Pengaruh Rendahnya Optimisme terhadap Stres yang Berkepanjangan

Pernahkah kalian merasa tidak mampu melakukan apa pun dalam menjalani kehidupan sehari-hari? Bahkan ketika sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk mencapai sesuatu, kita tetap merasa bahwa keinginan dan cita-cita tersebut tidak mungkin terwujud. Perasaan seperti ini dikenal sebagai sikap pesimis, yang sering dianggap sebagai kebalikan dari sikap optimis. Pesimisme berkaitan erat dengan rendahnya rasa optimis. Artinya, ketika seseorang memiliki tingkat optimisme yang rendah, ia cenderung lebih mudah berpikir pesimis. Sikap pesimis ini dapat memberikan dampak negatif bagi diri sendiri, salah satunya adalah meningkatnya tingkat stres.

Berdasarkan beberapa buku dan hasil penelitian, terdapat sebuah buku berjudul Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia karya Dr. Sugiarti, M.Kes. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa pandangan hidup yang optimis berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah, kualitas hidup yang lebih baik, kondisi kesehatan yang lebih positif, serta tekanan darah yang lebih stabil dibandingkan dengan individu yang memiliki pandangan hidup pesimistis (Sugiarti, 2019: 5).

Lalu, sejauh mana rendahnya optimisme dapat memengaruhi meningkatnya stres?

Sebenarnya, sudah banyak penelitian yang adanya hubungan antara optimisme dan stres. Beberapa penelitian seperti Aspinwall & Taylor (1992), Scheier & Carver (1992), serta Taylor, Kemeny, & Fahey (1998) menjadi dasar dalam penulisan buku Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia karya Dr. Sugiarti, M.Kes. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa individu yang optimis cenderung lebih jarang mengalami gangguan suasana hati atau perubahan mood yang berlebihan ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan, termasuk saat harus beradaptasi dengan kehidupan di perguruan tinggi.

Karena penulis buku tersebut, yaitu Dra. Sugiarti, M.Kes., merupakan seorang psikolog klinis sekaligus dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, pembahasan dalam penelitiannya banyak berkaitan dengan kehidupan mahasiswa. Menurut beliau, mahasiswa secara alami memiliki tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup baru sebagai seorang mahasiswa. Proses adaptasi ini dapat berjalan lebih baik apabila mahasiswa memiliki tingkat optimisme yang tinggi. Dengan optimisme tersebut, mahasiswa akan lebih mampu menghadapi berbagai tantangan dan tidak mudah mengalami stres.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi rasa optimis seseorang, semakin mudah pula ia menjalani kehidupan sehari-hari. Orang yang optimis cenderung tidak mudah menyerah atau tertekan ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, seseorang yang pesimis atau memiliki tingkat optimisme rendah akan lebih mudah merasa kesulitan dalam menjalani kehidupan. Ketika menghadapi masalah atau tantangan, ia juga lebih berisiko mengalami stres.

Selain itu, penelitian Srivastava & Angelo (2009, dalam Sugiarti, 2019: 36) menjelaskan bahwa rendahnya optimisme dapat menimbulkan berbagai gejala psikologis yang mengganggu, seperti gejala neurotis, kecemasan, serta perasaan inferior atau tidak berdaya. Jadi, ketika seseorang merasa tidak mampu melakukan apa pun dan merasa sangat lemah dalam menghadapi hidup, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa ia sedang mengalami pesimisme atau memiliki tingkat optimisme yang rendah.

Jika sikap pesimis sudah terlalu kuat, dampaknya bisa menjadi lebih serius. Seseorang dapat kesulitan melihat hal-hal positif di sekitarnya, termasuk ketika orang lain berusaha mendekati, membantu, atau memberikan dukungan. Dukungan sosial yang seharusnya diterima sebagai bentuk kepedulian justru 

dapat disalahartikan sebagai sesuatu yang negatif, seperti ancaman, sindiran, hinaan, atau bentuk penilaian buruk lainnya.

Apabila seseorang sudah memiliki pandangan negatif terhadap dukungan sosial, ia bisa saja mengabaikan bahkan menolak kepedulian dari orang-orang di sekitarnya. Padahal, akar permasalahannya berasal dari rendahnya rasa optimis dalam diri. Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan dengan orang lain yang sebenarnya peduli.

Dengan demikian, rendahnya rasa optimis atau kebiasaan berpikir pesimis dalam menjalani kehidupan dapat memberikan dampak buruk bagi diri sendiri. Sikap tersebut bukan hanya membuat seseorang lebih mudah mengalami stres, tetapi juga dapat memengaruhi cara pandangnya terhadap bantuan dan dukungan dari orang lain. Semakin rendah rasa optimis seseorang, semakin besar pula kemungkinan ia mengabaikan dirinya sendiri dan orang-orang yang peduli kepadanya.

REFERENSI

Sugiarti, Dr., M.Kes. (2019). Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia. Depok: Rajawali Press.

Artikel Menarik Lainnya

Perusahaan bisa membeli mesin baru, memperbarui sistem, dan membuat target kerja yang semakin...

Komunikasi adalah suatu proses ketika seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan...

Pernahkah kamu merasa kurang perhatian? Pernahkah kamu melakukan sesuatu secara sengaja untuk...

Pernahkah kalian setelah melewati beberapa proses seperti seleksi masuk perguruan tinggi, seleksi...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415