- Artikel
- Hits: 268
Sebelum Menikah, Baca Ini Sampai Tuntas: Memahami Solution-Focused Question untuk Mempersiapkan Pernikahan—dan Mengapa Konseling Pranikah dengan Psikolog Perlu Segera Dilakukan
Pernikahan bukan hanya soal kesiapan hari akad atau resepsi, tetapi kesiapan dua individu untuk hidup bersama dalam jangka panjang. Karena itu, persoalan pernikahan justru penting dibicarakan sejak fase pranikah. Pada tahap ini, pasangan idealnya tidak hanya mendiskusikan impian, tetapi juga belajar memahami pola komunikasi, cara mengambil keputusan, kesiapan emosional, harapan terhadap peran suami-istri, hingga cara menyelesaikan konflik. Di sinilah konseling pranikah dengan psikolog profesional menjadi relevan: bukan karena hubungan sudah bermasalah, melainkan agar pasangan memiliki bekal yang lebih matang sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Sejumlah riset menunjukkan bahwa program pendidikan dan pendampingan relasi sebelum menikah berkaitan dengan peningkatan keterampilan komunikasi dan kualitas hubungan pasangan, sehingga pendekatan preventif pada fase pranikah layak dipandang sebagai investasi psikologis, bukan sekadar formalitas (Hawkins et al., 2008; Javadivala et al., 2021).

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mempersiapkan pernikahan adalah Solution-Focused Question, yaitu rangkaian pertanyaan yang berasal dari pendekatan Solution-Focused Brief Therapy (SFBT) atau terapi singkat berfokus solusi. Pendekatan ini tidak berhenti pada pertanyaan tentang masalah, tetapi mengarahkan pasangan pada gambaran hubungan yang ingin dibangun, kekuatan yang sudah dimiliki, dan langkah kecil yang realistis untuk mencapainya. Dalam konteks konseling pranikah, pendekatan ini dinilai relevan karena membantu pasangan membangun visi bersama tentang pernikahan, bukan sekadar bereaksi terhadap kecemasan atau konflik yang muncul menjelang hari pernikahan (Murray & Murray, 2004; Trepper et al., 2010).
Karena itu, pertanyaan konselor seharusnya tidak berhenti pada, “Apakah saat ini kalian sedang mengalami masalah?”, tetapi bergerak ke pertanyaan yang lebih membangun, seperti, “Jika kalian dalam kondisi terbaik, seperti apakah interaksi dalam hubungan kalian?” (Sugiarti, 2024, hlm. 76). Arah pertanyaan seperti ini penting karena membantu pasangan keluar dari pola pikir yang semata-mata berfokus pada kekurangan. Pasangan diajak melihat kemungkinan terbaik dari hubungan mereka: seperti apa komunikasi yang sehat, suasana emosional yang aman, cara menyampaikan kebutuhan dengan jujur, dan bentuk kerja sama yang ingin mereka bangun setelah menikah. Secara teoretis, pertanyaan-pertanyaan dalam SFBT memang dirancang untuk menolong klien membangun deskripsi tentang masa depan yang diinginkan, lalu menemukan jalur menuju ke sana melalui kekuatan, keberhasilan kecil, dan pengalaman positif yang sudah mereka miliki (Trepper et al., 2010).
Menurut Sugiarti, metode Solution-Focused Question dapat dipecah ke dalam tiga bentuk pertanyaan, yaitu miracle question, scaling question, dan exception question (Sugiarti, 2024, hlm. 77). Tiga bentuk pertanyaan ini bukan hanya penting sebagai panduan bagi konselor, tetapi juga berguna bagi pembaca yang sedang menuju pernikahan karena membantu mereka memahami apa yang sebenarnya perlu dibicarakan secara serius sebelum menikah.
Pertama, miracle question. Sugiarti menjelaskan bahwa miracle question adalah pertanyaan yang berhubungan dengan pengalaman klien jika ada sebuah keajaiban yang terjadi dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi (Sugiarti, 2024, hlm. 77). Dalam praktiknya, pertanyaan ini berfungsi untuk memancing visi optimal dari masing-masing pasangan: seperti apa hubungan yang mereka anggap sehat, hangat, aman, dan memuaskan. Contoh yang kredibel dan senada untuk konteks pranikah dapat dirumuskan seperti ini: “Bayangkan malam ini terjadi suatu keajaiban, lalu semua keraguan dan ketegangan kalian tentang pernikahan terselesaikan. Besok pagi, hal kecil apa yang pertama kali membuat kalian sadar bahwa hubungan kalian benar-benar lebih siap untuk menikah?” Contoh semacam ini sejalan dengan logika SFBT yang menolong klien memvisualisasikan preferred future atau masa depan yang diinginkan secara konkret, sehingga tujuan konseling menjadi lebih jelas dan tidak berhenti pada keluhan semata (Murray & Murray, 2004; Yu, 2018a).
Kedua, scaling question. Sugiarti menjelaskan bahwa scaling question digunakan untuk mengidentifikasi posisi masing-masing pasangan dalam mencapai tujuan atau visi optimal selama menjalani konseling pranikah (Sugiarti, 2024, hlm. 77). Contoh yang diberikan Sugiarti, seperti “Dalam skala satu sampai sepuluh, seberapa percaya dirikah kamu akan kepuasan pernikahan yang akan kamu rasakan kelak?” atau “Dari skala satu sampai sepuluh, seberapa nyaman kamu menyatakan perasaanmu pada pasanganmu?”, sangat penting karena membantu konselor membaca kebutuhan unik setiap pasangan. Melalui skala, sesuatu yang abstrak—misalnya rasa aman, keyakinan, keterbukaan, atau kesiapan menikah—menjadi lebih konkret dan lebih mudah dibicarakan. Dalam kerangka SFBT, penggunaan skala juga berguna untuk memantau kemajuan, melihat apa yang sudah berjalan baik, dan menuntun pasangan pada langkah kecil berikutnya yang realistis, misalnya bergerak dari angka 5 ke angka 6, bukan menuntut perubahan besar sekaligus (Sugiarti, 2024, hlm. 77; Trepper et al., 2010; Yu, 2018b).
Ketiga, exception question. Sugiarti menuliskan bahwa exception question adalah jenis pertanyaan yang dapat digunakan oleh konselor untuk membantu pasangan mengidentifikasi waktu-waktu ketika masalah yang mereka hadapi sedang tidak terjadi (Sugiarti, 2024, hlm. 77). Dengan kata lain, pertanyaan ini mengajak pasangan melihat momen ketika kecemasan tidak terlalu dominan, komunikasi berjalan lebih baik, atau hubungan terasa lebih hangat dan memuaskan. Contoh yang sangat tepat ialah: “Dapatkah kamu ceritakan pada saya ketika kamu merasa tidak cemas terhadap langkahmu untuk menikah dengan tunanganmu?” (Sugiarti, 2024, hlm. 77). Pertanyaan seperti ini penting karena pasangan tidak hanya diminta membicarakan apa yang salah, tetapi juga diminta mengenali kapan sesuatu sebenarnya berjalan lebih baik, bagaimana itu bisa terjadi, dan apa yang telah mereka lakukan sehingga momen positif itu muncul. Dalam literatur SFBT, exception question dipahami sebagai cara untuk menemukan keberhasilan sebelumnya, menguatkan kompetensi klien, dan membuka jalan praktis menuju tujuan yang ingin dicapai (Yu, 2018c).
Elaborasi tersebut didukung oleh sumber lain yang sependapat sekaligus oleh temuan empiris. Manual SFBT menjelaskan bahwa masalah tidak terjadi setiap saat; selalu ada exceptions atau pengecualian, yaitu saat-saat ketika masalah sebenarnya bisa muncul tetapi ternyata tidak muncul, dan momen itulah yang dapat dipakai klien bersama terapis untuk membangun solusi (Trepper et al., 2010). Temuan proses juga menunjukkan bahwa teknik-teknik yang berorientasi pada kekuatan klien merupakan komponen yang paling konsisten didukung secara empiris dalam SFBT (Franklin et al., 2017). Pada level hasil intervensi, meta-analisis mutakhir melaporkan bahwa SFBT memiliki efek besar pada berbagai luaran psikososial, dan salah satu dampak terbesarnya tampak pada fungsi perkawinan serta kesejahteraan. Bahkan, tinjauan sistematis khusus pada intervensi pasangan di Iran melaporkan bahwa SFBT menunjukkan efek sedang hingga besar terhadap penyesuaian dyadik, kepuasan pernikahan, dan keintiman, walaupun penulis juga mengingatkan perlunya kehati-hatian karena adanya bias dalam sebagian studi (Franklin et al., 2017; Vermeulen-Oskam et al., 2024; Naseh et al., 2025). Itu berarti, ketika konselor mengajukan exception question, ia bukan sekadar mengajak pasangan mengenang saat-saat indah, melainkan sedang membantu mereka menemukan pola keberhasilan yang bisa diperluas menjadi strategi nyata dalam hubungan.
Pada akhirnya, kekuatan Solution-Focused Question dalam konseling pranikah terletak pada kemampuannya mengubah arah percakapan: dari sekadar membahas masalah menjadi menyusun masa depan yang ingin diwujudkan bersama. Bagi konselor, tiga bentuk pertanyaan ini memberikan kerangka kerja yang terarah. Bagi pembaca yang sedang menuju pernikahan, tiga bentuk pertanyaan ini bisa menjadi bahan refleksi awal untuk menilai kesiapan relasi secara lebih jujur dan lebih matang. Namun, refleksi mandiri tetap memiliki batas. Karena itu, agar pembicaraan tentang komunikasi, ekspektasi, peran, nilai hidup, keuangan, relasi dengan keluarga besar, dan penyelesaian konflik dapat dibahas dengan aman dan terstruktur, langkah paling praktis adalah menjadwalkan konseling pranikah dengan psikolog, datang bersama pasangan, membawa isu-isu yang benar-benar ingin dipersiapkan, dan menjadikan sesi tersebut sebagai bekal nyata sebelum memasuki pernikahan.
Daftar Pustaka
Franklin, C., Zhang, A., Froerer, A., & Johnson, S. (2017). Solution-focused brief therapy: A systematic review and meta-summary of process research. Journal of Marital and Family Therapy, 43(1), 16–30. https://doi.org/10.1111/jmft.12193
Hawkins, A. J., Blanchard, V. L., Baldwin, S. A., & Fawcett, E. B. (2008). Does marriage and relationship education work? A meta-analytic study. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 76(5), 723–734. https://doi.org/10.1037/a0012584
Javadivala, Z., Allahverdipour, H., Asghari Jafarabadi, M., Azimi, S., Gilani, N., & Chattu, V. K. (2021). Improved couple satisfaction and communication with marriage and relationship programs: Are there gender differences? A systematic review and meta-analysis. Systematic Reviews, 10, 178. https://doi.org/10.1186/s13643-021-01719-0
Murray, C. E., & Murray, T. L. (2004). Solution-focused premarital counseling: Helping couples build a vision for their marriage. Journal of Marital and Family Therapy, 30(3), 349–358. https://doi.org/10.1111/j.1752-0606.2004.tb01245.x
Naseh, M., Badiezadeh, S., Rafieifar, M., Taridashti, S., Reddy, S. M., & Panisch, L. S. (2025). Solution-Focused Brief Therapy for improving couple dyadic relationships in Iran: A systematic review. Journal of Marital and Family Therapy, 51(1), e12758. https://doi.org/10.1111/jmft.12758
Sugiarti. (2024). Konseling: Konsep dan praktik. Rajagrafindo Persada.
Trepper, T. S., McCollum, E. E., De Jong, P., Korman, H., Gingerich, W., & Franklin, C. (2010). Solution-focused brief therapy treatment manual for working with individuals. Research Committee of the Solution Focused Brief Therapy Association.
Vermeulen-Oskam, E., Franklin, C., van ’t Hof, L. P. M., Stams, G. J. J. M., van Vugt, E. S., Assink, M., Veltman, E. J., Froerer, A. S., Staaks, J. P. C., & Zhang, A. (2024). The current evidence of Solution-Focused Brief Therapy: A meta-analysis of psychosocial outcomes and moderating factors. Clinical Psychology Review, 114, 102512. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2024.102512
Yu, F. (2018a). Miracle question in couple and family therapy. In J. Lebow, A. Chambers, & D. Breunlin (Eds.), Encyclopedia of Couple and Family Therapy. Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-319-15877-8_1072-1
Yu, F. (2018b). Scaling questions in couple and family therapy. In J. Lebow, A. Chambers, & D. Breunlin (Eds.), Encyclopedia of Couple and Family Therapy. Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-319-15877-8_1065-1
Yu, F. (2018c). Exception question in couple and family therapy. In J. Lebow, A. Chambers, & D. Breunlin (Eds.), Encyclopedia of Couple and Family Therapy. Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-319-15877-8_1071-1
