas yang sehat, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan sosial maupun digital (Livingstone & Blum-Ross, 2020; Relva et al., 2024).

Kalau melihat literatur klasik tentang pengasuhan, benang merahnya sebenarnya masih sangat relevan sampai sekarang. Diana Baumrind menunjukkan bahwa pola asuh tidak sesederhana pilihan antara “keras” atau “serba bebas.” Yang penting justru adalah bagaimana orang tua menggabungkan kehangatan, keterlibatan, dan tuntutan yang jelas dalam relasi dengan anak. Kerangka ini kemudian dikembangkan lagi oleh Maccoby dan Martin, yang menekankan pentingnya dua dimensi utama: responsiveness atau kehangatan-tanggapan terhadap kebutuhan anak, dan demandingness atau struktur-pengawasan yang membantu anak belajar batas dan tanggung jawab. Jadi, inti pengasuhan yang sehat bukan kontrol berlebihan, tetapi hubungan yang hangat sekaligus terarah (Baumrind, 1967; Maccoby & Martin, 1983).
Masalahnya, di era sekarang tantangannya tidak lagi hanya soal aturan di rumah. Orang tua juga harus menghadapi perubahan sosial yang membuat masa kanak-kanak dan remaja menjadi lebih kompleks. Livingstone dan Blum-Ross menunjukkan bahwa di tengah inovasi digital yang sangat cepat, orang tua sering berada di posisi yang serba sulit: di satu sisi ingin melindungi anak, tetapi di sisi lain juga harus membantu anak mengembangkan kemandirian dan agensinya. Itulah sebabnya pengasuhan hari ini lebih banyak berisi negosiasi daripada sekadar perintah satu arah. Orang tua bukan hanya diminta menjaga anak tetap aman, tetapi juga menyiapkan mereka agar mampu hidup dalam dunia yang terus berubah (Livingstone & Blum-Ross, 2020).
Di sinilah tantangan digital menjadi sangat nyata. Kajian payung terbaru tentang digital parenting menjelaskan bahwa pengasuhan digital bukan cuma soal membatasi gawai. Ia mencakup setidaknya tiga hal: cara orang tua memediasi penggunaan media anak, cara orang tua sendiri menggunakan teknologi, dan bagaimana orang tua menjadi teladan dalam kebiasaan digitalnya. Ulasan itu juga menunjukkan bahwa pengasuhan digital berkaitan dengan perilaku online anak, paparan terhadap risiko digital, kesejahteraan psikologis-emosional, serta literasi digital mereka. Artinya, anak tidak hanya belajar dari aturan yang dibuat orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari dari orang tuanya sendiri (Tan et al., 2024).
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata “berapa lama anak menatap layar.” Kualitas relasi tetap menjadi fondasi utama. Studi terbaru tentang relasi orang tua-anak di era digital menunjukkan bahwa keteladanan digital yang buruk dan kelalaian digital dari orang tua berkaitan dengan hubungan orang tua-anak yang lebih lemah, sedangkan penggunaan teknologi yang efektif dan perlindungan dari risiko digital berkaitan dengan relasi yang lebih positif. Pesannya cukup jelas: teknologi bisa menjauhkan, tetapi juga bisa mendekatkan—tergantung bagaimana orang tua hadir di dalamnya. Maka, pengasuhan digital yang sehat bukan hanya soal larangan, tetapi juga soal pendampingan, percakapan, dan contoh nyata (Pekşen Akça et al., 2024).
Hal lain yang tidak kalah penting adalah suasana emosional di rumah. Meta-analisis internasional tentang gaya pengasuhan dan emotion dysregulation menunjukkan bahwa pengasuhan positif—misalnya kehangatan, dukungan, dan keterbukaan—cenderung berkaitan dengan tingkat disregulasi emosi anak yang lebih rendah. Sebaliknya, pengasuhan negatif, termasuk kontrol psikologis dan kecenderungan otoriter, berkaitan dengan disregulasi emosi yang lebih tinggi. Ini penting, karena di era yang cepat dan penuh stimulasi seperti sekarang, anak bukan hanya perlu diarahkan, tetapi juga perlu dibantu belajar mengenali, mengelola, dan menenangkan emosinya sendiri. Rumah yang terlalu keras mungkin tampak tertib dari luar, tetapi belum tentu menolong anak tumbuh matang secara emosional (Goagoses et al., 2023).
Penelitian tentang mediasi media pada remaja juga menunjukkan hasil yang penting: keterlibatan orang tua dalam membimbing penggunaan media digital memang relevan untuk membantu mengurangi penggunaan bermasalah dan risiko online, tetapi hasilnya tidak selalu sama pada setiap keluarga. Dengan kata lain, tidak ada rumus tunggal yang cocok untuk semua. Usia anak, kualitas hubungan sebelumnya, keterampilan digital orang tua, kondisi keluarga, dan budaya pengasuhan ikut memengaruhi hasilnya. Karena itu, menjadi orang tua di era milenial menuntut satu hal yang sangat penting: fleksibilitas. Orang tua perlu tetap punya nilai dan batas yang jelas, tetapi juga cukup lentur untuk menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan anak dan perubahan zaman (Huang et al., 2023; Tan et al., 2024).
Dari sini, kita bisa melihat bahwa kiat mendidik anak di era milenial sebenarnya bukan dimulai dari daftar larangan, melainkan dari cara pandang. Orang tua masa kini perlu melihat pengasuhan sebagai proses membangun relasi yang hangat, aman, dan adaptif. Anak tetap membutuhkan batas, tetapi batas itu akan jauh lebih efektif bila dibangun di atas kedekatan, dialog, dan keteladanan. Di tengah perubahan sosial dan digital yang cepat, orang tua tidak dituntut menjadi sempurna. Yang jauh lebih penting adalah menjadi hadir, mau belajar, dan tidak berhenti menyesuaikan diri demi tumbuh kembang anak yang lebih sehat (Livingstone & Blum-Ross, 2020; Relva et al., 2024; Tan et al., 2024).
Daftar Pustaka
Baumrind, D. (1967). Child care practices anteceding three patterns of preschool behavior. Genetic Psychology Monographs, 75(1), 43–88.
Goagoses, N., Bolz, T., Eilts, J., Schipper, N., Schütz, J., Rademacher, A., Vesterling, C., & Koglin, U. (2023). Parenting dimensions/styles and emotion dysregulation in childhood and adolescence: A systematic review and meta-analysis. Current Psychology, 42, 18798–18822.
Huang, S., Lai, X., Li, Y., Wang, W., Zhao, X., Dai, X., Wang, H., & Wang, Y. (2023). Does parental media mediation make a difference for adolescents? Evidence from an empirical cohort study of parent-adolescent dyads. Heliyon, 9(4), e14897.
Livingstone, S., & Blum-Ross, A. (2020). Parenting for a digital future: How hopes and fears about technology shape children’s lives. Oxford University Press.
Maccoby, E. E., & Martin, J. A. (1983). Socialization in the context of the family: Parent-child interaction. In P. H. Mussen & E. M. Hetherington (Eds.), Handbook of child psychology (Vol. 4, pp. 1–101). Wiley.
Pekşen Akça, R., Çevik, G. B., & colleagues. (2024). The parent-child relationship in the digital era: The mediator role of digital parenting. Children and Youth Services Review.
Relva, I. C., Simões, M., Costa, M., Pacheco, A., & Galuzzo, M. (2024). Parenting styles and development. In The Palgrave Handbook of Global Social Problems (pp. 1–21). Springer
