- Artikel
- Hits: 42
Alarm Kesehatan Mental Anak: Skrining CKG Ungkap Banyak Anak Mengalami Gejala Cemas dan Depresi
Program Cek Kesehatan Gratis atau CKG yang berjalan sepanjang periode 2025–2026 menemukan bahwa masalah kesehatan jiwa pada anak di Indonesia perlu mendapat perhatian serius. Dari sekitar 7 juta anak yang sudah mengikuti skrining, hampir 10 persen terindikasi mengalami gangguan mental emosional, terutama gejala kecemasan dan depresi.

Temuan ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta. Dalam penjelasannya, ia menyebutkan bahwa jumlah anak yang menunjukkan tanda-tanda gangguan kecemasan mencapai sekitar 4,4 persen atau setara dengan 338 ribu anak. Sementara itu, gejala depresi ditemukan pada sekitar 4,8 persen anak, atau sekitar 363 ribu anak. Menurut Budi, angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan jiwa anak bukan masalah kecil, melainkan isu besar yang harus segera ditangani.
Kondisi ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena masalah kesehatan mental pada anak dapat berdampak sangat serius, bahkan sampai memicu tindakan bunuh diri. Berdasarkan data Global School-Based Student Health Survey, jumlah anak yang pernah mencoba bunuh diri terus meningkat. Pada 2015 angkanya tercatat 3,9 persen, sedangkan pada 2023 naik tajam menjadi 10,7 persen.
Pemerintah menilai bahwa masalah kesehatan jiwa anak tidak hanya muncul dari faktor pribadi anak itu sendiri. Lingkungan keluarga, pergaulan, serta situasi di sekolah juga ikut memengaruhi kondisi mental mereka. Karena itu, menurut Menteri Kesehatan, pendekatan penanganannya tidak bisa hanya berfokus pada anak, tetapi juga harus menyentuh pola asuh di rumah dan suasana belajar di sekolah. Ia juga menekankan pentingnya pengenalan keterampilan hidup atau life skill, serta Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP), agar anak-anak dan orang-orang di sekitarnya lebih siap menghadapi tekanan hidup secara sehat.
Sebagai tindak lanjut dari hasil skrining tersebut, Kementerian Kesehatan berencana memperluas jangkauan CKG hingga bisa menjangkau 25 juta anak. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa hasil skrining anak-anak nantinya akan ditindaklanjuti oleh Puskesmas agar mereka yang terdeteksi memiliki gejala bisa segera memperoleh pendampingan atau penanganan yang diperlukan.
Namun, upaya ini masih menghadapi tantangan, salah satunya keterbatasan tenaga psikolog klinis di Puskesmas. Saat ini jumlahnya baru sekitar 203 orang di seluruh Indonesia. Karena itu, pemerintah sedang mempercepat pemenuhan tenaga profesional tersebut agar layanan kesehatan jiwa bisa lebih mudah diakses masyarakat. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan layanan krisis kesehatan jiwa melalui Healing119.id sebagai bentuk dukungan cepat bagi mereka yang membutuhkan bantuan.
Di lingkungan pendidikan, Kementerian Kesehatan juga mendorong peran aktif guru Bimbingan Konseling dan guru kelas. Mereka diharapkan dapat ikut memantau, mendampingi, dan membantu siswa yang menunjukkan tanda-tanda gangguan mental, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih awal.
Langkah deteksi dini ini diperkuat lagi melalui penandatanganan Surat Keputusan Bersama tentang Kesehatan Jiwa Anak yang melibatkan sembilan kementerian dan lembaga. Kesepakatan tersebut dibuat untuk membangun sistem penanganan kesehatan jiwa anak yang lebih terpadu, mulai dari pencegahan, edukasi, pendampingan, hingga pengobatan dan rehabilitasi.
Adapun instansi yang terlibat dalam kerja sama ini meliputi Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, serta Kepolisian Republik Indonesia.
Melalui kebijakan bersama tersebut, pemerintah juga berupaya menjamin kerahasiaan data pribadi anak. Langkah ini penting untuk mencegah munculnya stigma terhadap anak yang mengalami masalah kesehatan mental. Dengan perlindungan yang lebih kuat, diharapkan setiap anak bisa memperoleh layanan kesehatan jiwa secara utuh dan aman, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah.
Secara keseluruhan, hasil skrining CKG menjadi peringatan penting bahwa persoalan kesehatan mental anak di Indonesia tidak boleh dianggap sepele. Temuan ratusan ribu anak dengan gejala cemas dan depresi menunjukkan perlunya kerja sama semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, hingga pemerintah, agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih sehat, aman, dan mendukung kondisi psikologis mereka.
