- Artikel
- Hits: 17
Peran Orang Tua di Era Gadget: Cara Mendampingi Anak agar Teknologi Menjadi Hal Positif
Di era gadget, persoalan utamanya bukan lagi apakah anak akan berhadapan dengan teknologi, melainkan bagaimana ia dibimbing saat tumbuh di tengah teknologi itu. Media digital sudah masuk ke ruang belajar, pertemanan, hiburan, bahkan cara anak membentuk identitas dirinya. Karena itu, peran orang tua tidak cukup berhenti pada memberi izin atau melarang. Yang jauh lebih menentukan adalah apakah orang tua hadir sebagai penuntun yang membantu anak membangun kebiasaan digital yang sehat, aman, dan sesuai tahap perkembangannya. Pendekatan terbaru American Academy of Pediatrics juga bergerak ke arah itu: bukan sekadar menghitung durasi layar, tetapi menata penggunaan media agar selaras dengan kebutuhan anak, rutinitas keluarga, dan tujuan pengasuhan (Moreno et al., 2024; World Health Organization, 2019).

Pijakan awalnya sederhana: penggunaan media di rumah selalu terkait dengan kualitas hidup keluarga secara keseluruhan. Moreno dan rekan-rekan menegaskan bahwa media keluarga berkaitan erat dengan stres keluarga, dukungan sosial, akses terhadap kegiatan lain, dan keterhubungan di rumah; pada satu waktu media bisa membantu fungsi keluarga, tetapi pada waktu lain juga bisa menjauhkan keluarga dari tujuan dan kedekatan yang mereka inginkan. Karena itu, rumah perlu punya budaya digital yang jelas. Bukan rumah yang membiarkan layar mengatur ritme hidup, melainkan rumah yang menentukan sendiri kapan media dipakai, untuk apa dipakai, dan kapan harus disimpan agar tidak mengambil alih tidur, belajar, gerak, ibadah, atau percakapan tatap muka (Moreno et al., 2024).
Itulah mengapa teladan orang tua jauh lebih kuat daripada nasihat panjang. Penelitian Toran, Kulaksız, dan Özden menunjukkan bahwa negative role modeling dan digital negligence berkaitan dengan hubungan orang tua–anak yang lebih lemah, sedangkan penggunaan teknologi yang efisien dan perlindungan dari risiko digital berkaitan dengan hubungan yang lebih positif. Temuan ini diperkuat oleh meta-analisis Zhang dkk. yang menemukan hubungan positif yang cukup kuat antara parental technoference—gangguan interaksi orang tua-anak karena orang tua sibuk dengan perangkat—dan problematic media use pada anak (r = 0,296). Jadi, ketika orang tua terus menatap layar saat anak bicara, saat makan bersama, atau saat waktu keluarga, masalahnya bukan hanya soal etika, tetapi juga soal kualitas keterikatan emosional dan pola media anak itu sendiri (Toran et al., 2024; Zhang et al., 2025).
Karena itu, mendampingi anak di era gadget tidak cukup dilakukan dengan model pengawasan yang hanya bernada larangan. Bukti terbaru justru menunjukkan bahwa cara orang tua mendampingi perlu lebih cermat. Meta-analisis Tan, Xu, Liang, dan Li terhadap 88 studi menemukan bahwa digital parenting secara umum berhubungan dengan lebih rendahnya negative digital wellbeing pada anak, dan bentuk yang paling terkait dengan positive digital wellbeing adalah positive mediation—yakni pendampingan yang berisi penjelasan, percakapan, dan arahan yang membantu anak memahami apa yang ia lakukan di ruang digital. Temuan itu juga menunjukkan tidak ada satu rumus yang cocok untuk semua keluarga. Artinya, orang tua perlu tegas, tetapi ketegasan itu harus diisi dialog, bukan hanya pembatasan satu arah (Tan et al., 2025).
Pendampingan seperti itu juga harus mengikuti tahap perkembangan anak. Advisory American Psychological Association menegaskan bahwa dampak media sosial pada remaja bergantung pada karakteristik pribadi anak, kondisi psikologis dan sosialnya, serta fitur platform yang ia gunakan. Advisory yang sama menyarankan bahwa pada awal masa remaja, kira-kira usia 10–14 tahun, kebanyakan anak masih memerlukan pemantauan orang dewasa yang berisi peninjauan, diskusi, dan pembinaan yang berkelanjutan; otonomi bisa ditambah perlahan seiring bertambahnya usia dan literasi digital anak. Ini berarti orang tua tidak seharusnya buru-buru melepas, tetapi juga tidak seharusnya mengontrol tanpa tujuan. Anak perlu didampingi sampai mampu mengelola dirinya sendiri, bukan dibiarkan berenang sendirian di ruang digital yang kompleks (American Psychological Association, 2023).
Selain itu, fokus orang tua tidak boleh berhenti pada pertanyaan “berapa lama anak menatap layar?” Penelitian Mallawaarachchi dkk. menunjukkan bahwa konteks penggunaan layar jauh lebih penting daripada sekadar jumlah waktunya. Dalam meta-analisis itu, lebih banyak program viewing dan paparan televisi latar berkaitan dengan hasil kognitif yang lebih buruk, sementara age-inappropriate content dan penggunaan layar orang tua selama rutinitas anak berkaitan dengan hasil psikososial yang lebih buruk. Sebaliknya, penggunaan layar bersama orang tua (co-use) berkaitan positif dengan hasil kognitif. Temuan ini sangat penting bagi orang tua: teknologi lebih mungkin menjadi hal positif ketika anak tidak dibiarkan sendiri bersama algoritme, tetapi didampingi, diajak berbicara, dan dibantu memahami isi yang ia tonton atau mainkan (Mallawaarachchi et al., 2024).
Pada saat yang sama, keseimbangan hidup anak harus tetap dijaga. WHO menegaskan bahwa pada anak kecil, screen-based sedentary time perlu dilihat bersama kebutuhan tidur dan aktivitas fisik dalam satu kesatuan 24 jam. Moreno dkk. juga menempatkan crowding out sebagai salah satu prinsip penting: media tidak boleh menyingkirkan aktivitas yang lebih mendasar bagi perkembangan, seperti tidur yang cukup, koneksi tatap muka, bermain aktif, dan pengaturan emosi yang sehat. Jadi, aturan penggunaan gadget akan jauh lebih masuk akal bila disusun dari kebutuhan hidup anak secara utuh, bukan dari kepanikan orang dewasa semata (World Health Organization, 2019; Moreno et al., 2024).
Peran orang tua juga mencakup perlindungan privasi dan keamanan digital. UNICEF mengingatkan bahwa dunia online memberi banyak peluang, tetapi juga membawa risiko mulai dari privasi, keamanan, sampai konten berbahaya. Dalam panduan privasinya, UNICEF menekankan bahwa setiap klik, unggahan, dan komentar meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus; karena itu orang tua perlu membantu anak melindungi identitas dan data pribadinya. Langkah-langkah yang dianjurkan sangat konkret: memperbarui perangkat, meninjau pengaturan privasi dan izin aplikasi, mengaktifkan kontrol orang tua bila perlu, memakai kata sandi yang kuat, dan membiasakan anak berhati-hati terhadap permintaan akses kamera, mikrofon, lokasi, dan kontak. Dengan kata lain, mendampingi anak di era gadget berarti juga mengajarkan kebijaksanaan digital, bukan sekadar sopan santun digital (UNICEF, n.d.-a; UNICEF, n.d.-b).
Semua ini penting karena bukti longitudinal terbaru tidak mendukung sikap santai yang menganggap penggunaan media digital akan “baik-baik saja dengan sendirinya.” Meta-analisis Teague dkk. terhadap 153 studi longitudinal menemukan kaitan yang konsisten antara penggunaan media digital dan luaran kesehatan serta perkembangan yang lebih buruk pada anak dan remaja, dengan asosiasi yang paling jelas pada penggunaan media sosial. Temuan mereka tidak mengarah pada kepanikan moral, tetapi justru menegaskan perlunya bimbingan yang lebih cermat, bernuansa, dan sesuai perkembangan anak. Karena itu, peran orang tua di era gadget paling tepat dipahami sebagai peran pengarah: membangun teladan, membuat batas yang masuk akal, membuka percakapan yang aman, memilihkan konteks penggunaan yang sehat, dan secara bertahap menolong anak menjadi pribadi yang mampu mengelola teknologi dengan tanggung jawab (Teague et al., 2026; American Psychological Association, 2023; Moreno et al., 2024).
DAFTAR REFERENSI
American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence.
Mallawaarachchi, S., Burley, J., Mavilidi, M., Howard, S. J., Straker, L., Kervin, L., Staton, S., Hayes, N., Machell, A., Torjinski, M., Brady, B., Thomas, G., Horwood, S., White, S. L. J., Zabatiero, J., Rivera, C., & Cliff, D. (2024). Early childhood screen use contexts and cognitive and psychosocial outcomes: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics.
Moreno, M. A., Radesky, J., Walsh, M. C., & Tomopoulos, S. (2024). The Family Media Plan. Pediatrics, 154(6), e2024067417.
Tan, C. Y., Xu, N., Liang, M., & Li, L. (2025). Meta-analysis of associations between digital parenting and children’s digital wellbeing. Educational Research Review, 49, 100699.
Teague, S., Somoray, K., Shatte, A., et al. (2026). Digital media use and child health and development: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics.
Toran, M., Kulaksız, T., & Özden, B. (2024). The parent–child relationship in the digital era: The mediator role of digital parental awareness. Children and Youth Services Review, 161, 107617.
UNICEF. (n.d.-a). Digital parenting.
UNICEF. (n.d.-b). Online privacy checklist for parents.
World Health Organization. (2019). Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age.
Zhang, J., Zhang, Q., Xiao, B., Cao, Y., Chen, Y., & Li, Y. (2025). Parental technoference and child problematic media use: Meta-analysis. Journal of Medical Internet Research, 27, e57636.
