Mengenal Pola Asuh Anak: Permissive, Authoritative, Authoritarian, dan Uninvolved

Setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh baik, mandiri, dan bahagia. Namun dalam praktik sehari-hari, cara orang tua mendidik anak bisa sangat berbeda. Ada yang hangat tetapi longgar, ada yang tegas tetapi tetap mendengar, ada yang sangat ketat, dan ada juga yang cenderung minim keterlibatan. Dalam psikologi perkembangan, perbedaan cara ini dikenal sebagai pola asuh atau parenting styles. Konsep ini mula-mula dipopulerkan oleh Diana Baumrind melalui tiga pola utama, lalu dikembangkan oleh Eleanor Maccoby dan John Martin menjadi empat pola yang sekarang paling sering dipakai: authoritative, authoritarian, permissive, dan uninvolved. Kerangka ini biasanya dipahami lewat dua dimensi besar, yaitu kehangatan/responsivitas dan tuntutan/kontrol.

Penting untuk diingat, pola asuh bukan label kaku yang menempel selamanya pada seorang ayah atau ibu. Banyak orang tua bisa bergeser gaya tergantung situasi, usia anak, tekanan hidup, atau konteks tertentu. Jadi, pembahasan tentang pola asuh sebaiknya tidak dipakai untuk menghakimi, melainkan untuk membantu orang tua mengenali kecenderungan mereka sendiri dan memahami dampaknya bagi perkembangan anak. Dalam sumber pengasuhan praktis maupun kajian ilmiah, yang paling penting bukan mencari label sempurna, tetapi membangun hubungan yang hangat, konsisten, dan aman bagi anak.

1. Authoritative: hangat, tegas, dan memberi ruang dialog

Pola asuh authoritative sering dianggap sebagai bentuk pengasuhan yang paling seimbang. Orang tua dengan gaya ini tetap punya aturan, harapan, dan batas yang jelas, tetapi cara menyampaikannya hangat, terbuka, dan disertai alasan. Anak tidak dibiarkan bebas tanpa arah, tetapi juga tidak ditekan tanpa penjelasan. Dalam deskripsi APA, gaya ini menekankan kasih sayang, dukungan, dan batas yang konsisten. Secara sederhana, orang tua authoritative bukan hanya berkata “tidak boleh,” tetapi juga membantu anak memahami “mengapa.”

Dari sisi perkembangan anak, gaya authoritative dalam banyak penelitian cenderung berkaitan dengan hasil yang lebih positif. Meta-analisis Pinquart menunjukkan bahwa authoritative parenting berhubungan dengan tingkat masalah eksternalisasi yang lebih rendah, seperti perilaku agresif atau melanggar aturan. Meta-analisis Pinquart dan Kauser juga menemukan bahwa gaya authoritative secara umum berkaitan dengan hasil akademik yang lebih baik dan lebih sedikit masalah perilaku, walaupun kekuatan hubungannya dapat berbeda antarbudaya. Penelitian Vasiou dan rekan-rekan juga menemukan bahwa profil highly authoritative adalah yang paling sedikit terkait dengan masalah internalisasi maupun eksternalisasi pada anak.

Kalau diterjemahkan ke kehidupan sehari-hari, anak yang tumbuh dengan pola authoritative sering lebih terbantu untuk belajar tanggung jawab, percaya diri, dan regulasi emosi. Itu bukan berarti semua anak dari rumah authoritative pasti akan baik-baik saja, tetapi secara umum gaya ini memberi kombinasi yang sehat antara rasa aman dan struktur. Meta-analisis Tehrani, Yamini, dan Vazsonyi bahkan menunjukkan bahwa authoritative parenting pada remaja berhubungan positif dengan keterbukaan, kehati-hatian, ekstraversi, dan keramahan, serta berhubungan negatif dengan neurotisisme.

2. Authoritarian: sangat tegas, tetapi minim kehangatan

Berbeda dari authoritative, pola asuh authoritarian menekankan kepatuhan, disiplin keras, dan kontrol yang tinggi, tetapi biasanya dengan kehangatan yang lebih rendah. Pada gaya ini, orang tua lebih sering menuntut anak mengikuti aturan tanpa banyak ruang bertanya atau berdiskusi. Dalam penjelasan praktis yang sejalan dengan literatur klasik, gaya ini cenderung berfokus pada “orang tua yang menentukan, anak yang mengikuti.”

Masalahnya, ketika kontrol tinggi tidak diimbangi dukungan emosional yang cukup, anak bisa tumbuh patuh di permukaan tetapi kurang nyaman untuk terbuka, bereksplorasi, atau menyampaikan pendapat. Dalam meta-analisis Pinquart, authoritarian parenting berkaitan dengan tingkat masalah perilaku dan masalah emosional yang lebih tinggi. Pinquart dan Kauser juga menemukan bahwa gaya authoritarian secara umum berhubungan dengan pencapaian akademik yang lebih rendah dan lebih banyak masalah perilaku, walau pengaruhnya bisa bervariasi menurut konteks budaya. Penelitian tentang kesejahteraan anak juga menunjukkan bahwa authoritative cenderung terkait dengan maladjustment yang lebih rendah, sedangkan authoritarian menunjukkan arah sebaliknya.

Ini tidak berarti aturan tegas itu buruk. Anak tetap membutuhkan batas yang jelas. Yang sering jadi masalah adalah saat ketegasan berubah menjadi kekakuan, hukuman menjadi alat utama, dan komunikasi dua arah nyaris tidak ada. Dalam kondisi seperti itu, anak bisa belajar taat karena takut, bukan karena benar-benar memahami nilai di balik aturan.

3. Permissive: hangat, tetapi terlalu longgar

Pola asuh permissive atau indulgent biasanya ditandai oleh kehangatan yang tinggi, tetapi kontrol dan batas yang rendah. Orang tua permissive cenderung sayang, dekat, dan tidak ingin anak merasa tertekan, tetapi sering ragu menegakkan aturan atau konsekuensi. Dalam penjelasan APA dan beberapa sumber pengasuhan umum yang konsisten dengan literatur, orang tua permissive sering lebih mirip teman daripada figur yang menetapkan batas.

Sekilas, pola ini bisa terasa menyenangkan karena anak diberi banyak kebebasan. Namun, kebebasan tanpa struktur yang cukup juga bisa menyulitkan anak belajar disiplin, menunda keinginan, dan menghadapi batas. Meta-analisis Pinquart menunjukkan bahwa permissive parenting berhubungan dengan masalah eksternalisasi yang lebih tinggi. Pinquart dan Kauser juga menemukan bahwa permissive parenting secara umum terkait dengan hasil akademik yang lebih rendah dan lebih banyak masalah perilaku. Dalam kajian yang lebih baru, gaya ini juga tidak sekuat authoritative dalam mendukung hasil sosio-emosional yang sehat.

Artinya, kasih sayang saja belum cukup. Anak juga perlu belajar bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi, bahwa ada aturan yang konsisten, dan bahwa tanggung jawab adalah bagian dari tumbuh dewasa. Pola permissive mengingatkan kita bahwa kehangatan memang penting, tetapi kehangatan paling efektif ketika berjalan bersama batas yang jelas.

4. Uninvolved: minim kehangatan, minim arahan

Pola asuh uninvolved atau neglectful adalah gaya dengan tingkat kehangatan rendah sekaligus tuntutan yang juga rendah. Orang tua pada pola ini cenderung kurang hadir secara emosional, kurang memantau, dan kurang terlibat dalam kebutuhan perkembangan anak. Dalam sejarah teorinya, kategori ini ditambahkan setelah Baumrind oleh Maccoby dan Martin, dan kini menjadi salah satu pola utama dalam pembahasan parenting styles. APA juga menggambarkan uninvolved parenting sebagai gaya dengan sedikit keterlibatan, sedikit komunikasi, dan sedikit bimbingan.

Dari sisi dampak, gaya ini paling sering dikaitkan dengan risiko yang lebih berat. Meta-analisis Tehrani dan rekan-rekan menemukan bahwa neglectful parenting berhubungan negatif dengan kehati-hatian dan keramahan, serta positif dengan neurotisisme. Pinquart juga menunjukkan bahwa neglectful parenting berkaitan dengan lebih banyak masalah perilaku. Karena anak bukan hanya butuh makan dan sekolah, tetapi juga butuh rasa aman, perhatian, dan keterhubungan, minimnya keterlibatan orang tua bisa membuat anak merasa tidak dianggap, kurang terarah, atau harus belajar semuanya sendirian terlalu cepat.

Namun, dalam membaca pola uninvolved, penting juga untuk tidak buru-buru menyalahkan. Ada kalanya minimnya keterlibatan orang tua berkaitan dengan kelelahan kronis, tekanan ekonomi, masalah kesehatan mental, konflik keluarga, atau kurangnya dukungan sosial. Itu sebabnya pembahasan tentang pola asuh sebaiknya juga dihubungkan dengan kondisi nyata keluarga, bukan hanya pada penilaian moral.

Jadi, pola asuh mana yang paling mendukung perkembangan anak?

Kalau diringkas dari penelitian klasik dan meta-analisis yang lebih baru, gaya authoritative paling sering muncul sebagai pola yang paling mendukung perkembangan anak dalam banyak aspek, mulai dari penyesuaian perilaku, capaian akademik, hingga ciri kepribadian yang lebih adaptif. Sementara itu, pola authoritarian, permissive, dan uninvolved lebih sering berkaitan dengan berbagai risiko, meskipun besar kecilnya pengaruh dapat berbeda tergantung budaya, usia anak, dan konteks keluarga. Dengan kata lain, tidak ada pola asuh yang bekerja seperti rumus ajaib untuk semua anak, tetapi ada kecenderungan kuat bahwa kombinasi hangat + tegas + konsisten lebih membantu daripada keras tanpa empati, sayang tanpa batas, atau minim keterlibatan.

Pada akhirnya, memahami empat pola asuh ini bukan untuk membuat orang tua cemas, melainkan untuk memberi bahasa yang lebih jelas tentang apa yang sedang terjadi di rumah. Orang tua tidak harus sempurna. Yang jauh lebih penting adalah berani reflektif: apakah aturan di rumah sudah jelas? apakah anak merasa didengar? apakah kasih sayang hadir bersamaan dengan batas? dan apakah orang tua cukup hadir, bukan hanya secara fisik tetapi juga emosional? Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, perubahan kecil dalam pola asuh bisa mulai tumbuh.

Daftar Pustaka

American Psychological Association. (2017). Parenting styles.

Baumrind, D. (1967). Child care practices anteceding three patterns of preschool behavior. Genetic Psychology Monographs, 75(1), 43–88.

Maccoby, E. E., & Martin, J. A. (1983). Socialization in the context of the family: Parent-child interaction. In P. H. Mussen (Ed.), Handbook of child psychology (Vol. 4, pp. 1–101). Wiley.

Pinquart, M. (2017). Associations of parenting dimensions and styles with externalizing problems of children and adolescents: An updated meta-analysis. Developmental Psychology, 53(5), 873–932.

Pinquart, M., & Kauser, R. (2018). Do the associations of parenting styles with behavior problems and academic achievement vary by culture? Results from a meta-analysis. Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology, 24(1), 75–100.

Tehrani, H. D., Yamini, S., & Vazsonyi, A. T. (2024). Parenting styles and Big Five personality traits among adolescents: A meta-analysis. Personality and Individual Differences, 216, 112421.

Vasiou, A., Kassis, W., Krasanaki, A., Aksoy, D., Favre, C. A., & Tantaros, S. (2023). Exploring parenting styles patterns and children’s socio-emotional skills. Children, 10(7), 1126.

Artikel Menarik Lainnya

Masa milenial saat ini identik dengan banyak hal, salah satunya game online. Game online sudah...

- Keberhasilan, kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup pada dasarnya dapat ditentukan oleh...

Dalam dunia kerja baik di kantoran, pabrik atau perusahaan jasa, dll menjadi karyawan yang disukai...

Pernahkah kamu merasa kurang perhatian? Pernahkah kamu melakukan sesuatu secara sengaja untuk...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415