Masalah Akibat Kurang Optimis (Pesimis) pada Mahasiswa

Optimisme merupakan salah satu aspek psikologis yang berperan penting dalam menunjang keberhasilan mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademik. Sebaliknya, sikap pesimis atau kurang optimis dapat menimbulkan berbagai permasalahan, baik dalam proses belajar maupun dalam pencapaian prestasi. Mahasiswa yang memiliki pandangan negatif terhadap kemampuan dirinya cenderung lebih mudah merasa takut gagal, mengalami kecemasan, dan kehilangan keyakinan untuk menghadapi berbagai tuntutan akademik. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi perilaku serta hasil belajar yang diperoleh.
Salah satu dampak dari kurangnya optimisme adalah meningkatnya kecenderungan melakukan kecurangan akademik, seperti menyontek. Penelitian yang dilakukan oleh Newstead, Franklyn-Stokes, dan Armstead terhadap 943 mahasiswa menunjukkan bahwa salah satu alasan utama mahasiswa melakukan tindakan menyontek adalah karena takut mengalami kegagalan (Newstead, Franklyn-Stokes, & Armstead, 1996). Temuan tersebut didukung oleh penelitian Michaels dan Miethe (1989), Calabrese dan Cochran (1990), serta Anderman dan Murdock (2007) yang menyatakan bahwa kecemasan terhadap kegagalan merupakan salah satu faktor yang mendorong seseorang melakukan tindakan menyontek. Kecemasan yang berlebihan menyebabkan individu tidak mampu mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya sehingga memilih jalan pintas untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Selain itu, strategi menghadapi masalah (coping strategy) yang kurang tepat dan tingkat kecemasan yang tinggi juga secara konsisten berkaitan dengan perilaku menyontek (Feller, 2009).
Kurangnya optimisme tidak hanya berdampak pada perilaku akademik, tetapi juga memengaruhi prestasi belajar mahasiswa. Feller (2009) menemukan adanya hubungan yang signifikan antara harapan (hope) dengan perilaku menyontek. Individu yang memiliki harapan dan optimisme yang lebih baik cenderung lebih jarang terlibat dalam tindakan tersebut. Dalam bidang akademik, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki harapan yang tinggi umumnya mampu menunjukkan performa akademik yang lebih baik, memperoleh skor yang lebih tinggi, memiliki tingkat drop-out yang lebih rendah, serta tingkat kelulusan yang lebih tinggi (Snyder et al., 1997; Snyder et al., 2002). Meskipun demikian, hasil wawancara peneliti menunjukkan bahwa optimisme dan keyakinan terhadap kemampuan diri belum tentu selalu menghasilkan performa yang baik karena terdapat berbagai faktor lain yang turut memengaruhi keberhasilan seseorang.
Optimisme pada dasarnya berkaitan erat dengan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mencapai tujuan. Semakin positif seseorang memandang masa depannya, semakin besar pula dorongan untuk terus berusaha meskipun menghadapi berbagai hambatan. Sebaliknya, individu yang pesimis cenderung dipenuhi keraguan sehingga lebih mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Carver dan Scheier (2005) menjelaskan bahwa optimisme dan pesimisme tidak dapat dipisahkan dari ekspektasi individu terhadap masa depannya. Melalui expectancy-value model of motivations, dijelaskan bahwa perilaku manusia diarahkan pada pencapaian tujuan (goal). Ekspektasi berupa keyakinan atau keraguan terhadap keberhasilan mencapai tujuan akan menentukan seberapa besar usaha yang dilakukan individu. Seseorang yang memiliki keyakinan kuat akan tetap berusaha menghadapi berbagai rintangan, sedangkan individu yang dipenuhi keraguan akan mengalami hambatan dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan (Carver & Scheier, 2005).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurangnya optimisme atau sikap pesimis memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan akademik mahasiswa. Sikap pesimis meningkatkan rasa takut gagal, memicu kecemasan, serta mendorong munculnya perilaku tidak jujur seperti menyontek. Sebaliknya, optimisme membantu mahasiswa memiliki harapan yang lebih baik, mempertahankan usaha dalam menghadapi tantangan, meningkatkan prestasi akademik, serta memperbesar peluang untuk mencapai keberhasilan. Oleh karena itu, membangun optimisme dan keyakinan terhadap kemampuan diri menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung keberhasilan mahasiswa selama menempuh pendidikan.
