Pernahkah kalian setelah melewati beberapa proses seperti seleksi masuk perguruan tinggi, seleksi masuk kerja, atau melakukan hal lainnya kemudian mengatakan pada diri sendiri "Saya yakin pasti lolos"; "semoga hasilnya baik"; dan kalimat senada lainnya dengan hal itu? Kalimat-kalimat tersebut sering kita pahami sebagai bentuk dari rasa optimis ketika menghadapi suatu kondisi atau kesulitan. Namun, apakah pemahaman kita tentang optimis sudah tepat dan bisa menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari?

Definisi Optimisme
Penelitian yang dilakukan oleh Scheier dan Carver (1985, dalam Sugiarti, 2019: 55) menghasilkan definisi mengenai optimisme yang dipandang sebagai ekspektasi atau pengharapan yang bersifat umum (generalized outcome expectancies) pada seorang individu, yang berarti bahwa hal-hal baik akan terjadi dan hal-hal buruk hampir minim akan terjadi di masa datang.
Berbagai penelitian dari beberapa sumber yang dikumpulkan oleh Dra. Sugiarti, M.Kes., tercatat di dalam bukunya yang berjudul “Optimisme: Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia”. Dalam buku tersebut menjelaskan bahwa terdapat garis besar untuk memahami optimisme, yang tidak hanya berhenti dalam satu definisi saja, yaitu ekspektasi yang berhubungan dengan pengharapan untuk mewujudkan keinginan (desired goals) yang mana pengharapan tersebut dibentuk oleh pandangan terhadap diri sendiri sebagai sosok yang bernilai dan mempengaruhi keragunan ataupun kepercayaan diri dalam meraih keinginan tersebut. Selain itu, dalam proses-proses hidup seorang individu yang memiliki penilaian positif terhadap diri sendiri cenderung memiliki explanatory style yang positif. Explanatory style adalah cara seseorang dalam menjelaskan peristiwa-peristiwa di hidup mereka yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan remaja terlepas dari apakah itu peristiwa yang buruk atau baik.
Jadi ada hubungan erat antara explanatory style, pandangan terhadap diri sendiri, dan ekspekstasi yang kemudian membentuk optimisme pada diri seseorang. Jika seorang individu memiliki cara pandang yang positif terhadap diri sendiri akan membentuk explanatory style yang positif ketika seseorang tersebut memahami perjalanan hidupnya beserta peristiwa-peristiwa yang dilaluinya; dari situ mulai muncul pemikiran bahwa hidupnya merupakan sebuah anugerah dengan proses yang selalu dapat diperjuangkan atau justru memahami proses hidupnya sebagai nasib yang tidak bisa diubah. Dengan explanatory style yang positif maka ekspekstasi seseorang tersebut juga akan positif sehingga daya dorong untuk mewujudkan keinginan (desired goals) dapat dilalui dengan rasa penuh optimisme.
Oleh sebab itu, diperlukan pengetahuan yang mendalam terlebih dahulu mengenai factor-faktor yang mempengaruhi rasa optimisme tersebut.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Optimisme
Sugiarti (2019: 56-61) dalam bukunya “Optimisme: Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia” telah mengumpulkan beberapa faktor yang mempengaruhi optimisme pada diri seseorang, antara lain:
1. Pengalaman
2. Genetik
3. Status Sosial Ekonomi
4. Ras atau Budaya
5. Sumber Daya Sosial
6. Orang tua dan Pola Pengasuhan
7. Self-Esteem
8. Self-Efficacy
9. Tempramen
10. Media
11. Dukungan Sosial
12. Jenis Kelamin
13. Usia
Jika dihubungkan dengan definisi optimisme sebelumnya, terdapat faktor-faktor yang masih berada di dalam kendali kita, yaitu self-esteem dan self-efficacy. Self-esteem berhubungan dengan pandangan terhadap diri sendiri sebagai sosok yang berharga, sedangkan self-efficacy berhubungan dengan keyakinan pada kemampuan diri sendiri dalam meraih sebuah keinginan (desired goals). Dengan terus-menerus menumbuhkan self-esteem yang tinggi dan self-efficacy yang positif, maka benih-benih optimisme pasti akan tumbuh subur sehingga mendorong seorang individu menjadi lebih yakin bahwa ekspektasinya untuk meraih keinginan (desired goals) tidak rendah dan tidak berlebihan. Dengan begitu, semakin sering seseorang individu tersebut berhasil mewujudkan keinginannya (desired goals) dalam hidupnya, maka terbentuklah explanatory style yang positif terhadap berbagai pengalaman hidupnya.
Cara Menumbuhkan Optimisme Diri
Proses untuk menumbuhkan rasa optimisme tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan waktu dalam prosesnya, sehingga tidak ada harapan bagi mereka yang cenderung mengejar hal instan.
Berdasarkan definisi yang sudah ada, rasa optimisme muncul ketika seseorang memiliki pandangan terhadap dirinya sendiri sebagai sosok yang berharga dan layak mendapatkan hal-hal baik dalam kehidupan. Pandangan yang positif terhadap diri sendiri memiliki pengaruh terhadap tingkat tingginya self-esteem seseorang dan menjadi bahan untuk terus belajar sampai pada akhirnya self-efficacy dalam diri seseorang ketika yakin pada kemampuan diri meraih keinginan (desired goals). Kemudian, peristiwa-peristiwa yang telah dilewati akan dipahami sebagai sesuatu yang positif juga.
Jadi, langkah nyata dalam menumbuhkan optimisme diri sendiri adalah yakin dulu terhadap diri sendiri sebagai sosok yang berharga dan layak untuk mendapatkan hal-hal baik dalam kehidupan sehari-hari. Maka, eskpekstasi dan explanatory style yang positif dan meyakinkan akan tumbuh di dalam diri sendiri.
Daftar Referensi
Sugiarti., Dra., M.Kes. (2019). Optimisme Kajian Riset Perspektif Psikologi Indonesia. Depok: Rajawali Press.
